FGD Ekonomi dan Perdagangan Internasional: Peluang, Tantangan dan Risiko terhadap Ekonomi Domestik

Jakarta, (29/11): Bertempat di Aula Mezzanine Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan RI, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, menggelar Focus Group Discussion dengan tema “Ekonomi dan Perdagangan Internasional: Peluang, Tantangan dan Risiko terhadap Ekonomi Domestik”. Hadir sebagai narasumber utama, mantan Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu. Acara ini dimoderatori oleh peneliti Badan Kebijakan Fiskal, Yoopi Abimanyu.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Badan Kebijakan, Suahasil Nazara. Suahasil menjelaskan bahwa acara ini adalah salah satu usaha untuk membangun knowledge sharing program di Badan Kebijakan Fiskal. Hal ini dilakukan dengan mengundang baik pembicara dari luar maupun dari dalam BKF. Diharapkan acara-acara seperti ini akan memberikan perspektif yang berbeda, memperkaya pengetahuan dan mempertajam analisis dari pegawai BKF.

Dalam kesempatan ini Mari Pangestu membawakan materi yang berjudul “Perdagangan Internasional Indonesia dan Norma Baru”. Mari memperingatkan bahwa saat ini kita berada di berada pada Norma Baru (The New Norm) dimana terjadi perubahan-perubahan drastis yang tidak ditemui pada masa sebelumnya. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, perdagangan international dan investasi terjadi di tingkat struktural, bukan saja siklus bisnis. Perubahan juga terjadi pada struktur Global Value Chain, perubahan teknologi yang mendorong revolusi industri ke empat, dan iklim Anti Globalisasi. Rendahnya harga komoditas dan melambatnya perekonomian RRT juga menambah perlambatan perekonomian dunia.

Untuk menghadapi hal-hal tersebut ada beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Yang pertama yaitu dari sisi Kebijakan Fiskal. Terbatasnya Ruang Fiskal dapat disiasati dengan reformasi penerimaan dan pengeluaran. Yang kedua adalah di sisi Moneter, sayangnya rendah tingkat suku bunga belum dapat mendorong investasi karena lemahnya sisi permintaan. Dan langkah yang ketiga yaitu reformasi struktural. Infrastruktur tetap menjadi kunci untuk pertumbuhan ekonomi yang sehat dan merata. Infrastruktur bukan hanya soal logistik tetapi juga masalah integrasi indonesia sebagai satu kesatuan. Reformasi struktural juga perlu dilakukan untuk mendorong sektor riil dan antisipasi dampak globalisasi. (PG/AS)