Seminar Kebijakan Fiskal 2013 dan Perkembangan Ekonomi Terkini

Lampung (19/09) Regional Economist (RE) ke-18 dilaksanakan di Hotel Novotel lampung dan dibuka oleh Peni Hirjanto Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bengkulu dan Lampung serta di hadiri oleh 125 peserta yang berasal dari intansi vertikal Kementerian Keuangan di Provinsi Lampung, akademisi, dan pemda setempat. Dalam sambutannya Peni Hirjanto menekankan begitu sentralnya peran Kementerian Keuangan yang identik dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sehingga Kementerian Keuangan masih butuh sinergi dengan semua elemen masyarakat di daerah.

Hadir pula dalam kesempatan ini Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Provinsi Lampung.

Acara dilanjutkan dengan seminar yang dipandu oleh moderator DR. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., Lektor dan dosen tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Lampung. Pembicara adalah Abdurohman (Kepala Bidang Analisis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal), Rofyanto Kurniawan (Kepala Pusat Kebijakan APBN, Badan Kebijakan Fiskal), dan Prof. Dr. Bambang Juanda (Ekonom Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB).

Abdurohman sebagai pembicara pertama menjelaskan tentang perkembangan perekonomian terkini dan respon kebijakan dengan outline : Indonesia economy at a Glance, perkembangan terkini ekonomi global, perkembangan terkini ekonomi domestik, dan respon kebijakan. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sampai saat ini masih sangat baik yang di tandai dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan total investasi yang masih aman. Bukti lain adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif paling stabil dibandingkan negara anggota G20, BRICS, dan ASEAN serta Global Competitiveness Index (GCI) Indonesia meningkat tajam yang tajam hingga 12 poin ke peringkat 38, hal itu disebabkan karena perbaikan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, fasilitas air, dan pembangkit listrik.

Kondisi perekonomian dunia untuk kedepannya diproyeksikan negatif. Sementara perekonomian ASEAN diproyeksikan cenderung stabil. Harga minyak diproyeksikan turun untuk tahun depan, akan tetapi dengan adanya konflik di Timur Tengah sempat menaikkan harga minyak dunia beberapa waktu lalu. Pada kuartal 1 tahun 2013, neraca pembayaran dan neraca perdagangan barang mengalami defisit, sementara transaksi modal dan finansial kembali positif setelah pada kuartal sebelumnya mengalami defisit.

Pembicara kedua adalah Rofyanto Kurniawan yang menjelaskan kebijakan fiskal 2014 dan kebijakan subsidi BBM. Berbagai analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3%, sehingga bisa dipastikan kondisi perekonomian tahun 2013 tidak lebih baik dari tahun 2012. Kenyataan sekarang SAL APBN kita semakin berkurang sehingga kita terpaksa harus mengurangi subsidi BBM dengan menaikan harga BBM. Sekilas dibahas potret pencapaian asumsi dasar ekonomi makro (pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat suku bunga SPN 3 bulan, nilai tukar rupiah, harga minyak dunia, lifting minyak, dan lifting gas), di tahun 2013 dan penetapan indikator ekonomi makro tahun 2014 berdasarkan kesepakatan antara pemerintah dengan komisi XI DPR RI.

Sementara itu porsi subsidi sudah menurun yang tadinya 40% ditahun 2008 menjadi 27% pada tahun 2014. Namun demikian dengan terjadinya melemahnya nilai tukar rupiah maka beban subsidi akan kembali meningkat. Pemerintah secara kontinyu menjaga supaya beban subsidi masih bisa dipertahankan dalam taraf kenaikan yang aman. Perkembangan anggaran subsidi BBM juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan peningkatan konsumsi BBM bersubsidi.

Pembicara terakhir, Prof. Bambang Juanda lebih membahas tentang kondisi ekonomi regional Provinsi Lampung dengan judul “Kajian Ekonomi & Fiskal Regional (Prof. Lampung)”. Secara global menjelaskan potret ekonomi Provinsi Lampung yang diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi (regional dan sektoral), Ketenagakerjaan, Kemiskinan, IPM, dan Distribusi Pendapatan. (AR/DS/AP)