Seminar Kebijakan Fiskal 2013 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Bandung
Bandung (04/09) Rangkaian kegiatan Regional Economist kini dilaksanakan di Bandung, tepatnya di The Luxton Bandung. Seminar “Kebijakan Fiskal dan Perkembangan Ekonomi Terkini” dimulai pukul 09.00 WIB dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan. Dalam opening remaks, Ki Agus Badarudin sedikit mengulas tentang format baru kegiatan regional ekonomist yang lebih menguatkan intansi vertikal Kementerian Keuangan di daerah untuk memahami substansi ekonomi baik nasional maupun lokal serta progres kegiatan regional economist. Tahun 2012 terdapat 14 (empat belas) orang anggota dan pada tahun ini bertambah menjadi 22 orang, dan diusahakan mencakup seluruh wilayah yang ada di Indonesia.
Hal lain dikatakan terkait progres kegiatan regional economist yang dirasakan memberikan banyak manfaat dalam menambah pengetahuan terkait kebijakan fiskal terkini dan perekonomian global, memberikan gambaran dalam kegiatan penyusunan APBN antara Pemerintah dengan DPR, serta menjadi sarana komunikasi yang efektif antara Kementerian Keuangan dengan para ekonom di daerah. Seminar di Bandung ini merupakan acara seminar ke-XIII, setelah sebelumnya dilaksanakan di Jayapura, Yogyakarta, Banda Aceh, Pekanbaru, Medan, Pangkal Pinang, Malang, Balikpapan, Maluku, Bengkulu, Palangkaraya, dan Jakarta. Penyelenggaraan acara ini diharapkan akan menjadi wadah yang tepat untuk menyampaikan masukan-masukan terkait kebijakan pemerintah, memberikan informasi kepada daerah seputar kebijakan ekonomi terkini, mengidentifikasi berbagai masalah ekonomi, serta menjadi tempat pertukaran informasi antara para ekonom dan akademisi dengan Kementerian Keuangan.
Mengakhiri opening remarks-nya, Ki Agus Badarudin berpesan “...janganlah bosan-bosan untuk memberikan masukan kepada kami, baik untuk kegiatan regional economist maupun masukan tentang rekomendasi ataupun evaluasi terhadap kebijakan ekonomi yang ada...”.
Hadir pula dalam seminar ini, Kepala Biro KLI Kementerian Keuangan, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, dan para Kakanwil Kementerian Keuangan di Bandung. Antusiasme seminar sangatlah luar biasa dengan banyaknya peserta seminar yang berjumlah 176 orang yang berasal dari intansi vertikal Kementerian Keuangan di daerah, Pemda setempat, mahasiswa, dosen, serta media lokal.
Acara dilanjutkan dengan paparan dari para pembicara yaitu Luky Alfirman (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan) dan Rabit Hattari (Senior Asian Development Bank Jakarta). Seminar di pandu oleh moderator Nurry Effendi (Dekan Fakultas Ekonomi Padjajaran).
Timing seminar ini sangat tepat dikala kondisi ekonomi Indonesia sedikit lesu dan kurs mencapai hampir Rp.11.000. Hal tersebut diungkapkan Nurry Effendi ketika mengawali jalannya seminar.
Pembicara pertama membahas perkembangan perekonomian terkini dan respon kebijakan. Mengawali paparan luky Alfirman mengatakan bahwa sampai saat ini fundamental ekonomi kita sangatlah sehat dan kuat dan membuat iri negara-negara lain. Hal tersebut dibuktikan dengan pertumbuhan yang terus meningkat, grafik investasi yang terus meningkat meskipun terdapat perlambatan investasi dalam komponen pertumbuhan ekonomi (PMTB). Share terbesar PMA terus didominasi oleh sektor manufaktur.
Mengenai respon kebijakan terhadap kondisi perekonomian sekarang, Pemerintah mengeluarkan paket kebijakan, dilengkapi oleh paket kebijakan moneter dari BI, dan langkah-langkah antisipasi dari OJK yang bekerja secara simultan dan saling melengkapi untuk mengatasi permasalahan dan tekanan yang dihadapi. Dalam memperbaiki neraca transaksi berjalan dan nilai tukar, pemerintah melakukan 5 (lima) langkah kebijakan yaitu dengan mendorong ekspor dengan paket insentif fiskal untuk industri padat karya dan ekspor, menurunkan Impor migas melalui peningkatan porsi biodiesel dalam porsi solar sehingga mengurangi konsumsi solar, Pengenaan tambahan Pajak Barang Mewah sebesar 25% sd 50% pada produk yang berasal dari Impor seperti mobil CBU, branded product, mendorong ekspor mineral dengan relaksasi prosedur terkait dengan kuota dan Clear and Clean.
Sementara itu dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat pemerintah tetap memastikan defisit anggaran 2013 sebesar 2,38%, sehingga pembiayaan APBN-P 2013 tetap dalam batas aman. Hal tersebut dilakukan dengan insentif jangka pendek dan insentif jangka panjang. Dalam kebijakan mempercepat investasi, pemerintah melakukan penyederhanaan perizinan dengan mengefektifkan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan menyederhanakan jenis-jenis perizinan yang menyangkut kegiatan investasi, mempercepat penerbitan Revisi Peraturan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi (DNI), mempercepat program-program investasi berbasis agra dan mineral logam, Debotlenecking penyelesaian masalah proyek-proyek investasi strategis yang menjadi proyek pembangkit tenaga listrik, migas, pertambangan mineral, infrastruktur. Disisi menjaga laju inflasi, pemerintah akan mengatasi komponen inflasi harga bergejolak (volatile food) dengan mengubah tata niaga daging sapi dan produk hortikultura dari pembatasan kuantitas atau kuota, menjadi mekanisme yang mengandalkan harga. Serta ada beberapa kebijakan yang masih dikaji konversi gas untuk transportasi publik dan pemberian insentif untuk produksi barang setengah jadi/intermediate goods, serta, Perbaikan Insetif Perpajakan: Tax Holiday dan Tax Allowance.
Rabin Hattari sebagai pembicara kedua membahas tentang pengelolaan PBB P2 oleh Pemda. Dalam paparannya lebih membahas tentang potensi, tantangan dan alternatif solusi yang akan dilakukan setelah ditemukannya beberapa temuan dalam masalah ini. Beberapa masalah yang ditemukan adalah prosedur pelayanan yang ada pada DJP berbeda secara struktur organisasi yang ada pada Pemda, sehingga menyulitkan dalam pengembangan SOP, belum semua prosedur ditetapkan dengan Perbup/Perwali, sehiingga menyebabkan ketidakpastian hukum, kesiapan pihak penerima pembayaran, dalam hal ini BPD, belum siap secara sistem informasi.
Acara di akhiri dengan sesi tanya jawab dan makan siang (AR)





