Seminar Kebijakan Fiskal 2013 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Bengkulu
Bengkulu (05/07): Kegiatan Regional Economist berupa Seminar dengan tema “Kebijakan Fiskal 2013 dan Perkembangan Ekonomi Terkini” di Hotel Hotel Raffles City Bengkulu, adalah kegiatan kesembilan dari serangkaian acara Kementerian Keuangan yang telah diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia yaitu Jayapura, Pekanbaru, Medan, Manado, Balikpapan, Banda Aceh, Yogyakarta, dan Pangkal Pinang. Kegiatan yang diprakarsai oleh Badan Kebijakan Fiskal dan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, serta bekerja sama dengan Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu ini, bertujuan untuk menyampaikan kebijakan pemerintah kepada para akademisi dan masyarakat Provinsi Bengkulu agar dapat memberikan feed back dan respon positif dari stakeholders terutama terkait Perkembangan Perekonomian Terkini, Pokok-Pokok Kesepakatan APBN-P 2013, dan Kebijakan Pengendalian Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pejabat yang hadir adalah Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jambi, Pejabat Pemda setempat, serta para akademisi dari Universitas Bengkulu. Dihadiri sekitar 100 orang peserta, acara seminar ini dibuka oleh Maurin Sitorus, selaku Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Bengkulu, yang juga merupakan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu. Dalam sambutannya, Maurin Sitorus menyampaikan bahwa kegiatan seminar ini diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat khususnya di Provinsi Bengkulu terkait kebijakan pemerintah khususnya mengenai penyesuaian harga BBM dan kompensasinya dalam rangka mitigasi dampak dari penyesuaian harga tersebut, Pokok-Pokok Kesepakatan APBN Perubahan 2013, serta dapat membangun diskusi yang positif mengenai kondisi perekonomian terkini, baik skala nasional maupun lokal di Provinsi Bengkulu.
Seminar ini dimoderatori oleh Syaiful Anwar yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini ialah Rofyanto Kurniawan, Kepala Pusat Kebijakan APBN BKF, Abdurohman, Kepala BIdang Analisis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF, dan Purmini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu dan Tim Penyusun KFR Kanwil DJP Provinsi Bengkulu.
Sesi pertama disampaikan oleh Abdurohman yang memaparkan Perkembangan Perekonomian Terkini Indonesia. Abdurohman mengawali penjelasannya dengan brainstorming kepada peserta mengenai bagaimana kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi kondisi ekonomi makro suatu negara. Beliau juga menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh tinggi dan stabil terutama dalam satu dekade terakhir. Bahkan, berdasarkan survei internasional, Indonesia menjadi salah satu negara favorit investor, yang tentunya ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah unuk menggerakkan perekonomian nasional dan lokal. Dalam kesempatan tersebut, juga dijelaskan hal-hal terkait perubahan asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN Perubahan 2013, dimana hal tersebut merupakan respon pemerintah dalam mitigasi risiko ketidakpastian perekonomian global saat ini yang dapat mempengaruhi perkonomian nasional.
Pembicara selanjutnya dalam sesi kedua ialah Rofyanto Kurniawan. Beliau fokus menjelaskan mengenai pokok-pokok perubahan yang menjadi kesepakatan pemerintah dengan DPR dalam APBN Perubahan 2013 dan kebijakan pengendalian subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Rofyanto Kurniawan menjelaskan dengan detail bagaimana situasi menjelang pembahasan dengan DPR khususnya mengenai kebijakan penyesuaian harga BBM. Situasi dan kondisi masyarakat relatif kondusif terkait kebijakan ini dikarenakan mulai banyak yang memahami mengapa pemerintah perlu melakukan kebijakan penyesuaian harga BBM. Latar belakang perlunya kebijakan ini ialah untuk menyelamatkan APBN 2013, karena tanpa pengendalian BBM, defisit anggaran diperkirakan di atas 3% dari PDB dan hal tersebut tidak diizinkan oleh UU. Selain itu agar subsidi BBM ini lebih tepat sasaran dan memenuhi rasa keadilan dan mencegah penyalahgunaan konsumsi BBM, karena harga BBM di Indonesia adalah yang paling murah dibandingkan dengan negara tetangga. Dijelaskan juga bahwa Kebijakan Pengendalian Subsidi BBM yang diambil pemerintah bermanfaat untuk menjaga sustainabilitas fiskal dan dalam jangka panjang mampu memperbaiki kualitas belanja negara dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur, diversifikasi energi, serta menjaga ketahanan energi nasional. Dalam substansi APBN-P, dipaparkan juga mengenai kompensasi atas penyesuaian harga BBM tersebut kepada masyarakat diantaranya adalah Program Percepatan dan Perluasan Perlindungan Sosial (P4S) dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).
Sesi ketiga membahas mengenai Perkembangan Ekonomi Provinsi Bengkulu yang disampaikan oleh Purmini. Dijelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi pendapatan perkapita masih lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Harga-harga cenderung lebih mahal, disebabkan tingkat inflasi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Yang memprihatinkan ialah kondisi infrastruktur terutama jalan, yang lebih dari 30 % dalam kondisi rusak. Beliau juga menjelaskan bahwa untuk wilayah Sumatera, Provinsi Bengkulu lah yang paling rendah dalam hal daya saing untuk investasi, padahal kondisi alam Bengkulu cukup baik untuk mengundang investor sehingga bisa menggerakkan perekonomian lebih baik lagi sehingga bisa menurunkan angka kemiskinan Provinsi Bengkulu yang masih di atas rata-rata nasional. Menutup penjelasannya, Purmini menyampaikan rekomendasi diantaranya ialah pemberdayaan masyarakat lokal dalam rangka diversifikasi usaha dan pekerjaan, percepatan pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kapasitas sumber daya aparatur pemerintah daerah khususnya dalam hal pengelolaan keuangan dan perencanaan pembangunan daerah.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang juga merupakan bagian akhir dari seminar ini. Antusiasme para peserta seminar sangat baik pada sesi ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan kepada para pembicara. Beberapa media lokal juga turut meliput seminar ini, diantaranya ialah Harian Rakyat Bengkulu, RRI, Antara, dan Radar Kepahyang. Seminar akhirnya ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. (TT/GCW)