Dollar AS Mencari Keseimbangan Baru

PHUKET, Kompas — Nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain di dunia dalam proses mencari keseimbangan baru sehingga posisinya yang ada sekarang belum merupakan tingkatan nilai tukar yang stabil, termasuk dengan rupiah. Meski demikian, faktor yang bisa membuat dollar AS melemah masih sama kuat dengan faktor yang bisa membuat dollar tetap menguat.

Hal ini dikatakan Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Phuket, Thailand, Minggu (22/2).

Menurut Sri Mulyani, faktor yang bisa menekan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain adalah adanya kebutuhan Pemerintah Amerika untuk mencari sumber dana untuk menutup kebutuhan stimulus fiskal yang mencapai total 1,5 triliun dollar AS. Stimulus itu akan ditutup dengan cara menerbitkan obligasi dalam jumlah besar.

Akibat penerbitan obligasi yang dilakukan dalam satu tahun dan dengan nilai yang sangat besar, maka nilai obligasi Amerika diperkirakan akan menurun. Biasanya, penurunan nilai obligasi suatu negara akan diikuti perlemahan mata uangnya. Oleh karena itu, jika yield (imbal hasil) obligasi Amerika turun, dollar AS pun diperkirakan akan melemah.

Namun di saat yang sama, China tidak akan membiarkan begitu saja dollar AS melemah karena China memiliki cadangan devisa dollar AS dalam jumlah yang sangat besar hingga melampaui 1.000 triliun dollar AS. Dengan cadangan devisa begitu banyak, China akan merugi jika nilai dollar AS melemah. "Oleh karena itu, dollar AS masih mencari posisi barunya hingga saat ini," ujar Sri Mulyani.

Meski demikian, Pemerintah Indonesia telah memutuskan nilai tukar rupiah ada di level Rp 11.000 per dollar AS dan ditetapkan dalam proyeksi APBN 2009. Nilai tukar itu dianggap sebagai posisi yang paling pas sebagai dasar perhitungan ekonomi hingga akhir tahun 2009.

"Dalam Nota Keuangan kami tetapkan nilai tukarnya Rp 9.400 per dollar AS, sedangkan di APBN 2009 yang kami proyeksi akan berubah menjadi Rp 11.000 dollar AS. Jadi kami masih menunggu persetujuan DPR," ujar Sri Mulyani.