ASEAN+3 Naikkan Dana Cadangan Krisis

PHUKET (Sindo) � Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara bersama China, Jepang, dan Korea Selatan (ASEAN+3) menyepakati peningkatan dana cadangan darurat hingga menjadi USD120 miliar dari sebelumnya USD80 miliar.

Peningkatan dana itu sebagai bentuk antisipasi ASEAN+3 terhadap kemungkinan meluasnya krisis finansial global. Para menteri keuangan ASEAN+3 menyatakan, penyiapan dana tersebut bertujuan memastikan stabilitas regional dan mendorong kepercayaan pasar.

�Kesepakatan ini akan difinalisasi pada pertemuan tahunan selanjutnya, Mei mendatang, yang akan digelar di Bali,Indonesia,� demikian pernyataan resmi para menteri keuangan ASEAN+3 seusai pertemuan di Phuket,Thailand,kemarin.

Setelah krisis ekonomi 1997�1998, ASEAN bersama China, Jepang, dan Korea Selatan, sepakat membentuk skema bilateral pertukaran mata uang (currency swap) demi memperkuat cadangan devisa tiap negara. Langkah ini dikenal dengan Chiang Mai Initiative. ASEAN+3 ingin meningkatkan perjanjian tersebut dari bilateral menjadi multilateral.

Pada awalnya ASEAN+3 berencana membentuk dana multilateral senilai USD80 miliar.Namun, sejak akhir tahun lalu beberapa negara mewacanakan kemungkinan penambahan dana itu menjadi USD120 miliar.

Para menteri yang hadir pada pertemuan di Phuket kemarin berasal dari Brunei Darussalam,Kamboja,Indonesia, Laos,Malaysia,Myanmar,Filipina, Thailand, Singapura, dan Vietnam. Menteri Keuangan Jepang Kaoru Yosano tidak bisa hadir,hanya diwakili sekretaris kementerian keuangan.

Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva mengatakan, dana cadangan darurat akan berfungsi sebagai penyangga negara-negara ASEAN+3 dalam menghadapi krisis. Saat berkunjung ke Indonesia pekan lalu, Abhisit menyatakan, negara ASEAN yang bergantung pada ekspor mengkhawatirkan adanya proteksionisme dari negara-negara tujuan ekspor.

�Saya berharap pertemuan negara-negara ASEAN akan membahas proposal tersebut pada pertemuan minggu depan agar kita siap menghadapi krisis ini. Kita tidak akan tergoda untuk memanfaatkan segala proteksionisme,� tambahnya. Sekretaris Menteri Keuangan Thailand Suparut Kawatkul menyatakan, pihaknya akan melihat detail peningkatan dana cadangan darurat.

�Saya harap akan ada kemajuan sebelum diformulasikan pada pertemuan menteri keuangan ASEAN+3 di Bali pada Mei mendatang,� ujar dia. Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij menyatakan, pertemuan di Phuket akan memberikan sinyal kuat kepada dunia bahwa ASEAN berkomitmen dalam menghadapi perlambatan ekonomi.

�Para menteri keuangan di semua negara perlu menemukan cara mendasar dan memberikan solusi efektif sebagai langkah menghadapi kondisi yang tidak menentu ini,�katanya. Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan menyatakan, diskusi panjang di kawasan regional akan menemukan cara untuk menolong akibat terburuk dari krisis perekonomian global yang menimpa Asia.

�Ini salah satu mekanismenya.Meski tidak akan menggantikan peran Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), hal itu akan menjadi alternatif di kawasan Asia,� kata Surin.

�Ini akan menjadikan dukungan paling nyata dari ASEAN,�katanya. Surin menambahkan, pertemuan awal yang digelar kemarin pagi waktu setempat dinilai sebagai sesuatu yang positif karena semua perwakilan kementerian keuanganASEAN menyepakati prinsip peningkatan cadangan dana darurat yang diusulkan. Menurut dia, negara-negara ASEAN akan memberikan kontribusi sebesar 20% dari total dana yang disepakati.

Sementara tiga negara lain,yakni China, Jepang, dan Korsel, akan memberikan 80% kontribusi dari total USD120 miliar. Sementara itu, Menteri Keuangan Korsel Yoon Jeung-hyun menyatakan krisis keuangan global kali ini memerlukan penanganan dan kerja sama kuat di ASEAN.

Dia meyakini, pertemuan multilateral kali ini adalah contoh utama dalam usaha kolaborasi antarnegara. �Sayangnya negara kami saat ini sedang berhadapan dengan tantangan besar akibat melemahnya perekonomian global dan turbulensi keuangan,�kata Jeung-hyun.

G-20 Gelar Pertemuan

Para pemimpin negaranegara G-20 kemarin juga menggelar pertemuan untuk membahas upaya mengatasi krisis keuangan global. Seusai pertemuan, mereka menyatakan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) harus memiliki dana sedikitnya USD500 miliar untuk mengantisipasi meluasnya dampak krisis finansial global di masa datang.

�Kami memutuskan bahwa institusi keuangan internasional harus memiliki dana sebesar itu yang memungkinkan mereka tidak hanya bisa menangani krisis, melainkan juga mampu mencegah krisis,� kata Perdana Menteri Inggris Gordon Brown pada pertemuan pemimpin G-20 di Berlin, Jerman, kemarin.

Dia menambahkan, terjadinya krisis ekonomi di kawasan timur Eropa bisa mengancam Eropa Barat.Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya masalah sehingga memerlukan dukungan IMF. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, para pemimpin G-20 menyepakati dukungan terhadap usulan untuk melipatgandakan ketersediaan dana IMF.

�IMF harus dalam posisi membantu para anggotanya secara fleksibel dan cepat jika mereka mengalami kesulitan,� demikian bunyi pernyataan bersama G-20.Pada pertemuan di Berlin kemarin, pemimpin G-20 juga menyepakati perlunya aturan terbaik dalam sistem pasar finansial global dan turunannya.

Sebelumnya IMF telah beberapa kali mendapat peringatan dari para pemimpin negara maju agar meningkatkan kapasitas dalam membantu anggotanya, terutama saat krisis ekonomi. Gordon Brown tahun lalu sempat melakukan road show ke negara-negara Teluk dan mengimbau agar negara kaya minyak itu bersedia memberikan kontribusi terhadap IMF. Namun, hingga saat ini, baru Jepang yang menyatakan kesediaannya memberikan dana kepada IMF senilai USD100 miliar. (AFP/Rtr/yanto kusdiantono)