Ekonomi Mulai Melambat
Jakarta(Sindo) - Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III (Juli-September) 2008 mulai melambat akibat krisis finansial global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal III 2008 ekonomi tumbuh 3,5% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter), dan 6,1% terhadap periode yang sama 2007 (year on year). Angka itu melambat dibanding pertumbuhan pada kuartal III 2007, masing-masing sebesar 3,9% untuk kuartalan dan 6,5% year on year.
Pertumbuhan ekonomi masih bagus, tetapi dalam proses perlambatan, ujar Kepala BPS Rusman Heriawan saat memberikan keterangan pers di Jakarta kemarin. Dia menuturkan, situasi kritis terjadi pada subsektor industri pengolahan, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki.Subsektor tersebut paling terkena imbas krisis global.
Secara total, sumbangan industri pengolahan mencapai 27% terhadap produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2008 yang berdasarkan harga berlaku senilai Rp1.343 triliun. Sedangkan sumbangan TPT terhadap total PDB hanya 2%, ungkapnya. Meski memberikan kontribusi kecil pada PDB,kondisi industri TPT patut diperhatikan pemerintah lantaran banyakmenyeraptenagakerja. Selainterimbas krisis global,industri TPT nasional juga harus menghadapi serbuan produk impor China dan kondisi pasar dalam negeri yang sudah jenuh.
Harga pakaian sekarang murah-murah.TPT (itu industri) padat karya dan harus segera diselamatkan, lanjutnya. Rusman mengatakan, sektor pertambangan dan penggalian pada kuartal III juga tercatat tumbuh minus 0,3% dibanding periode yang sama 2007. Ini lantaran penurunan tajam harga-harga tambang. Situasi serupa dialami sektor pertanian dan perkebunan, terutama seluruh bidang usaha yang terkait produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO).
Menurut Rusman, ekspor CPO masih tumbuh luar biasa hingga kuartal kedua 2008, sehingga bisa menopang ekspor nonmigas untuk tumbuh 23,2%. Begitu memasuki kuartal III, ekspor CPO langsung turun dan menekan ekspor nonmigas. Perlambatan ekonomi sedikit tertahan oleh sektor industri pengolahan kelas kecil dan mikro (IKM) yang berkutat di bidang subsektor makanan dan minuman.
Subsektor ini selama kuartal III 2008 tumbuh tinggi karena kenaikan permintaan saat bulan puasa dan Lebaran lalu. Pada awal November lalu, BPS mengumumkan pertumbuhan industri pengolahankelasbesardan sedang pada kuartal III hanya 1,6% dibandingkan periode yang sama 2007.Namun, kemarin secara total industri pengolahan tercatat tumbuh 4,3%.
Waktu itu tidak dimasukkan kecil dan mikronya.Manufaktur sangat tertolong oleh IKM, karena 70 hingga 80% total output manufaktur disumbang IKM, beber Rusman. Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono menilai angka pertumbuhan ekonomi year on yearsebesar 6,1% pada kuartal III 2008 masih cukup bagus, kendati terjadi perlambatan. Masih lumayan 6,1% dalam situasi seperti ini,coba bayangkan.Saya kira masih lumayan, tapi memang melambat, ujar Boediono.
Dia melanjutkan, untuk 2008, BI masih yakin angka pertumbuhan cukup baik, kendati masih ada satu kuartal lagi yang belum berakhir. Yang perlu kita waspadai kuartal IV nanti bagaimana. Tapi secara total 2008 saya kira masih cukup baik, katanya.
Lebih Baik
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengakui pertumbuhan ekonomi telah melambat akibat krisis global.Namun,kondisi ekonomi nasional kuartal III 2008 jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain seperti Singapura yang sudah resesi dan China yang tahun ini mengalami pelambatan hampir 2%.
Perbandingannya harus dengan negara-negara lain. Kita sudah melambat, tetapi tidak signifikan, ujarnya. Menurut dia,realisasi pertumbuhan PDB kuartal III 2008 secara tahunan masih sesuai proyeksi pemerintah, 6,1-6,2%. Pada kuartal IV 2008, ekonomi diperkirakan tumbuh di bawah 6%,sehingga secara keseluruhan perekonomian 2008 masih bisa tumbuh hingga 6%.
Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) Toni Prasetiantono menilai dampak krisis keuangan dunia belum sepenuhnya dirasakan pada kuartal III 2008. Perlambatan belum berdampak 100%, karena jika kita tarik dari titik kebangkrutan Lehman Brothers, 15 September 2008, maka perlambatan baru benar- terasa pada kuartal IV 2008,katanya.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Fadhil Hasan mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam sisa waktu 2008.Pemerintah mesti segera mengidentifikasi sektor-sektor industri yang paling menghadapi masalah. Harus spesifik karena setiap subsektor industri memiliki persoalan berbeda-beda, apakah masalah bahan baku atau hambatan ekspor, katanya.