Optimistis pada Pasar Ritel
Pemerintah optimistis pasar ritel masih prospektif menjadi salah satu sumber pendanaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ini antara lain tampak dari realisasi penyerapan sukuk yang mencapai tiga kali lipat.
Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Senin (23/2) di Jakarta, saat memaparkan hasil penjualan sukuk ritel.
Sukuk ritel yang diterbitkan 25 Februari 2009 terjual Rp 5,556 triliun atau tiga kali lipat dari target semula Rp 1,17 triliun. �Ini tanda pangsa pasar domestik masih baik. Sangat positif bagi pemerintah yang perlu mendanai defisit APBN,� ujarnya.
Semula agen penjual tidak menetapkan target awal yang ambisius, mengantisipasi dampak krisis global. Namun, sebagian besar dari 13 agen penjual sukuk ritel meminta penambahan.
Sekitar 45 persen pembeli sukuk atau 6.548 orang adalah penabung individual yang membeli dengan nominal kurang dari Rp 100 juta. Sukuk ijarah terbit dengan imbalan kupon tetap (fixed coupon) 12 persen per tahun dan pembayaran secara bulanan.
Bank Mandiri menjadi agen penjual terbanyak, mencapai Rp 1,3 triliun. Hal ini menandakan banyak nasabahnya yang pindah dari tabungan ke sukuk.
Menurut Sri Mulyani, pemerintah akan tetap mencari dana ke pasar dengan menerbitkan surat berharga negara apabila harga rasional dan jatuh temponya tidak memberatkan kewajiban pengelolaan utang.
Pemerintah menggunakan semua sumber pendanaan yang memungkinkan untuk menutup defisit APBN 2009, yang mencapai 2,6 persen dari keseluruhan APBN. Defisit APBN 2009 mencapai Rp 136,9 triliun dari semula ditargetkan Rp 51,3 triliun.
Defisit antara lain akan dibiayai melalui sisa anggaran lebih APBN 2008 sebesar Rp 51,3, tambahan utang Rp 44,5 triliun, dan dukungan pinjaman siaga
Pinjaman siaga itu berasal dari beberapa lembaga multilateral dan bilateral. Pada Sabtu dalam pertemuan ASEAN Plus 3, Indonesia dan Jepang sepakat bekerja sama dalam penerbitan samurai bond 1,5 miliar dollar AS, yang efektif tahun ini sampai tahun 2010.
Pemerintah juga menghimpun dana siaga sebesar 18 miliar dollar AS melalui bilateral swap agreement (BSA). Di dalamnya termasuk Rp 12 miliar dollar AS dari Jepang, 4 miliar dollar AS dari Korea Selatan, dan 2 miliar dollar AS dari China. BSA akan dikelola Bank Indonesia, untuk memperkuat cadangan devisa.
Gubernur BI Boediono seusai bertemu Dubes Jepang untuk Indonesia kemarin mengatakan, realisasi kerja sama itu segera ditindaklanjuti dengan penandatanganan kesepakatan dengan Gubernur Bank Sentral Jepang.
Menurut Boediono, fasilitas ini bersifat nonkomersial dengan biaya bunga di bawah pasar. �Perkiraan kami libor plus 1,5 persen. Plafon 12 miliar AS dipakai apabila diperlukan,� kata Boediono.
Cadangan devisa saat ini 50,89 miliar dollar AS. Dana dari bilateral swap dapat dicairkan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.
�Adanya kontijensi loan dari ADB, Bank Dunia, atau yang lain akan menambah dollar pada cadangan devisa dan memperkuat rupiah,� ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu.
Pemerintah sudah merevisi asumsi nilai tukar dollar AS terhadap rupiah dari Rp 9.400 menjadi Rp 11.000.
Sumber : E-Kliping (Kompas 24 Februari 2009)