Harga Elpiji Naik, Pemerintah Lepas Tangan

Pemerintah lepas tangan terkait keputusan PT Pertamina menaikkan harga jual elpiji ukuran 12 kg dan 50 kg.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro,pemerintah tidak mengatur harga elpiji 12 kg dan 50 kg lantaran bahan bakar tersebut tidak mendapat subsidi. ”Elpiji 12 kg tidak mendapat subsidi pemerintah, jadi diatur mereka (Pertamina) sendiri,” katanya di Jakarta kemarin.

Purnomo menjelaskan,sesuai aturan,jenis bahan bakar tertentu yang mendapat subsidi hanyalah premium,minyak tanah, solar dan elpiji 3 kg.Pemerintah mesti melakukan pembahasan terlebih dulu jika ingin memasukkan elpiji 12 kg sebagai barang subsidi. ”Kalau ada usulan silakan saja, tapi harus dibahas lagi dan tidak bisa langsung diterapkan,” katanya.

Seperti diberitakan,Pertamina menaikkan harga jual elpiji ukuran 12 kg secara bertahap mulai kemarin hingga mencapai harga keekonomian. Harga jual elpiji 12 kg dinaikkan Rp6.000 per tabung mulai 25 Agustus 2008, dari Rp63.000 menjadi Rp69.000. Adapun tingkat harga keekonomian saat ini Rp11.400 per kg atau Rp136.800 per tabung. Untuk yang 50 kg,Pertamina mengurangi diskon secara bertahap dari 15% yang berlaku sejak 10 April 2008 menjadi hanya 10%.

Sekretaris Menteri Negara BUMN Said Didu menuturkan, penentuan harga jual elpiji murni kebijakan korporasi, sehingga tidak ada kaitannya dengan pemerintah. ”Elpiji 12 kg tidak layak disubsidi karena yang mengonsumsi sebagian besar masyarakat mampu,”ujar Said Didu di Jakarta kemarin. Dia menilai wajar langkah Pertamina menaikkan harga jual elpiji. Jika tidak menaikkan harga,Pertamina justru akan dianggap merugikan negara.

”Untung-ruginya bisnis Pertamina dapat memengaruhi setoran dividen ke negara. Dengan demikian, suatu kewajaran jika Pertamina terus menaikkan harga elpiji 12 kg hingga mencapai harga keekonomian,”papar Said Didu. Vice President Komunikasi Pertamina Wisnuntoro menuturkan, dengan perhitungan konsumsi 1.000 ton per bulan, kenaikan harga elpiji Rp500 per kg per bulan akan menyebabkan Pertamina bisa berhemat Rp5 miliar per bulan.

Dengan demikian, setoran dividen ke negara diharapkan bisa bertambah Rp3 triliun hingga Rp4 triliun. ”Sebenarnya mutersaja uang itu. Kita menarik dana dari yang mampu untuk membantu yang lemah,”ungkapnya. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani menilai kebijakan Pertamina menaikkan harga jual elpiji ukuran12kgakan memicu terjadinya eksodus besarbesaran di tingkat konsumen.

Kalangan industri kecil dan menengah pengguna elpiji 12 kg akan beralih ke 3 kg. ”Karena itu pemerintah harus bisa menggenjot produksi. Kalau tersendat seperti sekarang ini bisa dipastikan akan terjadi kelangkaan elpiji 3 kg nantinya,” kata Franky. Tren pergeseran ini sudah terasa sejak kenaikan harga elpji 50 kg beberapa waktu silam.

Kenaikan itu memicu industri pengguna elpiji beralih ke tabung 12 kg dari sebelumnya 50 kg. ”Gas merupakan bahan bakar termurah.Pemerintah wajib memberikan jaminan pasokan bahan bakar ini bukan hanya kepada industri besar dan menengah, IKM juga perlu diperhatikan,”katanya.

Harga Melonjak

Di berbagai daerah harga jual elpiji 12 kg melonjak hingga mencapai Rp80.000 menyusul langkah Pertamina menaikkan harga pada ukuran tersebut. Pedagang menjual dengan harga tinggi karena saat membeli dari agen pun sudah seharga Rp71.000.

