Stimulus Tahap ke-2 Didanai Sisa "Standby Loan"
Jakarta, Kompas - Pemerintah akan menambah dana stimulus fiskal dari dana standby loan pinjaman luar negeri yang masih tersisa. Dalam stimulus fiskal tahap pertama yang sudah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pemerintah tidak menghabiskan seluruh dana stanby loan yang besarnya mencapai 5,5 milliar dollar AS.Pemerintah dalam revisi APBN 2009 menaikkan tambahan utang baru menjadi Rp 44,5 triliun. Kenaikan itu disebabkan karena pemerintah perlu menambah stimulus fiskal sebesar Rp 2 triliun sehingga menjai Rp 73,3 triliun. Penambahan utang baru itu sebagian diambilkan dari dana standby loan dan penerbitan surat utang (obligasi) dan penambahan program loan.
Pemerintah dalam hal ini Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, kemarin juga telah mengumumkan adanya persetujuan lembaga dan negara donor seperti Australia, Jepang, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) dengan total pinjaman siaga sebesar 5,5 milliar dollar AS.
“Tadi malam mereka sudah menandatangani persetujuannya pinjaman melalui mekanisme deffered drawdown option (DDO). Bank Dunia setuju sebesar 2 milliar dollar AS, Jepang setuju memberikan 1,5 milliar dollar AS, Australia 1 milliar dollar AS, dan ADB 1 milliar dollar AS,” kata Sri Mulyani di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, utang DDO itu akan efektif dan dapat ditarik oleh Pemerintah Indonesia jika penerbitan surat utang negara (SUN) baik domestic maupun internasional sangat mahal dan tidak rasional akibat suplai capital dunia yang drop. Bahkan menurutnya, walaupun penjualan obligasi kita laris manis, yield yang tinggi dan kondisi keuangan saat ini membuat prasarat itu sudah tercapai.
Sri Mulyani menambahkan, kemungkinan pemerintah akan menambah jumlah stimulus dan mengajukannya ke DPR dalam pembahasan perubahan APBN 2009 pada Juni 2009 mendatang. Namun sebelum itu, pemerintah tetap akan berpegang pada kesepakatan besaran stimulus yang sudah disepakati bersama DPR sebesar Rp 73,3 triliun.
“Pemerintah akan merealisasikan dulu stimulus yang sudah disepakati minggu ini, setelah itu baru akan dilihat pada tengah semester mendatang,” katanya. Menurutnya, besaran stanby loan melalui mekanisme DDO sebesar US$ 5,5 milliar sudah cukup memadai pada 2009-2010 ini. Namun pemerintah tetap mencoba untuk memperbesar pinjaman program ke beberapa negara donor, walau tak mau menyebut berapa besarannya dan ke negara mana saja.
Sementara itu Sekertaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Syahrial Loetan mengatakan pemerintah kemungkinan akan memakai sisa dana stanby loan untuk menambah stimulus fiskal tahap ke-2 nanti. Namun Syahrial belum bisa mengatakan berapa besar kemungkinan angka yang bisa diberikan pemerintah.
“Stanby loan kita sementara ini kan tidak dipakai penuh. Nah standby loan yang tidak dipakai kan bisa saja untuk menambah stimulus,” kata Sekertaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Syahrial Loetan usai Pertemuan Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat dalam penyusunan RPJMN 2010-2014 di Jakarta, Rabu (4/3).
Penambahan stimulus juga bisa di dapat pemerintah, jika nanti ternyata nilai tukar rupiah naik dibanding asumsi yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 11.000 per US$. Pemberian stimulus tahap-2 akan diutamakan untuk sektor infrastruktur yang banyak menyerap tenaga kerja. Sektor infrastruktur dianggap paling siap untuk menyerap stimulus yang diberikan. “Akan dimasukkan dalam perubahan APBN P dan acuannya Maret 2009 ini,” katanya. (Uji Agung Santosa/Kontan)