Menteri Keuangan Sri Mulyani: Negara-negara Berpendapatan Rendah Paling Terdampak
Jakarta, Sinar Harapan - Krisis global yang berawal di Amerika Serikat (AS) paling berpengaruh pada negara-negara berkembang dan berpendapatan rendah. Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, negara-negara ini akan menderita lebih dulu. Itu sebabnya dalam pertemuan para pemimpin G20 nanti diperlukan beberapa inisitatif.Inisiatif-inisiatif itu, kata Sri Mulyani, adalah bagaimana mengatasi pembiayaan perdagangan, memproteksi atau melindungi negara-negara berpendapatan rendah supaya tidak kian rawan terkena dampak krisis global.
Selain itu, bank-bank pembangunan di dunia akan diminta mengucurkan dana sebanyak US$ 150 miliar untuk membantu pembiayaan negara berkembang.
World Bank, Asian Development Bank, Inter American Development Bank, African Development Bank, dan Islamic Development Bank meningkatkan jumlah lending mereka selama masih memungkinkan dari sisi capital. Makanya ADB minta dinaikkan sampai dengan dua kali lipat. Jumlah yang sekarang ada hanya mungkin mencapai US$ 150 miliar, tetap akan ada short, katanya, Selasa (24/3).
Dalam pertemuan G20 di London pada Jumat, Sabtu, dan Minggu pekan ini akan juga dibahas mengenai penyehatan perbankan di AS dan Eropa. Salah satu yang dibahas secara lebih detail oleh beberapa menteri keuangan dan bank sentral adalah treatment atas toxic asset di perbankan. �Karena itu adalah salah satu bagian dari kanker yang harus segera keluar dari neraca, bagaimana cara penyelesaian mereka,� katanya.
Sri Mulyani mengatakan kehadiran AS dalam pertemuan G20 untuk tingkat menkeu dan gubernur bank sentral, memberikan semacam jaminan bahwa pemerintah AS memahami sekali betapa kritisnya tindakan-tindakan yang harus dilakukannya. Ini perlu supaya seluruh perekonomian dunia tidak terkena pengaruh negatif dari kondisi perekonomian Amerika, terutama sektor keuangannya yang masih belum pulih.
Hal ini diwujudkan melalui dua langkah. Pertama, pada minggu lalu Federal Reserve sudah melakukan injeksi likuiditas dengan sangat besar, yaitu US$ 1,5 triliun dalam perbankan AS. Awal pekan ini, Menkeu AS juga menyampaikan rencana untuk menangani toxic assets secara lebih detail. Dengan dua tindakan ini, plus tambahan adanya paket stimulus yang akan diumumkan Presiden Obama, seluruh anggota G20 berharap bahwa confidence, terutama terhadap prospek perekonomian AS, menjadi lebih positif yang akan berpengaruh pada seluruh global perekonomian.
�Ini tentu saja sangat urgent karena dengan kondisi ekonomi dunia yang sekarang sudah pada proyeksi ekonomi negatif 0,5 sampai minus 1,5, maka seluruh dunia diprediksi akan sangat sulit bisa mempertahankan positive growth. Jadi negara-negara mana pun yang bisa mampu mencetak economic growth tahun 2009 ini dengan angka positif, meskipun kecil sekalipun, itu sudah dianggap prestasi yang luar biasa,� katanya.