”Hari ini saya membeli di salah satu agen di Purwokerto, sudah Rp71.000 per tabung. Karena saya harus mengeluarkan ongkos transpor, maka saya menjualnya Rp80.000 per tabung,” ujar Ratmini, penjual elpiji di Sokaraja, Banyumas,kemarin. Nining, 35, ibu rumah tangga asal Kelurahan Berkoh, Kecamatan Purwokerto Selatan, mengatakan membeli elpiji dari pengecer dengan harga Rp78.000.

”Kalau sebelum kenaikan saya membeli dengan harga Rp70.000 per tabung, pagi tadi sudah naik menjadi Rp78.000,”ungkapnya. Di Purbalingga, harga elpiji relatif lebih rendah dibanding Purwokerto.Ratarata pengecer di Purbalingga masih menjual elpiji dengan harga Rp75.000.

”Saya menjualnya Rp75.000 karena dari agen harganya sudah naik.Itu masih harga sementara, kemungkinan besar akan terus naik,mungkin bisa menembus Rp81.000,” ucapnya. Dia mengatakan, jika harga elpiji terus naik,warga kemungkinan besar akan beralih ke minyak tanah.

Menurutnya, harga minyak tanah saat ini lebih stabil dibanding elpiji. Di Garut, Jawa Barat, sejumlah agen dan konsumen elpiji mengeluhkan kenaikan harga elpiji 12 kg dari Rp63.000 menjadi Rp69.000.

Selain khawatir mengalami kelangkaan, mereka mengeluhkan harga elpiji tingkat eceran yang jauh lebih mahal dari harga standar. Saat ini harga jual elpiji di tingkat eceran sudah mencapai Rp75.000 untuk tabung ukuran 12 kg.

”Kenaikan harga elpiji ini jelas berpengaruh bagi kami para agen. Paling tidak kenaikan tersebut membuat penghasilan kami berkurang. Saya juga harus menaikkan investasi minimal 9,5%. Dalam hal ini, saya meminta Depo Pertamina tetap menormalkan pasokan untuk menghindari kelangkaan gas elpiji,” kata Sobur, agen gas elpiji di Jalan Otista,Garut,kemarin siang.

Sobur kaget dengan kenaikan harga elpiji tersebut. Tidak seperti sebelumnya, kenaikan harga elpiji saat ini tidak disosialisasikan terlebih dulu kepada para agen. Di tingkat eceran, harga gas elpiji ukuran 12 kg mencapai Rp75.000. Mahalnya harga tersebut terjadi lantaran pengecer harus membeli gas dari distributor sehingga memerlukan ongkos kirim.

”Awalnya kan harga gas elpiji itu Rp51.000.Terus dari ketentuannya kan naik 17%, jadi harganya Rp63.000.Sekarang naik lagi jadi Rp69.000. Kalau di warung kita memerlukan ongkos, jadi dengan ongkos dari distributor,harga gas elpiji bisa mencapai Rp75.000,”kata Tatang, pemilik warung di kawasan KecamatanTarogong Kidul.

Di Jawa Timur,harga elpiji di pasaran langsung melonjak, begitu Pertamina menaikkan elpiji 12 kg sebesar Rp6.000 per tabung. Di wilayah Kabupaten Tuban harga elpiji 12 kg bahkan menembus Rp90.000, dari sebelumnya hanya berkisar Rp70.000–78.000.

Amankan Pasokan

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pemerintah harus mengamankan pasokan dan distribusi elpiji untuk meminimalkan potensi kenaikan laju inflasi.

”Memang, kenaikan harga elpiji tidak terlalu berdampak pada kenaikan laju inflasi karena lebih banyak dikonsumsi masyarakat kelas menengah dibanding minyak tanah. Tapi, bagaimanapun itu tetap harus dijaga guna mengantisipasi potensi kenaikan inflasi sekecil apa pun,”ujarnya.

Menurut Bambang,penjagaan pasokan dan distribusi elpiji bisa dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk partisipasi pemerintah daerah dalam mengelola risiko inflasi. (ferial thalib/zaenal muttaqien/agung kurniawan/ ridwan anshori/angga rosa/kastolani/ kuntadi/meta sukma/gin gin tigin ginulur/ soeprayitno/dili eyato/ nanang fahrudin/ ishomuddin)

Seputar Indonesia