Realisasi Defisit Bisa Lebih Rendah
Jakarta (Suara Karya): Realisasi defisit anggaran tahun 2008 kemungkinan bisa lebih rendah dari target proyeksi defisit terakhir oleh Departemen Keuangan sebesar 1,6-1,7 persen. Hal ini mengingat banyak hal yang mendorong penurunan defisit itu, seperti penurunan harga minyak dunia. "Belum tentu defisit akan sebesar itu, bisa saja turun karena berbagai hal," kata Deputi Kemenneg PPN/Bappenas Bidang Pendanaan Pembangunan Lukita Dinarsyah Tuwo, di Jakarta, Rabu.Namun demikian, dia membantah jika kemungkinan penurunan defisit anggaran tersebut dikaitkan dengan masih rendahnya dan belum optimalnya belanja pemerintah. "Belum tentu tidak optimal. Kalau harga minyak turun terus seperti saat ini 105 dolar AS per barel, maka jumlah subsidi akan turun. Tetapi bisa juga karena penerimaan lebih tinggi dari sasaran. Jadi banyak kemungkinannya," tutur Lukita.
Walaupun diperkirakan bisa lebih rendah, lanjutnya, pemerintah tetap akan mempertahankan skenario pembiayaan defisit yang telah disiapkan. Ini termasuk rencana penarikan pinjaman luar negeri. "Hingga saat ini belum ada rencana yang dikurangi atau ditambah," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah melakukan pelonggaran defisit RAPBN 2009 dari rencana semula sebesar 1,5 persen menjadi 1,9 persen dari PDB. Namun semua tidak dibiayai dari pemotongan anggaran kementerian/lembaga negara (k/l).
"Karena setiap k/l sudah mempunyai rencana kerja pemerintah (RKP) sehingga ada target, sasaran, kinerja, dan hasil. Kalau dipotong, nanti bisa terganggu," kata Menkeu.
Sedangkan untuk memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20 persen, pemerintah terpaksa meningkatkan defisit dari sumber utang sebesar Rp 20 triliun. Ini yang menyebabkan rencana defisit direvisi dari 1,5 persen menjadi 1,9 persen terhadap PDB. Anggaran pendidikan harus ditambah sebesar Rp 46 triliun untuk mencapai 20 persen dari belanja APBN. Ini dilakukan dengan mengurangi beban subsidi energi dan membagi beban dengan daerah.
Menkeu menegaskan, pemerintah akan menjaga tingkat defisit 1,9 persen terhadap PDB dengan sangat hati-hati. Dengan tingkat defisit tersebut, lanjutnya, rasio utang terhadap PDB juga masih 30 persen. (Indra)