Kunjungan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

Jakarta (26/08): Bertempat di Auditorium Gedung Frans Seda Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) kembali menerima kunjungan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Pada kesempatan ini, civitas UNNES memilih tema “Kebijakan Subsidi” dan “Strategi Indonesia untuk menghindari Ancaman Middle Income Trap”.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum, Sekretariat Badan Kebijakan Fiskal. Dalam sambutannya, Lukas juga memberikan overview tentang struktur dan tugas serta fungsi BKF. Sambutan dilanjutkan oleh Dr. Sucihatiningsih DWP, M.Si., dosen FE UNNES yang berisi apresiasi yang sebesar-besarnya bagi BKF dan kementerian Keuangan yang telah memfasilitasi terlaksananya acara ini.

Sesi selanjutnya dilanjutkan dengan acara diskusi, yang dimoderatori oleh Toto Trianto (Kepala Subbagian Mutasi, Sekretariat BKF). Sebagai pembicara pertama Aep Soleh (Kepala Subbidang Subsidi BBM, Bidang Subsidi, Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, BKF) dan pembicara kedua  Abdurohman (Kepala Bidang Analisis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF).

Aep Soleh dalam presentasinya, “Kebijakan Subsidi”, memaparkan konsep-konsep kebijakan  subsidi yang dianut pemerintah Indonesia, baik subsidi energi maupun non-energi, dengan fokus pemaparan pada subsidi BBM. Aep menyampaikan bahwa arah kebijakan subsidi tahun 2014 yaitu peningkatan efisiensi subsidi energi serta meningkatkan ketepatan target sasaran dalam rangka peningkatan kualitas belanja, penyaluran subsidi non-energi secara lebih efisien, penajaman penetapan sasaran dan penyaluran dengan memanfaatkan data kependudukan yang lebih valid dan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi. Dalam hal subsidi BBM, Aep menyampaikan bahwa kebijakan subsidi BBM 2014 meliputi kegiatan-kegiatan diantaranya melanjutkan konversi minyak tanah (mitan) ke LPG tabung 3 kg, melaksanakan konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG), dan meningkatkan pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN). Kegiatan-kegiatan diatas bertujuan menyelamatkan  APBN dan sekaligus menyehatkan APBN ke depan, serta menjadi kunci penting untuk mendorong diversifikasi energi dari BBM ke sumber energi lain dan menjadi bagian dari upaya redistribusi pendapatan untuk  mewujudkan keadilan. Disamping itu, Saving dari subsidi BBM dapat digunakan untuk meng-upgrade infrastruktur sebagai stimulus ekonomi di tengah pelemahan ekonomi global.

Pembicara kedua, Abdurohman, memaparkan tentang definisi Middle Income Trap (MIT), risiko Indonesia terjebak dalam MIT, serta strategi-strategi Indonesia untuk menghindari MIT.  Sebab utama bagi suatu negara untuk dapat terjebak dalam MIT adalah perlambatan pertumbuhan yang diakibatkan oleh perlambatan produktivitas suatu negara. Risiko yang dimiliki Indonesia untuk dapat terjebak dalam MIT antara lain karena adanya pertumbuhan yang tidak seimbang yang menyebabkan besarnya populasi penduduk miskin yang rawan terhadap MIT serta adanya kesenjangan yang besar di masyarakat yang antara lain diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan masyarakat menengah ke atas. Strategi-strategi Indonesia untuk menghindari MIT antara lain dengan penerapan lima pilar untuk mencapai pertumbuhan yang setara dan berkelanjutan yaitu pengembangan sumber daya manusia, pengembangan infrastruktur, pertumbuhan inklusif, stabilitas ekonomi makro serta penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.

Pada akhir diskusi diberikan satu sesi khusus tanya jawab antara peserta dan pembicara untuk mendalami materi yang telah dipaparkan oleh pembicara. Sesi ini berlangsung cukup seru dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan mahasiswa dan pemberian doorprize oleh para pembicara bagi peserta yang dapat menjawab dan memberikan pertanyaan yang dinilai terbaik oleh pembicara. Acara sosialisasi kebijakan fiskal ini  diakhiri dengan pertukaran cinderamata dari Badan Kebijakan Fiskal dan Universitas Negeri Semarang.(ka/gh/mi)