Inflasi 6,2% Tercapai Pertengahan Tahun
Jakarta , Investor Daily
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tingkat inflasi 6,2% sesuai outlook pemerintah 2009 dapat tercapai pertengahan tahun ini.�Inflasi di 2009 akan positif dengan penurunan harga komoditas. Target inflasi 6,2% berdasarkan outlook indikator makro 2009 sepertinya tercapai enam bulan lebih cepat. Dengan penurunan itu, terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga,� ujar Menkeu dalam rapat kerja (raker) pemerintah dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (27/1).
Dalam paparannya, Sri Mulyani menjelaskan perkembangan inflasi tahunan (year on year/yoy)sejak 2000-2004 rata-rata mencapai 8,68%. �Sedangkan rata-rata inflasi pada 2005-2008 yakni 10,42% yoy,� ujar dia.
Pemerintah sejauh ini masih mematok pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 4,5-5,5% dengan nilai tengah 5%, suku bunga SBI tiga bulan 7,5%, dan harga minyak ICP US$ 45 per barel. �Kami juga memperkirakan pasar akan menerima asumsi nilai tukar Rp 11 ribu per dolar AS,� kata dia.
Sri Mulyani menjelaskan, laju permintaan domestik pada tahun ini 5,7% yang terdiri atas konsumsi masyarakat 4,8%, konsumsi pemerintah 10,4%, investasi 6,5%, ekspor 5,9%, serta impor 6,1%.
�Guna menjaga pertumbuhan ekonomi 5%, konsumsi rumah tangga harus tetap dijaga pada level 4,8%,� ucap Menkeu.
Menurut Sri Mulyani, dampak krisis ekonomi global pada 2009 membuat pendapatan negara turun 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Itu karena penerimaan pajak dan bea masuk berkurang Rp 58,95 triliun yang disebabkan oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi menjadi 4,5-5,5% dari 6,0%. �Hal itu ditambah kurs yang juga terkoreksi, dan harga minyak menurun,� kata dia.
Untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP), menurut Menkeu, bakal turun Rp 73,07 triliun atau 1,4% dari PDB akibat harga minyak dunia merosot lebih dari 50%. Sedangkan tambahan stimulus fiskal naik 0,2% dari PDB. Itu terjadi karena penambahan belanja subsidi dan infrastruktur Rp 10,2 triliun.
�Belanja negara turun 1,3% dari PDB. Ini karena subsidi turun Rp 43,54 triliun menyusul penurunan harga minyak dunia dan kebijakan BBM/listrik,� tutur Menkeu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono sebelumnya juga memperkirakan penurunan inflasi tahun ini bisa lebih cepat menyentuh level 5-6% dari prediksi semula. Angka inflasi tersebut bakal tercapai pada akhir tahun ini.
BI sebelumnya memperkirakan inflasi tahun ini turun hingga di kisaran 6,5-7,5%. Sedangkan inflasi tahunan pada Desember 2008 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) masih berkisar 11,06%.
�Inflasi akan jauh lebih rendah karena penurunan harga bahan bakar minyak sehingga harga-harga mulai turun. Pertengahan tahun sudah kelihatan penurunanannya. Bisa 5% pada akhir tahun,� ujar Boediono.
Februari Deflasi 0,2% Secara terpisah, ekonom Indef M Fadhil Hasan memprediksi, Februari 2009 akan terjadi deflasi 0,1-0,2%. Hal itu disebabkan oleh posisi nilai tukar rupiah yang mulai stabil sehingga tidak ada lagi imported inflation.
"Selain itu, harga bahan kebutuhan pokok stabil. Pertanyaannya adalah, apakah deflasi itu selamnya akan berdampak baik bagi perekonomian? Jawabannya, belum tentu, tergantung konteksnya," kata Fadil usai peluncuran Roadmap Penanaman Modal di Jakarta, Selasa.
Selain itu, menurut Fadhil, inflasi 2009 kemungkinan mencapai 5-6%. Dia mengakui, di satu sisi, ada prestasi pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, kata dia, tetap harus diperhatikan faktor lain yang turut memengaruhi daya beli masyarakat.
"Sekarang kan masih ada program bantuan langsung tunai (BLT). Nanti kami lihat seperti apa pengaruhnya," kata Fadhil. (eme)