Laju Ekonomi Mulai Melambat
Jakarta (Sindo) - Dampak krisis keuangan global terhadap perekonomian nasional semakin terasa.Pada kuartal IV 2008,ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,2% secara tahunan. Angka itu melambat dibanding kuartal III 2008 sebesar 6,1%.
Kita sepakat mengatakan, Indonesia sudah terkena dampak krisis keuangan global pada kuartal IV/ 2008, ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Jakarta kemarin. BPS melansir pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV/2008 minus 3,6% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara jika secara tahunan atau dibandingkan kuartal IV/2007,ekonomi tumbuh 5,2%. Dengan demikian, sepanjang 2008 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1%. Kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV dibanding kan kuartal III, sebenarnya merupakan pola tahunan dalam tiga tahun terakhir.
Namun, pada kuartal IV 2008, kontraksi lebih dalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Krisis ekonomi sudah menjalar sehingga membuat kontraksi saat ini jauh lebih dalam, ujarnya Pertumbuhan negatif pada kuartal IV/2008 terutama akibat sektor pertanian turun tajam,yaitu minus 22,9%.
Sektor lainnya yang melemah, yakni perdagangan, hotel dan restoran minus 2,6%; serta industri pengolahan minus 2,5%. Kendati begitu, Rusman menilai tekanan krisis keuangan global di Indonesia tidak separah negara-negara lain yang mengandalkan ekspor sebagai penopang perekonomian.
Menurutnya, Singapura, Malaysia, dan Jepang telah menyatakan pertumbuhan ekonominya negatif akibat krisis global. Kalau untuk 2009,hanya dua negara besar yang masih optimistis laju pertumbuhan ekonominya masih positif, yakni China dan India. Ditambah Indonesia, jadi hanya ada tiga negara yang pertumbuhannya diproyeksikan positif, ujarnya.
Soal kontribusi stimulus fiskal senilai Rp71,3 triliun terhadap perekonomian nasional,Rusman berpendapat, efektivitasnya tergantung komposisi anggaran. Dampak stimulus akan lebih nyata bila alokasi anggaran diperbesar pada sektor infrastruktur.
Belanja infrastruktur akan membantu menjaga tingkat konsumsi rumah tangga yang tahun lalu kontribusinya terhadap perekonomian mencapai 61%, papar Rusman. Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan, akibat melemahnya laju pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan fokus pada upaya untuk menjaga perekonomian dalam negeri.
Ekonomi domestik diyakini bisa mengompensasi tren penurunan sektor-sektor ekonomi lain. Hasil yang disampaikan BPS makin menggarisbawahi pentingnya menjaga momentum aktivitas ekonomi domestik,terutama yang berbasis pada demand domestik karena dialah yang bisa mengompensasi situasi eksternal yang pasti melemah, ujarnya di Gedung DPR,Jakarta kemarin.
Sri Mulyani berharap berbagai stimulus,baik fiskal berupa penurunan pajak penghasilan (PPh) maupun program infrastruktur padat karya,dapat mengompensasi pelemahan perekonomian global.Pemerintah pusat dan daerah harus menjalankan berbagai stimulus itu.
Bagi pemerintah, antisipasi respons yang sudah direncanakan dan tentu disetujui oleh Dewan harus dilaksanakan pusat dan daerah. Itu urgen bagi semua pemain, baik pembuat putusan pusat dan daerah, juga tentu saja dunia usaha, lanjutnya.
Sri Mulyani menambahkan, pelemahan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2008 sudah diprediksi sebelumnya. Kondisi ini diperkirakan terus berlanjut hingga pertengahan 2009. Sebagai respons pertama, pemerintah telah melakukan penyesuaian terhadap berbagai asumsi makro ekonomi terutama pertumbuhan ekonomi dari 6% menjadi 4,5%.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mengakui adanya kemungkinan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai batas bawah 4% pada 2009. Ini terjadi bila perekonomian dunia terus memburuk. Kalau situasi global memburuk, ya bisa mendekati batas bawah, tapi kita harapkan jangan sampai melewati batas bawah, ujarnya.
Pemerintah sebelumnya telah mengoreksi kembali laju pertumbuhan ekonomi 2009 ke level 4,7% dari 5,0%. Ini terjadi lantaran kondisi global memburuk sehingga pertumbuhan ekspor kemungkinan hanya 0-5%,turun dari 9-10% tahun 2008 lalu. Ekonom Senior Hendrawan Supratikno menilai perlambatan ekonomi pada kuartal IV 2008 menunjukkan jika krisis keuangan global mulai menjalar ke sektor riil.
Kondisi ini akan bertambah parah pada semester I 2009. Kita akan semakin terpukul oleh penurunan kinerja ekspor migas dan nonmigas pada semester I 2009. Kondisi ini diperparah oleh tidak menariknya investasi portofolio akibat penurunan BI Rate, ujarnya.
Dia pesimistis stimulus fiskal senilai Rp71,3 triliun bisa mendorong pergerakan sektor riil lantaran sebagian besar bukan berupa belanja langsung. Dalam penilaiannya, dari total stimulus tersebut, hanya sekitar Rp3 triliun di antaranya yang berupa belanja langsung. (meutia rahmi/ zaenal muttaqin)