Menkeu prediksi pengangguran makin besar

Jakarta (Bisnis.com): Pemerintah memprediksi tingkat pengangguran tahun ini semakin melebar akibat menurunnya pertumbuhan ekonomi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menteri Keuangan sekaligus Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menuturkan sejumlah sektor industri yang berorientasi ekspor berpotensi melakukan PHK karena terimbas krisis finansial global. Sektor industri yang berpotensi merumahkan pekerjanya a.l. industri tekstil dan produk tekstil (TPT), kertas, perkayuan serta industri perkebunan.

"Tercatat sampai Januari 2009, PHK telah terjadi pada industri-industri yang berorientasi ekspor sebanyak 24.790 orang. Adapun yang dirumahkan mencapai 11.703 orang," jelasnya dalam Jawaban Menkeu atas Pertanyaan Lisan Anggota Komisi XI DPR, kemarin malam.

Angka tersebut diperkirakan Menkeu masih bisa bertambah, menyusul ancaman PHK terhadap lebih dari 25.000 tenaga kerja. Sementara sebanyak 19.000 tenaga kerja lainnya terancam dirumahkan. Selain itu, resesi global juga berpotensi memulangkan para tenaga kerja Indonesia di luar negeri akibat terancam PHK. "Seperti yang terjadi di Malaysia karena pertumbuhan ekonominya turun."

Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta menyatakan pemerintah telah menyiapkan tiga skenario simulasi perhitungan pertumbuhan ekonomi yang sesuai dengan penyerapan tenaga kerja. Hal ini mengacu pada realisasi tahun lalu, di mana setiap 1% pertumbuhan ekonomi akan menyerap sekitar 400.000 orang.

Skenario pertama, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%, tingkat pengangguran diperkirakan menjadi 7,9% atau 9,09 juta orang. Lalu masih dengan asumsi yang sama, pertumbuhan kesempatan kerja yang tercipta bisa mencapai 2,2%. Kedua, dengan pertumbuhan ekonomi 5%, angka pengangguran kemungkinan melebar menjadi 9,46 juta orang atau 8,3% dengan pertumbuhan kesempatan kerja 1,87%.

Skenario ketiga, dengan asumsi pertumbuhan 4,5%, tingkat pengangguran bisa meningkat menjadi 8,6% atau 9,82 juta orang dengan pertumbuhan kesempatan kerja 1,53% atau 150.000 lapangan kerja. Selain itu, lanjut Paskah, mengacu pada perhitungan yang sama, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,5%, angka kemiskinan bisa menjadi 28 juta orang atau 12,68%.

Jika pertumbuhan hanya sebesar 5%, jumlah penduduk miskin diperkirakan mencapai 29,32 juta orang atau 12,93%. Kemudian, dengan pertumbuhan 4,5%, angka kemiskinan meningkat jadi 13,34% atau mencapai 30,24 juta orang. "Dengan asumsi, peningkatan pendapatan masyarakat akibat peningkatan growth. Ini berhubungan dengan program stimulus, seberapa optimal growth yang harus dicapai," tegasnya.(yn)