APEC Finance Deputies Meeting dan APEC Workshop on Financial Inclusion, San Francisco, Amerika Serikat, 22-24 Februari 2011
Pada hari Selasa-Kamis (22-24/02) di San Fransisco, Amerika Serikat telah dilaksanakan APEC Meeting & Workshop. Bertindak selaku tuan rumah pertemuan APEC ini adalah Department of Treasury Amerika Serikat dan dihadiri oleh para anggota ekonomi APEC serta para wakil lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank, IMF, dan ADB. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan dengan anggota delegasi dari pejabat dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, dan Bank Indonesia.
APEC Finance Deputies’ Meeting dilaksanakan tanggal 22 Februari 2011 dan dihadiri oleh 20 Ekonomi Anggota APEC (Papua New Guinea berhalangan hadir), perwakilan APEC Business Advisory Council (ABAC), dan perwakilan organisasi keuangan internasional, antara lain International Monetary Fund (IMF), World Bank (WB), dan Asian Development Bank (ADB). Agenda pertemuan meliputi Economic Outlook and Policy Challenges for the APEC Region, Trends in Capital Flows to the Asia-Pacific Region and Policy Implications, dan Rebalancing in the APEC Region (with Special Focus on Investment).
Pada tema “Economic Outlook and Policy Challenges for the Asia-Pacific Region�, IMF mempresentasikan gambaran perekonomian secara umum di kawasan Asia Pasifik serta tantangan yang dihadapi. Kemudian pada sesi “Trends in Capital Flows to the Asia-Pacific Region and Policy Implications� terjadi perdebatan terkait kebijakan yang tepat untuk mengatasi risiko overheating akibat capital inflows. Chief Economist, International Affairs, US. Treasury Department, Mr. Michael Klein menyampaikan bahwa capital flows dapat memberikan dampak yang berbeda tergantung dari kemampuan masing-masing ekonomi (kualitas supervisi, level of reserves, fleksibilitas capital market, peraturan, dll). Ekonomi dengan overvalued exchange rate hanya akan mengakibatkan capital crowding out, undervalued exchange rate akan mengakibatkan overshooting/overheating. Tindakan Ekonomi yang melakukan penaikan interest rates untuk menghindari risiko overheating hanya akan memindahkan masalah. Sedangkan capital control akan berdampak pada komposisi capital flows. Dalam menghadapi risiko overheating ekonomi sebaiknya menerapkan targeted prudent macroeconomic policies pada sumber permasalahan. Sedangkan pada sesi ketiga dengan tema “Rebalancing in the APEC Region (with Special Focus on Investment)�, perwakilan IMF menyampaikan bahwa walaupun di Amerika Latin dan Asia menunjukkan pertumbuhan yang relatif tinggi, namun keduanya sangatlah berbeda. Pertumbuhan di Amerika Latin didorong oleh domestic demand, sedangkan Asia didorong oleh tingkat ekspor.
Sementara itu APEC Financial Inclusion Workshop telah diselenggarakan di San Fransisco, Amerika Serikat pada tanggal 23-24 Februari 2011. Workshop tersebut dihadiri oleh 20 Ekonomi Anggota APEC (Papua New Guninea berhalangan hadir), perwakilan APEC Business Advisory Council (ABAC), dan perwakilan organisasi keuangan internasional, antara lain International Monetary Fund (IMF), World Bank (WB), Asian Development Bank (ADB), CGAP (Consultative Group to Assist the Poor), dan Alliances for Financial Inclusion (AFI), serta perwakilan dari perusahaan swasta antara lain Citi Foundation dan Mastercard.
Workshop ditujukan untuk menyampaikan guidance yang bersifat konkret dan practical bagi pembuat kebijakan untuk mengembangkan penggunaan jasa keuangan oleh rumah tangga, perseorangan, wiraswasta, sehingga strategi kebijakan financial inclusion diharapkan dapat disesuaikan/ tailor made sesuai dengan kebutuhan masing-masing ekonomi. Workshop dibagi ke dalam tujuh sesi, antara lain: (i) The Challenge,(ii) Leadership in Practice, (iii) Building Knowledge of Consumer Demand, (iv) Financial Viability for Service Providers, (v) Inclusion Friendly Government-to-Person Payments (G2P), (vi) Building Consumer Financial Capacity, (vii) Putting Ideas to Work.
Dalam membahas upaya rebalancing economies, Ekonomi APEC lebih menitikberatkan kepada kerja sama penguatan peran sektor riil seperti infrastruktur dan investasi dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, meningkatkan potensi pertumbuhan dan permintaan agregat sehingga lebih melengkapi pembahasan isu eksternal imbalance yang dibahas dalam G-20 yang mencakup berbagai aspek baik konsolidasi fiskal, kebijakan moneter yang tepat, kebijakan nilai tukar, kebijakan reformasi sektor keuangan, dan kebijakan lainnya seperti kebijakan reformasi struktural.
Indonesia sebagai Chair ASEAN 2011, harus dapat mensinergiskan dan memperkuat peran regional ASEAN terhadap berbagai isu ekonomi dan keuangan sekaligus memberikan inisiatif yang inovatif terkait upaya dalam menyeimbangkan perekonomian global.
Terkait hasil pertemuan deputi keuangan APEC di San Fransisco tersebut, Kementerian Keuangan akan melakukan upaya tindak lanjut dengan instansi terkait dan seluruh stakeholders proses APEC Indonesia, khususnya terkait substansi dan agenda pertemuan yang akan dibawa pada pertemuan tingkat lebih tinggi (Finance Ministers’ Meeting dan Leaders’ meeting) di Hawaii, Amerika Serikat nanti. Disamping itu, Kementerian Keuangan bersama-sama Bank Indonesia akan menindaklanjuti posisi sebagai co-sponsor untuk penyelenggaraan Workshop on Financial Inclusion berikutnya di Jakarta dan rencana Workshop on Infrastructure PPP Initiative di Indonesia bersama sponsor utama Amerika Serikat.