LIPI: Pertumbuhan Ekonomi Tidak Disertai Industri

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II tahun 2008 yang mencapai tumbuh 6,4 persen, tidak disertai pertumbuhan industri yang sigifikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau P2ELIPI, Latif Adam, saat jumpa pers Ekonomi naik industri stagnan mencari terobosan kebijakan industri di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (28/8).

Hasil penelitian P2ELIPI memaparkan pertumbuhan ekonomi yang cukup meyakinkan itu tidak disertai pertumbuhan industri yang signifikan. Karena motor penggerak pertumbuhan ekonomi masih terfokus kepada sektor non tradable, yakni listrik, gas dan air minum, konstruksi, perdagangan, transportasi dan telekomunikasi, hotel dan restoran serta keuangan dan jasa-jasa.

Sedangkan sektor tradable, yakni pertanian, pertambangan dan industri pengolahan masih sangat kurang. "Sumbangan sektor non tradable terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 73,4 persen. Sedangkan sektor tradable hanya 26,6 persen," kata Latief.

Lebih lanjut Latief mengatakan, apabila pola pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2008 terus berlanjut, pemerintah akan mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.

Karena itu, kata Latief, pemerintah harus lebih serius menggarap sektor tradable. Pasalnya sektor industri dapat mendorong ekspor dan dapat menyerap tenaga kerja yang tinggi dibanding sektor non tradabel.

Saat ini, masih banyak masalah yang dialami industri nasional, termasuk Surat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri tentang listrik, kebijakan abu-abu dalam penanganan limbah batu bara, urusan perizinan yang belum jelas, relokasi industri TPT serta kekurangan tenaga kerja terampil.

Kompas.Com