FGD Tantangan dan Responsi Indonesia terhadap Tata Dunia Baru

Bandung, (30/3): Badan Kebijakan Fiskal menyelenggarakan kegiatan FGD dengan tema The Rising of a New World Order: Indonesia's Challenges and Responses pada hari Kamis tanggal 30 Maret 2017 di Ballroom Hotel Hilton, Bandung. FGD yang dihadiri oleh para akademisi, peneliti, praktisi, serta pemerintah ini merupakan bagian dari Voyage to Indonesia, rangkaian kegiatan menuju penyelengaraan pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank (IMF-WB) tahun 2018.

Mengawali acara FGD, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Multilateral, BKF, Syurkani Ishak Kasim menyampaikan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF-WB pada bulan Oktober tahun 2018. Pertemuan tersebut adalah rangkaian pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Gubernur IMF dan WB untuk mendiskusikan isu-isu terkini terkait pengurangan kemiskinan, pembangunan ekonomi, serta solusi atas isu sosial, ekonomi keuangan, moneter, dan isu global. Dengan dihadiri oleh perwakilan dari 189 negara anggota, kesempatan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF-WB merupakan momentum yang baik bagi Indonesia untuk menunjukkan leadership Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN di Forum G20.

Pergeseran tata nilai dan tata kelola di berbagai negara utama dunia seperti fenomena Brexit dan Trump disimpulkan oleh beberapa pihak (termasuk World Bank) sebagai perwujudan terbentuknya sebuah Tata Dunia Baru (New World Order) yang merupakan anti-tesis dari globalisasi dan perdagangan dunia. Tujuan FGD ini adalah untuk membahas dialektika dan dinamika antara dua tren dan kekuatan global yang memengaruhi pembentukan Tata Dunia Baru tersebut, termasuk kemungkinan hasilnya, pengaruhnya bagi ekonomi global, dampak bagi Indonesia, serta sikap Indonesia terhadap situasi tersebut.

FGD yang dimoderatori oleh Irwanda Wisnu Wardhana, peneliti pada Badan Kebijakan Fiskal ini menghadirkan 6 pembicara yang kompeten di bidangnya, yakni: (1) Dalyono, Badan Kebijakan Fiskal; (2) Dr. Yulius Purwadi Hermawan, Universitas Parahyangan; (3) Dr. Kiki Verico, Universitas Indonesia; (4) Dr. Yose Rizal Damuri, CSIS; (5) Dr. Vivi Alatas, World Bank, serta; (6) Taufikurrahman, Indonesia Services Dialogue. Tantangan dan responsi Indonesia yang didapat pada FGD ini akan menjadi bahan masukan pembahasan utama pada seminar yang akan dilaksanakan pada IMF-WB spring meeting April mendatang. (atw/as)