Pemerintah: Indonesia terus menunjukkan fundamental ekonomi yang kuat
Batam (28/11): Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan RI, Luky Alfirman menyatakan bahwa Indonesia menunjukkan kinerja makroekonomi yang stabil dan berkelanjutan. Indonesia terus menunjukkan fundamental perekonomian yang kuat. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008-2012 adalah 5,9%. Inflasi berhasil di-maintain di kisaran 5%. Cadangan devisa terus meningkat hingga 97 Miliar USD. Dari indikator perbankan, CAR (Capital Adequate Ratio) berada di kisaran 18% jauh diatas threshold (batas aman) 8%. Sementara NPL (Non Performed Loan) sekitar 2% yang threshold-nya 5%. Pada posisi fiskal, dilihat dari Debt To GDP Ratio (Rasio utang dibanding PDB), Indonesia telah berhasil menurunkan secara konsisten angka Debt to GDP Ratio dari sebesar 40% saat krisis 1998 hingga berada di bawah 3% bahkan beberapa tahun terakhir rata-ratanya hanya 1,1%.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih stabil dibandingkan peer countries. Pada awal tahun 2010, China mencapai pertumbuhan sekitar 11% dan di akhir kuartal III tahun 2013 hanya tumbuh 7,8%. India lebih parah, di awal 2010 mencapai 10,5% namun posisi kuartal III 2013 hanya 4,4%. Begitu juga negara lain seperti Brazil dan Rusia. Jika dibandingkan tahun 2011 dan 2012, Indonesia memang mengalami pelemahan namun relatif rendah.” paparnya dalam sesi pertama Sosialisasi Perkembangan Ekonomi dan Fiskal terkini, Kamis (28/11/2013) siang.
Perkembangan Perekonomian Global dan Domestik
Ekonomi global, ujar Luky, masih akan menghadapi risiko pelemahan di 2014. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat dibayangi risiko dari pengetatan fiskal dan rencana The Fed memangkas stimulus moneternya. Pemulihan krisis Eropa belum sesuai rencana tapi tertolong penguatan Jerman dan relaksasi fiskal. China diperkirakan masih akan mengalami perlambatan karena fokus pada struktural. Likuiditas global masih berpotensi untuk bergejolak. Sehingga, Luky menegaskan, perlu diwaspadai exit policy kebijakan moneter longgar di negara-negara maju. Diperkirakan juga akan terjadi gejolak harga komoditas pasar global termasuk harga minyak dan harga komoditas ekspor Indonesia.
Volume perdagangan diperkirakan meningkat secara moderat di 2013, sementara tekanan inflasi diperkirakan sedikit mereda. Inflasi dunia 2014 diperkirakan stabil. Harga minyak cenderung menurun antara lain akibat peningkatan supplai minyak di AS dan OPEC serta operasional shale gas, namun terdapat potensi risiko peningkatan harga akibat gejolak di suriah.
Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, dalam outlook tahun 2013 diperkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar 5,6-5,8%, inflasi 8,7-9,0%, nilai tukar Rp 10.375-10.425/USD dan lifting minyak 834.000 barel/hari.
Respon Kebijakan Pemerintah
Pemerintah, Luky melanjutkan, telah melakukan perbaikan struktural melalui kebijakan fiskal yang terencana. Diantaranya adalah peningkatan alokasi belanja pada APBN-P 2013 khususnya untuk peningkatan infrastruktur serta penyesuaian harga BBM bersubsidi dengan kenaikan 44% untuk premium dan 22% untuk solar. Disamping itu, pemerintah akan menjaga koordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi. Pemerintah akan mengatasi komponen inflasi harga bergejolak dengan mengubah tata niaga daging sapi dan produk holtikultura untuk memenuhi permintaan. Pemerintah juga akan menjaga stabilitas defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.
Prospek dan Tantangan Perekonomian ke Depan
Melimpahnya kekayaan alam dan tenaga kerja yang terampil menjadi potensi kemajuan perekonomian Indonesia yang kuat. Indonesia juga memiliki bonus demografi yang menjadi potensi tingginya permintaan. Di samping itu, menurut The Economist, Indonesia merupakan negara tujuan investasi ketiga terbaik di dunia setelah China dan India.
“Kita punya potensi yang luar biasa. Suatu studi dari McKinsey tahun lalu, dari segi PDB, Indonesia berada pada posisi 16 dunia. Prediksi mereka adalah dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat hanya 5-6% per tahun Indonesia bisa naik menjadi posisi ke-7 di dunia pada tahun 2030.” jelasnya hingga ia mengakhiri paparannya dengan optimis.
Acara sosialisasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan di Hotel Novotel Batam ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Kiagus Ahmad Badaruddin dan menghadirkan Harry Azhar Aziz, wakil ketua komisi XI sebagai keynote speaker. Selain Luky Alfirman, sosialiasi ini juga menghadirkan beberapa narasumber lainnya dari jajaran Kementerian Keuangan. Dalam sesi selanjutnya terdapat pemaparan mengenai APBN oleh Purwiyanto, Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Pengeluaran Negara dan pemaparan mengenai Keuangan Daerah oleh Yusrizal Ilyas, Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah Ditjen Perimbangan Keuangan. Dengan dimoderatori oleh Sri Langgeng Ratnasari, wakil ketua ISEI Batam, peserta sosialisasi dari kalangan pejabat pemerintah daerah Kepulaian Riau, politisi, pengusaha, akademisi dan mahasiswa tampak cukup antusias dalam diskusi tanya jawab hingga acara ditutup. (FAP/PW).