DJSEF Dorong Literasi Fiskal Mahasiswa UKSW melalui Skenario Fiskal APBN 2026

Salatiga, (21/01/2026) – Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan menyelenggarakan forum Skenario Fiskal APBN di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Rabu (21/01). Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat pemahaman mahasiswa dan akademisi mengenai arah kebijakan fiskal serta peran strategis Asumsi Dasar Ekonomi Makro (ADEM) dalam proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

APBN sebagai instrumen utama kebijakan fiskal memegang peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, DJSEF memandang perlu membuka ruang dialog yang konstruktif dengan kalangan kampus guna meningkatkan literasi publik, sekaligus menangkal potensi misinformasi terkait pengelolaan keuangan negara. Forum ini menjadi sarana komunikasi transparan mengenai proses penyusunan APBN yang dimulai dari Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF), Rancangan APBN, hingga penetapan APBN setiap tahunnya.

Direktur Direktorat Strategi APBN (DSAPBN) DJSEF, Wahyu Utomo, menekankan bahwa perumusan kebijakan fiskal menuntut kehati-hatian sekaligus ketepatan momentum. “Mengelola APBN itu adalah seni tentang keseimbangan. Tahu kapan kita harus maju, dan kapan harus menahan,” ujar Wahyu dalam paparannya.

Melalui kuliah umum dan sesi asistensi teknikal, peserta diajak memahami keterkaitan antara ADEM dengan postur APBN, termasuk dampaknya terhadap pendapatan, belanja, dan pembiayaan negara. Diskusi juga menyoroti pentingnya menjaga disiplin fiskal melalui penerapan fiscal rule, antara lain batas defisit anggaran maksimal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan rasio utang maksimal 60 persen terhadap PDB, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Kegiatan ini dirancang interaktif melalui pembagian kelas simulasi APBN yang memungkinkan mahasiswa melakukan perhitungan dan analisis langsung menggunakan tools simulasi. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga pengalaman praktis dalam melihat bagaimana perubahan asumsi ekonomi memengaruhi postur APBN dan kebijakan fiskal secara keseluruhan.

Melalui penyelenggaraan Skenario Fiskal APBN ini, DJSEF berharap dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih komprehensif di kalangan generasi muda dan akademisi mengenai kebijakan fiskal Indonesia, sekaligus mendorong partisipasi publik yang lebih aktif dan kritis dalam mengawal APBN agar tetap kredibel, sehat, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (DSAPBN/mdf)