Seminar Kebijakan Fiskal dan Ekonomi Terkini di Jayapura
Jayapura (26/3): Bertempat di The Bistro, Hotel Aston Jayapura, Badan Kebijakan Fiskal bekerja sama dengan Universitas Cenderawasih menyelenggarakan Seminar Kebijakan Fiskal dan Ekonomi Terkini 2013. Para undangan berasal dari universitas, sekolah tinggi, pemerintah daerah, instansi swasta, serta instansi vertikal Kementerian Keuangan di Jayapura.
Mewakili Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura, Josephus Ronsumbre, Dekan Fakultas Ekonomi, menjelaskan sekilas mengenai latar belakang acara seminar, sekaligus memukul tifa untuk menandai dibukanya rangkaian acara seminar.
Sesi seminar dipandu oleh Wakil Dekan FE Universitas Cenderawasih, Julius Ary Mollet, Ph.D., sebagai moderator. Bertindak sebagai pembicara pertama adalah Hidayat Amir, Ph.D., Peneliti Madya Badan Kebijakan Fiskal, membawakan topik “APBN dan Outlook Ekonomi 2013”. Hidayat menjelaskan secara detail mengenai konsep umum kebijakan fiskal, fiscal space vs mandatory spending, kehati-hatian dalam kebijakan fiskal, kualitas belanja, prioritas belanja APBN, sistem subsidi energi terbuka, arah kebijakan fiskal 2013, perkembangan perekonomian domestik, serta outlook ekonomi 2013.
Melanjutkan bahasan mengenai APBN 2013, Agunan Samosir, S.E., M.E., Peneliti Madya Badan Kebijakan Fiskal, memberikan paparan mengenai “Kebijakan Fiskal Nasional dan Kebijakan Desentralisasi Fiskal Terkini”. Agunan menjelaskan bagaimana hubungan keuangan antara Pusat dengan Daerah saat ini dan ke depan, serta evaluasi terkait implementasi selama ini.
Melengkapi sesi paparan pembicara, Drs. Josephus Ronsumbre, M.Si. memaparkan pandangan akademisi mengenai “Kebijakan Subsidi BBM”. Di akhir paparannya, Josephus memberikan beberapa rekomendasi mengenai kebijakan subsidi BBM, diantaranya yaitu perbaikan distribusi BBM dan penyesuaian harga untuk mengurangi beban subsidi BBM. Ilustrasi yang sangat menarik disajikan oleh Josephus: Jika di Papua tidak ada BBM, orang masih bisa menempuh jarak dengan jalan kaki, namun jika tidak ada air, kehidupan tidak bisa berjalan. Jadi, kebutuhan primer tiap-tiap daerah tidak melulu pada BBM bersubsidi.
Dengan keluwesannya, moderator mampu membuat sesi diskusi berjalan sangat interaktif. Pada sesi ini, hampir seluruh peserta sangat antusias mengajukan pemikiran dan pertanyaannya. Karena latar belakang peserta seminar berbeda-beda, pertanyaan yang diajukan pun sangat beragam, mulai dari kemiskinan, ekspor impor, infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, bahkan sampai dengan pembintangan anggaran di DPR. Sangat variatifnya pertanyaan dari peserta tak ayal membuat pembicara semakin tertantang untuk memberikan jawaban terbaiknya.
Partisipan yang paling menarik adalah Elisabeth dari Kabupaten Keerom, yang menyatakan bahwa tidak semua kebijakan pemerintah pusat bisa efektif dijalankan di daerah, karena karakter daerah sangat berbeda-beda. Yang efektif berjalan di Jayapura pun belum tentu berjalan efektif di Kab. Keerom, begitu pula sebaliknya. Menurutnya, perlu dilakukan diskusi ilmiah untuk mencari kebijakan yang paling pas di tiap-tiap daerah. Atas usul ini, di akhir acara moderator memilih Elizabeth untuk mendapatkan salah satu dari empat doorprize yang disediakan panitia. (bu/kh/hp)