Manfaat Presidensi G20 Indonesia bagi Dunia

Jakarta (06/12) Indonesia secara resmi menjadi tuan rumah G20 2022. Menyambut keketuaan Indonesia, harian Kontan, bekerjasama dengan Kementerian Keuangan RI mengadakan webinar “Presidensi G20 – Manfaat bagi Indonesia dan Dunia” pada hari Senin, 6 Desember 2021. Acara ini menampilkan Kepala BKF, Febrio Kacaribu, dan Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo.

Dalam acara yang dipandu oleh Titis Nurdiana, Redaktur Ekonomi Kontan, Febrio Kacaribu menyampaikan bahwa Indonesia saat ini merupakan negara strategis di dunia global, dibuktikan dengan bergabungnya Indonesia ke G20. Selain itu, disampaikan juga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 20 tahun terakhir, selalu di atas pertumbuhan ekonomi rata-rata dunia. Hal ini yang membuat posisi Indonesia kian kuat dan strategis.

Febrio menyampaikan, tantangan Indonesia dalam presidensi G20 ini masih cukup besar, karena pandemi Covid19 yang belum usai. Kondisi ini juga menjadi ujian, seberapa besar kepemimpinan Indonesia di G20. Kondisi yang mirip juga dialami oleh kepemimpinan dua negara sebelumnya, Arab Saudi dan Italia. Tantangan Indonesia semakin besar dengan tema yang sangat optimistis, Recover Together, Recover Stronger. “Hal tersebut lah menjadi pesan yang sangat dalam bagi kita semua dan bagi global juga, bahwa ketika ingin pulih, pulihnya harus bersama-sama, kalau tidak bersama, itu tidak mungkin,” tutur Febrio.

Salah satu upaya Indonesia untuk mencapai tujuan itu adalah penyebaran vaksin yang belum merata, terutama untuk negara-negara miskin, yang mana masih tertinggal bahkan dibandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut, akan ada banyak pertemuan yang diselenggarakan selama 2022, hingga puncaknya di Leader’s Meeting di bulan Oktober 2022.

Sesuai dengan arahan Presiden, ada tiga hal utama yang akan dibawa oleh Indonesia dalam pertemuan sepanjang 2022. Yang pertama adalah isu kesehatan, kemudian tentang perubahan iklim dan pembiayaannya, serta yang ketiga adalah perpajakan internasional.

Untuk agenda kesehatan, Indonesia ingin memastikan agar vaksinasi seluruh dunia bisa merata, sehingga pemulihan global bisa berlangsung mulus. Selain itu, kesiapan negara-negara di dunia terhadap pandemi kedepannya juga menjadi agenda pembahasan, agar situasi saat ini tidak terulang kedepannya.

Selanjutnya, terkait dengan perubahan iklim, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia telah mendiskusikan isu ini selama bertahun-tahun. Walau demikian, tantangan yang dihadapi untuk mencapai net zero emission yang diagendakan oleh berbagai negara di dunia cukup besar, karena untuk menghindari kenaikan suhu bumi 1,5o celsius, diperlukan kerja sama yang kuat antara seluruh negara di dunia. Salah satu yang diupayakan untuk menghindari kenaikan suhu ini adalah mengedepankan proyek-proyek hijau yang dilaksanakan secara global untuk kepentingan seluruh negara di dunia.

Isu terakhir yang tak kalah penting adalah perpajakan internasional. Isu ini merupakan isu bertahun-tahun yang dikerjakan bersama-sama antara G20 dan OECD. Kerjasama antara dua organisasi ini menghasilkan kesepakatan di presidensi Itali, yang menghasilkan 2 pilar. Kesepakatan di pilar pertama adalah negara pasar dari perusahaan multinasional berhak memajaki perusahaan tersebut, walaupun mereka tidak memiliki bentuk usaha tetap di negara bersangkutan. Sementara itu, pilar dua terkait dengan minimum tax rate, yang bertujuan agar tidak ada lagi perusahan-perusahaan yang berpindah domisili negara demi mengejar pajak lebih rendah.

Sementara itu, Dody Budi Waluyo, dalam kesempatan kali ini menjelaskan mengenai kegiatan-kegiatan yang terjadi saat kepresidenan G20, yang terbagi menjadi 2 jalur, sherpa track dan finance track. (aew)