Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Manado
Manado (30/5): Badan Kebijakan Fiskal bekerja sama dengan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan menyelenggarakan Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini yang bertempat di Gedung D Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sam Ratulangi, Manado. Seminar ini merupakan lanjutan dari rangkaian seminar serupa yg telah diselenggarakan di 14 ibukota provinsi di Indonesia. Seminar ini tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan kebijakan fiskal dan perkembangan ekonomi terkini, tetapi juga sebagai bentuk sosialisasi dan sharing informasi antara pusat dan daerah. Sebagai pembuka, lagu Bagimu Negeri yang dinyanyikan oleh semua peserta mengawali jalannya seminar yang dihadiri oleh Perwakilan Bank Indonesia, Perbankan, Pemerintah Daerah, Satuan Kerja Instansi Vertikal Kementerian Keuangan Provinsi Sulawesi Utara, serta para akademisi dari Universitas Manado dan Universitas Sam Ratulangi. Penyampaian welcome speech oleh Irwan Ritonga, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Utara sekaligus membuka jalannya acara seminar. Beliau menyampaikan terima kasih, khususnya kepada Universitas Sam Ratulangi yang telah menyediakan tempat untuk penyelenggaraan acara dan selamat datang kepada para hadirin serta berharap melalui seminar ini dapat terjalin komunikasi yang efektif antara Kementerian Keuangan, Perbankan, Akademisi, Pelaku Usaha di Daerah, dan Pemerintah Daerah terkait Kebijakan Pengelolaan Fiskal, serta dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya seperti filsafat masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Pahlawan Nasional Dr. Sam Ratulangi, yaitu ”Si Tou Timou Tumou Tou”, yang berarti bahwa anugerah hidup yang diberikan oleh Tuhan harus dapat digunakan untuk memberikan manfaat terhadap orang lain. Dengan harapan seminar ini dapat memberikan manfaat demi kemajuan ekonomi nasional pada umumnya, khususnya Sulawesi Utara.
Pada kesempatan ini, DPE Saerang, Dekan fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi bertindak sebagai moderator dengan menghadirkan empat narasumber, yaitu Hidayat Amir (Peneliti pada Badan Kebijakan Fiskal), Agus Tony Poputra (Regional Economist wilayah Sulut dan Gorontalo, Anggota Tim Ahli Gubernur Sulut), Irwan Ritonga (KaKanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulut) serta Heru Subiyantoro (Sekretaris Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan). Sebagai narasumber pertama, Hidayat Amir menyampaikan tentang Dinamika Ekonomi 2013 (flashback), Dinamika Ekonomi dan Outlook 2014-2015, serta Potensi dan Tantangan Ekonomi Indonesia. Di tahun 2013, harga komoditas global mengalami tren pelemahan seiring dengan lemahnya permintaan global ditambah dengan adanya isu fed tapering sehingga mengakibatkan keluarnya dana asing dan goncangan pada stabilitas nilai tukar yang terjadi di beberapa negara emerging market, termasuk Indonesia. Namun, hal ini dapat teratasi dengan adanya respon koordinasi kebijakan di tahun 2013 yang terdiri dari reformasi struktural, kebijakan moneter, dan kebijakan fiskal sehingga mampu mengurangi tekanan pada pasar keuangan, menurunkan inflasi, dan neraca perdagangan pun kembali mengalami surplus. Perkembangan perekonomian global di tahun 2014 diperkirakan akan tumbuh lebih baik meskipun akan mengalami Downside Risk, sehingga berbagai kebijakan di beberapa negara pun diterapkan untuk mendorong dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dikatakan jauh lebih stabil dibandingkan dengan berbagai negara di kawasan, hal ini dapat dilihat dari nilai tukar Rupiah dan IHSG yang mengalami penguatan cukup baik serta yield obligasi yang mengalami perkembangan positif seiring dengan kenaikan modal yang masuk.
Selanjutnya, Agus Tony Poputra sebagai narasumber kedua memaparkan tentang Bagaimana Mewujudkan Sulut sebagai Singapura Indonesia : Mimpi atau Impian?. Sulawesi Utara memiliki berbagai kesamaan dengan Singapura, terutama di sektor dominan yaitu perdagangan dan jasa. Hal ini diperkuat dengan sumber daya alam yang relative lebih banyak bila dibandingkan dengan Singapura, hanya saja yang masih perlu dibenahi adalah keterampilan dan etos kerja SDM, layanan yang diberikan di sektor publik, penegakan hukum dan infrastruktur yang masih kurang. Sehingga tindakan yang harus dilakukan untuk mencapai konvergensi itu adalah dengan melakukan pembenahan infrastruktur terutama listrik dan energi lainnya, penegakan dan kepastian hukum, SDM yang berkualitas, layanan publik yang lebih baik, serta dengan menciptakan sinergi yang baik dengan daerah lain.
Narasumber ketiga, Irwan Ritonga memaparkan tentang Sinkronisasi Kebijakan Fiskal antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Wilayah Provinsi Sulut. Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa Belanja Pemerintah, Pusat dan Daerah, merupakan salah faktor penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sulut sehingga pemerintah tetap menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif. Belanja yang ekspansif, harusnya diiringi dengan perbaikan kualitas belanja tersebut, antara lain meliputi : harus adanya sinkronisasi kebijakan belanja antara Pusat dengan Daerah, khususnya terkait proporsi belanja pegawai PNSD; alokasi belanja lebih diprioritaskan kepada sektor-sektor yang dapat mendukung sasaran pemerintah termasuk subsektor yang belum diminati para pelaku ekonomi; serta realisasi belanja pemerintah harus dilaksanakan secara berkualitas (tepat dan cepat) sehingga mampu meningkatkan efektivitas fungsi ekonomi pemerintah.
Heru Subiyantoro sebagai narasumber terakhir memberikan paparan tentang Kebijakan Transfer ke Daerah Tahun 2014. Arah kebijakan transfer ke daerah meliputi beberapa hal, yaitu: meningkatkan kapasitas fiskal daerah serta mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antar daerah; meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan waktu pengalokasian dan penyaluran anggaran transfer ke daerah; meningkatkan kualitas dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik di daerah; mendukung kesinambungan fiskal nasional; meningkatkan perhatian terhadap pembangunan daerah tertinggal, terluar, dan terdepan; serta meningkatkan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap jenis dana transfer tertentu guna meningkatkan kualitas belanja daerah.
Sebelum seminar berakhir, dibuka sesi diskusi dan tanya jawab yang ditanggapi dengan sangat antusias karena banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang sangat bermutu dari peserta seminar. Seminar ditutup dengan pemberian hadiah untuk empat orang pemberi pertanyaan terbaik serta penyerahan plakat oleh Irwan Ritonga kepada semua narasumber. (ga/rk)





