Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Medan
Medan (19/03): Bertempat di Aston City Hall Medan, Kementerian keuangan menyelenggarakan Seminar “Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini”. Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi materi pembahasan yaitu (1) “Perkembangan Perekonomian Indonesia Terkini” oleh Dr. Luky Alfirman, M.A. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF (2) “Kebijakan Perimbangan Keuangan Daerah”, oleh Lisbon Sirait, SE., ME. Kepala Subdit DBH pajak, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (3) “Perkembangan Ekonomi Provinsi Sumatera Utara”, oleh Prof. Dr.lic.rer.reg Sirojuzilam, Ekonom pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan Moderator oleh Kasyful Mahalli, SE.,M.Si. dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Memberikan sambutan pembuka, Ir. Harry Mulya, M.Si., Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara selaku Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sumatera Utara, kemudian dilanjutkan Keynote Speech oleh Arsyad Lubis, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan.
Memasuki acara pembahasan materi, pada sesi pertama Luky Alfirman, menyampaikan mengenai Perkembangan dan Tantangan Perekonomian Indonesia 2014. Dalam paparannya Luky Alfirman menyampaikan perkembangan perekonomian global dengan tiga isu penting yaitu perbaikan pertumbuhan di 2014, gejolak likuiditas global dan gejolak harga komoditas serta respon kebijakan dari beberapa negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Perekonomian domestik di tahun 2013 mengalami tekanan di defisit neraca perdagangan yang secara langsung mengakibatkan tekanan di defisit neraca berjalan. Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah merespon dengan paket kebijakan fiskal dan moneter serta melakukan reformasi struktural. Memasuki tahun 2014, kondisi IHSG dan Nilai tukar Indonesia merupakan kinerja terbaik di kawasan. Di tahun 2014, pemerintah cukup optimis dgn kondisi perekonomian yang berfokus kepada perbaikan CAD, namun pertumbuhan akan sedikit melambat. Untuk mendorong pertumbuhan Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang kuat antara lain adanya bonus demografi, pertumbuhan kelas menengah yang tinggi, sumber daya alam berlimpah, kinerja marko ekonomi yang stabil dan kuat serta pengelolaan fiskal yang prudent.
Pada sesi kedua Lisbon Sirait membahas mengenai Kebijakan Transfer Daerah 2014. Beliau memapaparkan tentang hubungan keuangan pusat dan daerah. Arah ke depannya akan memperketat sistem anggaran dalam jangka menengah sehingga daerah akan lebih mudah memperkirakan kebutuhan dana dan proyeksi pengeluaran. Dalam kebijakan tersebut, pemerintah hanya dapat mengintervensi DAK dimana distribusi perdaerahnya berdasarkan formulasi. Kinerja fiskal kedaerah hampir 80% bersifat program sementara idealnya dapat digunakan untuk program-program efektif karena saat ini masih lebih besar untuk belanja pegawai.
Sesi ketiga mengenai Perkembangan Ekonomi Provinsi Sumatera Utara disampaikan oleh Sirojuzilam. Beliau menggambarkan struktur ekonomi Sumatera Utara yang ditopang oleh sektor pertanian, industri dan jasa mempunyai kontribusi terhadap PDRB Sumut. Konstribusi terbesar terhadap PDRB di Sumatera didorong oleh Riau 28,75% dan Sumut 22,31% sementara Bengkulu merupakan terendah 1,53%.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan disambut baik oleh peserta seminar yang dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan, dan masukan untuk Kementerian Keuangan terkait materi yang disampaikan dan ditutup oleh moderator dengan kesimpulan Perekonomian Indonesia di tahun 2014 memiliki prospek positif namun terdapat beberapa tantangan baik tantangan global maupun domestik. Oleh karena itu,Perekonomian Indonesia perlu mempertahankan fiscal suistainability dan pembangunan ekonomi daerah harus mengacu kepada pertumbuhan nasional serta pertumbuhan ekonomi harus tetap berjalan meskipun terjadi pergantian pemimpin. . (RS/YB)


