Rangkaian Diskusi Pada Hari Kedua WIEF: Teknologi dan Infrastruktur
Jakarta, (3/8): Memasuki hari kedua World Islamic Economy Forum (WIEF) ke-12 yang diselenggarakan di JCC Senayan, Jakarta, berbagai forum diskusi yang digelar masih dipadati para pengunjung. Pada pukul 10.30 WIB diskusi bertajuk “Disruptive Technology and the Rise of New Industries” digelar di aula plenary hall. Diskusi yang dimoderatori oleh Desi Anwar ini sengaja mengangkat tema teknologi karena dengan teknologi para pebisnis dapat menjalankan bisnisnya dengan lebih baik serta dapat mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam menjalankan bisnis yang selama ini dilakukan dengan cara tradisional.
Hadir sebagai pembicara Dr. Ing Ilham Habibie, CO-Founder Mitra Energi Ltd, Indonesia, Azran Osman-Rani, Chief Executive Officer Iflix, Malaysia, Shelby Clark, Co-Founder & CEO Peers dan Founder Turo, USA, dan Ahmed Haider, Chief Executive Officer Zookal dan Direktur Flirtey, Australia.
Salah seorang pembicara, Azran Osman-Rani menyampaikan bahwa saat ini dunia sudah berubah. Segalanya dituntut lebih cepat dan lebih mudah. Kondisi ini lah yang melatarbelakangi mengapa Ia menciptakan iFlix, aplikasi yang memungkinkan untuk menonton program televisi favorit lewat telepon atau komputer tablet dimanapun mereka berada. "Dahulu orang harus menunggu akhir pekan untuk menonton program televisi premium. Mereka tidak bisa menonton pada hari kerja karena tidak ada waktu. Sekarang mereka menuntut lebih cepat. Mereka tidak mau lagi menunggu sampai akhir pekan.” kata CEO iFlix ini.
Selanjutnya, di tempat yang sama pada pukul 12.00 WIB digelar diskusi lanjutan dengan tema “Closing the Funding Gap in Infrastructure”. Dengan dimoderatori oleh James Chau, kontributor CCTV News Tiongkok, diskusi ini menghadirkan 4 orang pembicara, yaitu: Ahmad Zulkarnain Onn dari Khazanah Nasional Berhad, Malaysia; Bakti Santoso Luddin dari PT Wijaya Karya, Indonesia; Luky Eko Wuryanto dari Asian Infrastructure Investment Bank, Tiongkok; dan Dato’ Muzaffar Hisham dari Maybank, Malaysia.
Dalam kesempatan ini Bakti Santoso Luddin menyampaikan bahwa saat ini pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami kendala dalam hal pembiayaan. Hal ini disebabkan karena infrastruktur membutuhkan skema pembiayaan jangka panjang yang tidak sedikit, padahal kebanyakan perusahaan tidak memiliki modal yang besar. Di sisi lain, tingginya bunga bank juga menjadi salah satu kendala pembiayaan. Bakti berharap perbankan Indonesia dapat memberikan keringanan bunga terkait pembiayaan infrastruktur seperti yang telah dilakukan oleh perbankan Jepang. (atw/as)