Sosialisasi Kebijakan Fiskal Dalam Kunjungan Mahasiswa STEI SEBI Depok

Jakarta, (25/4): Bertempat di Ruang Rapat Analis Fiskal, Gedung R.M. Notohamiprodjo, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menggelar sosialisasi kebijakan fiskal kepada dunia akademisi dengan menerima kunjungan dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Depok. Sosialisasi kali ini dihadiri oleh 90 orang mahasiswa dari jurusan perbankan syariah. Acara yang berdurasi selama dua jam tersebut dibuka dengan sambutan dari Sekretaris Badan Kebijakan Fiskal, Arif Baharudin. Dalam sambutannya, Arif mendorong para mahasiswa agar dapat mengantisipasi iklim dunia kerja yang kompetitif dengan memiliki skill yang mumpuni untuk dapat bersaing di dunia kerja. Selain itu ia juga berpesan kepada mahasiswa untuk tetap gigih dan terus memperbaiki diri agar tujuan yang diinginkan oleh para mahasiswa tersebut dapat tercapai.

Pada sesi diskusi dan presentasi, Harris Noor Rabbasa, Kepala Subbagian Manajemen dan Sistem Informasi, bertindak sebagai moderator. Presentasi pertama yang berjudul kebijakan APBN 2016, dibawakan oleh Noor Iskandarsyah, Kepala Bidang Kebijakan Subsidi, Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, BKF. Dalam paparannya, Iskandarsyah menjelaskan arah kebijakan fiskal tahun 2016 yaitu mempercepat pembangunan infrastruktur untuk memperkuat fondasi pembangunan yang berkualitas. Beberapa strategi yang telah disusun pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut antara lain memberikan stimulus fiskal dengan pemberian insentif fiskal, menjaga daya tahan fiskal dengan memperkuat cadangan risiko fiskal, dan menjaga sustainabilitas fiskal dengan mengendalikan defisit APBN dan rasio utang. Lebih lanjut Iskandarsyah menjelaskan kebijakan-kebijakan prioritas  saat ini yaitu berupa belanja yang lebih produktif, perluasan basis pajak, perbaikan skema subsidi dan desentralisasi fiskal.

Sesi kedua dilanjutkan dengan paparan dari Dalyono, Kepala Bidang Analisis Ekonomi Internasional dan Hubungan Investor, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF. Dalyono mengungkapkan bahwa tahun 2015 merupakan tahun yang cukup berat bukan hanya untuk ekonomi Indonesia tetapi juga untuk dunia. Ia mengatakan hal tersebut dikarenakan semua negara mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Untuk Indonesia sendiri, Dalyono menjelaskan komponen yang paling berpengaruh pada pertumbuhan  di tahun 2015 ialah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 55,2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Investasi berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 34,6%.

Dalyono menambahkan kondisi perekonomian global seperti moderasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, lemahnya harga komoditas dan risiko penyesuaian suku bunga Amerika Serikat masih harus diwaspadai oleh Indonesia. Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah telah merancang strategi ekonomi untuk jangka pendek dengan reformasi struktural dan jangka panjang dengan reformasi APBN.  

Sesi ditutup dengan tanya jawab dan pertukaran cindera mata serta foto bersama. (IS/TW)