BKF Luncurkan Cetak Biru Kerja Sama Ekonomi dan Keuangan Bilateral Indonesia

Jakarta (16/08) – Penguatan strategi Kerja Sama Ekonomi dan Keuangan (KEK) bilateral merupakan hal yang penting untuk menjaga stabilitas ekonomi regional dan global, meningkatkan pendapatan negara, mendukung pengeluaran pembiayaan dan hibah yang dioptimalkan, serta dapat mendorong belanja yang produktif dan berkualitas. Namun hingga saat ini, Kerja Sama Ekonomi dan Keuangan (KEK) Indonesia, yang berada di bawah pengawasan Badan Kebijakan Fiskal, masih bersifat sporadis dan pasif. Selain itu, koordinasi terkait isu-isu bilateral yang menyangkut lintas unit masih lemah. Oleh karenanya, dibutuhkan sebuah pedoman cetak biru (blue print) KEK bilateral yang dapat memetakan seluruh negara mitra berdasarkan skala prioritasnya beserta keuntungan, hambatan, dan tantangannya.

Bertempat di Aula Lantai 2, Gedung R.M. Notohamiprodjo, Badan Kebijakan Fiskal mengadakan sosialisasi cetak biru KEK bilateral yang dihadiri sejumlah undangan lintas kementerian/ lembaga. Sosialisasi yang dimoderatori oleh Eko Nugroho Mardi Saputro, Kepala Bidang KEK Bilateral ini menghadirkan Irfa Ampri, Kepala Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral BKF, serta Putu Mahardika Adisaputra, Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Budaya, Universitas Brawijaya sebagai narasumber.

Cetak biru ini merupakan manifestasi BKF sebagai unit yang berperan dalam menganalisis, mengevaluasi, merumuskan rekomendasi kebijakan, koordinasi, pelaksanaan, dan pemantauan KEK bilateral dengan pemerintah dan lembaga nonpemerintah. Lebih jauh, cetak biru ini diharapkan dapat membantu Indonesia untuk lebih mudah menyasar kepentingan-kepentingan spesifik Indonesia terhadap negara mitra.

Cetak Biru KEK Bilateral ini memiliki sejumlah karakter, yakni berorientasi pada objektif yang jelas, bersifat sebagai panduan kebijakan, memberikan arahan prioritas, bersifat jangka panjang, serta berfungsi sebagai kerangka evaluasi. Agenda kunci cetak biru KEK bilateral ini mencakup (i) penguatan daya saing dan produktivitas ekonomi, (ii) pencapaian pembangunan berkelanjutan, (iii) penguatan tata kelola ekonomi internasional, dan (iv) penguatan kapasitas dalam negeri.

Ada beberapa elemen yang dijadikan dasar dalam mementukan skala prioritas dalam cetak biru ini, antara lain (i) kapasitas dan skala ekonomi negara mitra serta hubungannya dengan Indonesia, (ii) keterlibatan dalam hubungan internasional, (iii) kapasitas kemampuan kenangan negara mitra dan hubungannya dengan Indonesia, (iv) kemampuan keamanan, dan (v) kapasitas dan kemampuan ilmu pengetahuan. Kemudian, dari elemen-elemen tersebut negara-negara mitra dikelompokkan ke dalam tiga kategori negara, yaitu negara strategis, negara penting, dan negara mitra.

Dari sudut pandang akademis, Putu Mahardika memberikan apreasiasi atas peluncuran Cetak Biru KEK Bilateral ini yang dinilai menjadi sebuah inovasi baru. Menurutnya, sejauh ini cetak biru dan/atau kertas putih (white paper) pada umumnya hanya berisikan promosi kebijakan suatu kementerian/ lembaga atau perusahaan. Cetak biru ini juga dinilai memberikan pemahaman lebih luas atas pemetaan hubungan KEK bilateral Indonesia dengan negara mitra. (fms)

File Terkait:

Baca   Download