Pemerintah Ajukan Revisi Anggaran Negara

Pemerintah akan mengajukan revisi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2009 kepada Dewan Perwakilan Rakyat hari ini. "Ya, besok (hari ini) akan kami ajukan," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu di Jakarta kemarin.

Selain itu, pemerintah akan mengajukan penurunan defisit dan jumlah penerbitan Surat Utang Negara. Menurut Anggito, yang paling signifikan dari perubahan rancangan anggaran ini adalah strategi pembiayaan. "Sebagian akan beralih dari pasar ke nonpasar," katanya.

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan pemerintah dan Dewan sudah sepakat membicarakan kembali draf anggaran negara untuk mengakomodasi perkembangan ekonomi global. Beberapa asumsi ekonomi direvisi sesuai dengan kondisi terbaru.

Menurut Harry, berdasarkan pembicaraan informal antara pemerintah dan DPR sebelumnya, ada beberapa perubahan asumsi ekonomi yang disepakati. Pertumbuhan ekonomi, misalnya, yang semula dipatok 6,3 persen diturunkan menjadi 6,1 persen. Inflasi yang semula disepakati 6,2 persen akan dinaikkan menjadi 7 persen.

Sedangkan Sertifikat Bank Indonesia 8 persen dinaikkan menjadi 8,5 persen. Adapun nilai tukar rupiah 9.150 per dolar Amerika menjadi 9.300. Harga minyak US$ 95 per barel berubah menjadi US$ 90 dan lifting tetap 960 ribu barel per hari. Sementara itu, defisit turun dari 1,7 persen menjadi 1,3 persen.

Harry mengatakan asumsi ekonomi yang disepakati bersama sebelumnya rawan terkoreksi sehingga harus disesuaikan dengan kondisi terbaru. Harga minyak yang cenderung menurun perlu dipasang pada harga yang lebih rendah. "Mungkin bisa ke US$ 85 per barel," katanya.

Menurut Harry, pemerintah punya satu hari untuk membahas dan menyepakati perubahan RAPBN 2009 guna mengadopsi dampak krisis

Sumber : E-kliping (Koran Tempo 13 Oktober 2008)