BI Jaga Rupiah Tetap Realistis
Jakarta(Sindo) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga sempat melewati Rp12.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) bertekad menjaga nilai tukar rupiah tetap berada pada level yang realistis.
”Kita tidak akan membiarkan pasar membuat kurs menjadi tidak realistis, yang bisa merugikan perekonomian Indonesia,” ujar Gubernur BI Boediono di Gedung Departemen Keuangan,Jakarta, kemarin. Upaya itu akan dilakukan melalui berbagai instrumen yang dimiliki bank sentral.Boediono juga meminta agar masyarakat yang memegang dolar AS mengonversikannya ke rupiah.
”Pokoknya kita buat yang baik-baik bagi ekonomi,” tandas mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan kemarin.Di pasar spot antarbank Jakarta, rupiah bahkan sempat diperdagangkan pada level Rp12.050 per dolar AS,sebelum akhirnya menguat hingga menjadi Rp11.750 pada sore hari. Boediono menilai,pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini salah satunya diakibatkan tingginya permintaan dolar AS di pasar spot antarbank, terutama dari korporasi untuk pembayaran utang.Kenaikan permintaan dolar terjadi sejak pertengahan bulan ini.
”Saya kira ini masih pada penawaran dan permintaan. Ada kebutuhan korporat untuk impor dan saya kira BUMN juga membutuhkan itu,”katanya. Boediono menambahkan, berbagai faktor eksternal turut menekan rupiah. Menurutnya, penurunan kurs juga dialami negaranegara lain. ”Itu tidak hanya di sini (Indonesia) saja, karena suasana di luar juga begitu,”kata Boediono.
Di tempat terpisah, kendati rupiah terus melemah, pemerintah tetap menolak memberlakukan penjaminan dana nasabah secara penuh (blanket guarantee). Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menilai, blanket guarantee tidak bisa diterapkan lantaran pengalaman buruk Indonesia pada saat menerapkan kebijakan tersebut pada 1998. ”Kita sudah melakukan blanket guarantee pada 1998, tapi justru terjadi capital flight besar-besaran.
Justru bunga 60% dan inflasi 80% setelah blanket guarantee. Kurs juga Rp17.000 setelah blanket guarantee. Jadi tidak seperti perkiraan,” papar Wapres saat membuka Seminar Proyeksi Ekonomi 2009 di Hotel Shangri-La, Jakarta, kemarin. Kalla menuturkan, di Indonesia ini ada empat macam bank,bank pemerintah,bank asing, bank campuran, dan bank swasta. Berdasarkan peraturan yang baru, pemerintah menjamin simpanan hingga Rp2 miliar.
Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) A Tony Prasetiantono mengatakan, nilai tukar rupiah berpeluang menguat hingga kisaran Rp10.000–10.500 per dolar AS apabila pemerintah segera menerapkan blanket guarantee. Jika tidak diterapkan, nilai tukar cenderung melemah. ”Padahal kalau melemah di Rp11.000–11.500, ada peluang terjadinya imported inflation (inflasi barangbarang impor),”katanya.
Bertindak Cepat
Pengamat pasar uang Farial Anwar menambahkan, BI harus meningkatkan pengawasan agar spekulasi terhadap rupiah dapat ditekan. Implementasi peraturan pembelian valas yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 10/28/ PBI/ 2008 harus diawasi secara ketat.
”Dokumen perlu diperiksa dengan benar untuk menghindari aksi spekulan,” ujarnya di Jakarta kemarin. Kendati begitu,Farial menilai pelemahan nilai tukar rupiah masih wajar lantaran kondisi keuangan global yang terus bergejolak. ”Kisaran Rp11.500–11.900 masih wajar dalam kondisi sekarang,” katanya. Penguatan nilai tukar dolar AS terjadi atas semua mata uang dunia seiring meningkatnya kebutuhan likuiditas dalam bentuk dolar.
Mata uang ini terus diserbu lantaran perbankan AS semakin sulit meminjamkan dolar, baik kepada institusi, individual, maupun antarbank sendiri. Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Adi Sasono berpandangan,pemerintah harus cepat mengambil tindakan agar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak semakin terpuruk. ”Saat ini ada problem makroekonomi yang prinsipnya turunnya kepercayaan.
Karena itu, pemerintah harus cepat bertindak.Kalau tidak, maka kejatuhan rupiah menjadi keniscayaan,” kata Adi Sasono. Dia mengatakan, tindakan tersebut harus dilakukan segera agar tidak terjadi penarikan uang besar-besaran. Penarikan terjadi lantaran keterlambatan Pemerintah Indonesia untuk memberikan jaminan bagi simpanan di atas Rp2 miliar.
”Menghadapi situasi seperti ini tidak mudah.Pada waktu krisis dulu kita dibantu negara-negara Barat tetapi saat ini mereka juga sedang krisis,”lanjutnya. Di bagian lain, para eksportir menanggapi dingin melemahnya nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp12.000 per dolar AS. Menurut mereka potensi kenaikan pendapatan dalam rupiah terkompensasi oleh peningkatan harga bahan baku.
”Penerimaan eksportir memang akan meningkat, namun di sisi lain biaya impor bahan baku juga akan melonjak,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro. Dia justru menilai pelemahan rupiah akan memberi efek negatif pada semua sektor,terutama sektor riil di dalam negeri. Perusahaan manufaktur yang bakal terkendala meliputi industri baja, tekstil, garmen, alas kaki dan sepatu,yang selama ini mampu menyerap jumlah tenaga kerja dalam jumlah besar.
Secara keseluruhan,ujar Toto, eksportir menilai bahwa nilai tukar yang ideal adalah pada kisaran Rp9.500 per dolar AS. Pada level itu, kalangan dunia usaha domestik bisa bergerak. Dia menambahkan, penurunan nilai tukar rupiah juga berpotensi menggerus daya beli masyarakat. Hal ini selanjutnya akan memperlemah permintaan konsumen di dalam negeri.
”Kalau sudah di kisaran Rp12.000 per dolar, ini sulit bagi kami untuk membuat perencanaan produksi, karena biaya-biaya di dalam negeri juga semakin membengkak,” katanya. Dia meminta pemerintah bertindak cepat. Salah satunya pemerintah harus mampu menjaga sektor perbankan tetap sehat, antara lain dengan memberikan jaminan hingga 100%.
Selain itu juga berupaya menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, terutama pada jenis solar, memberi subsidi bunga pinjaman, dan menjadwal ulang kredit investasi.