Seminar Dukungan Ekonomi Terhadap Kebijakan Hilirisasi Pertambangan Umum
Manado (22/5): Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bekerjasama dengan Badan Kebijakan Fiskal dan PT. Bank Mandiri, Tbk menyelenggarakan seminar dukungan ekonomi terhadap kebijakan hilirisasi pertambangan umum di Hotel Aryaduta, Manado. Dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Utara dan Pejabat Daerah terkait, anggota ISEI Pusat dan Daerah, Kementerian Keuangan, BI dan tentunya Para Akademisi dan Para Ekonom Daerah.
Pada kesempatan ini Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara membuka dan memberikan sambutannya. Gubernur menyampaikan bahwa Sulut memiliki potensi-potensi sumber daya alam yang ada, terutama yang terbesar adalah Kelapa, Pala, Perikanan. Potensi lainnya harus dikembangkan seperti sektor pertambangan dengan memperhatikan keadilan distribusinya, kesejahteraan masyarakat dan dampak lingkungan sekitarnya. Gubernur juga mengucapkan terima kasih kepada ISEI khususnya cabang Sulawesi Utara yang menurutnya hidup dan membantu dalam hal peningkatan perekonomian di kawasannya. Melanjutkan sambutan Gubernur Sulut, Yoopi Abimanyu mewakili Kepala Badan Kebijakan Fiskal memberikan keynote speech untuk mengarahkan seminar ini sebagai sosialisasi khususnya kebijakan hilirisasi pertambangan umum dan mencari masukan kepada pemerintah serta mencari solusi bersama pada permasalahan-permasalahan yang ada dilapangan pada sektor pertambangan.
Memasuki sesi pertama seminar yang dimoderatori oleh Yoopi Abimanyu (Peneliti senior BKF), menghadirkan tiga narasumber. Narasumber pertama Syaiful Hidayat (Kepala Subdirektorat Operasi, Produksi dan Pemasaran Mineral, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Mineral, Ditjen Minerba, Kementerian ESDM) menyampaikan kebijakan peningkatan nilai tambah mineral. Tercakup didalam presentasinya, Syaiful menjelaskan mengenai potensi sumber daya mineral di Indonesia, progres peningkatan nilai tambah mineral, Pengolahan dan pemurnian hasil tambang mineral, fasilitas dan upaya yang diberikan oleh pemerintah serta peraturan-peraturan yang harus diperhatikan untuk peningkatan nilai tambah mineral.
Supriyadi, Staf ahli Menko Perekonomian sebagai narasumber kedua, menyampaikan presentasinya yang berjudul Dukungan Kebijakan di Bidang Infrastruktur. Beliau menjelaskan unsur-unsur dan perhitungan dalam mencapai nilai keekonomian dalam hal produksi pertambangan apabila dikaitkan dengan fasilitas infrastruktur yang mendukung lokasi pertambangan tersebut seperti pembangkit listrik dan tarifnya, sarana jalan dan pelabuhan, serta pembangunan smelter untuk pemurnian hasil tambang.
Narasumber ketiga, Astera Primanto Bhakti (Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, BKF), menyampaikan mengenai Kebijakan Fiskal Bagi Kegiatan Hilirisasi Pertambangan. Beliau menjelaskan beberapa topik diantaranya gambaran cadangan mineral dan ekspor mineral, legal base kebijakan hilir pertambangan mineral, roadmap hilirisasi pertambangan, Fiscal Policy Terms (Dukungan insentif dan protektif fiskal, Investment allowance dan Tax holiday), dan kendala hilirisasi pertambangan mineral. Sebelum sesi pertama berakhir, dilakukan tanya jawab antara peserta dan narasumber yang beberapa diantaranya pertanyaan mengenai ekspor, pembiayaan untuk smelter, pembangkit listrik untuk smelter, penyandang dana untuk sektor pertambangan.
Sesi Kedua pada seminar ini menghadirkan empat narasumber yang dimoderatori oleh Siska Indirawati (Kepala Bidang Data Ekonomi Makro dan Administrasi Pengkajian, BKF). Narasumber pertama, Clayton Allen Wenas (Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia) menjelaskan presentasinya mengenai Peran Pelaku Industri dalam mendukung kebijakan hilirisasi. Agus Tony Paputra (Fakultas Ekonomi, Universitas Sam Ratulangi) menyampaikan Peran ekonom dalam mendukung kebijakan Hilirisasi.
Destry Damayanti (Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk.) sebagai narasumber ketiga, dalam paparannya dijelaskan Peluang dan Tantangan Sektor Perbankan dalam mendukung sektor pertambangan. Narasumber terakhir, Charles Kepel (Direktur Perencanaan Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Manado-Bitung) memaparkan Peran Dukungan Pemda dalam pemanfaatan Tambang Mineral dan Batu Bara. Sesi kedua juga diakhiri dengan tanya jawab peserta dan narasumber. (aam/gh)