Disepakati Kuota BBM Bersubsidi 2009 36,85 Juta Kiloliter
Komisi VII DPR dan pemerintah menyepakati kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam RAPBN 2009 sebesar 36,85 juta kiloliter.Kesepakatan tersebut dicapai dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Kamis (28/8) malam. Kuota 36,85 juta kiloliter tersebut terdiri dari premium 19,44 juta kiloliter, minyak tanah 5,8 juta kiloliter, dan solar 11,61 juta kiloliter.
Angka tersebut lebih rendah dua juta kiloliter dibandingkan kesepakatan raker Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM pada 4 Juni 2008 yang ditetapkan sebesar 38,85 juta kiloliter yang terdiri dari premium 20,44 juta kiloliter, minyak tanah 5,8 juta kiloliter, dan solar 11,61 juta kiloliter.
Selain itu, dalam raker kali ini disepakati pula program konversi pada 2009 ditargetkan mengalihkan volume minyak tanah bersubsidi sebesar empat juta kiloliter dengan 1,6 juta ton elpiji.
Target pengalihan minyak tanah pada 2009 itu lebih tinggi hampir dua juta kiloliter dibandingkan perkiraan realisasi 2008 yang mencapai 2,013 juta kiloliter dengan konsumsi elpiji 1,144 juta ton.
Menurut Purnomo, pemerintah optimis dengan target kuota minyak tanah bersubsidi dengan adanya program konversi dan kartu kendali. Namun, lanjutnya, pemerintah akan bekerja keras memenuhi kuota premium dan kompor bersubsidi.
"Kuota premium dan solar bersubsidi masing-masing turun satu juta kiloliter dibandingkan kesepakatan raker lalu. Kami akan berupaya memenuhinya," katanya.
Menurut Purnomo, pemerintah akan membatasi pemakaian premium dan solar bersubsidi melalui penerapan disinsentif fiskal kendaraan bermotor. "Pertamina juga akan memperbanyak pembukaan SPBU yang menjual BBM non-subsidi," katanya.
Sebelumnya, Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo mengatakan, pemerintah akan menjalankan program konservasi dan diversifikasi guna mencapai target kuota BBM bersubsidi tersebut.
Program konservasi yang dilakukan antara lain melakukan kampanye dan sosialisasi hemat energi dan pemakaian minyak bakar pada pembangkit. Sedang diversifikasi BBM bersubsidi, selain program konversi minyak tanah ke elpiji, juga pemanfaatan bahan bakar nabati melalui kewajiban pada industri, transportasi, dan pembangkit, pemakaian CNG dan LGV, serta gas kota. (Ant/OL-03)
Media Indonesia