Perekonomian Alami Tekanan Berat
Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden.
Jakarta (Suara Karya): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui, meski berbagai upaya dan kebijakan telah direalisasikan untuk mengurangi dampak krisis keuangan global, namun perekonomian Indonesia masih akan mengalami tekanan yang berat.
"Resesi ekonomi dunia belum berhenti, masih berjalan. Meski kita sudah bisa mengelolanya, tetapi saya harus jujur kepada rakyat bahwa resesi global masih memberikan tekanan yang berat," kata Presiden saat membuka sidang Tanwir II Muhammadiyah, di Bandar Lampung, Kamis (5/3).
Menurut Presiden, pemerintah sudah bekerja keras untuk mengantisipasi dampak krisis ini sejak 6 bulan lalu. Segala upaya dilakukan agar tidak terulang kembali kejadian krisis ekonomi pada 1997-1998 yang mengakibatkan kehancuran ekonomi nasional.
"Pemerintah, perbankan, dan ekonom telah berkumpul, bekerja siang dan malam, untuk mengurangi dampak krisis yang sekarang belum usai. Oleh karena itu, kita lakukan yang bisa, agar masalah ini bisa diatasi," katanya.
Presiden menilai, krisis keuangan global terjadi karena praktik-praktik transaksi keuangan yang terlalu rakus. Selain itu juga hanya mengutamakan keuntungan sesaat serta tidak memikirkan aspek-aspek kemanusiaan. "Global governance (pemerintahan dunia) juga tidak bisa menjamah persoalan keuangan masa kini. Ini melengkapi deretan persoalan yang membuat sistem perekonomian dunia rapuh," tuturnya.
SBY lantas mengatakan, masalah ini tidak bisa dibiarkan, sehingga pemerintah harus menyelamatkan perekonomian nasional. Selain itu, Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam penataan kembali perekonomian dunia yang benar. Belajar dari krisis keuangan global ini, perekonomian Indonesia ke depan harus memadukan pendekatan sumber daya alam, ilmu pengetahuan, dan budaya yang semuanya diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Adi Sasono mengatakan, basis ekonomi Indonesia terbilang cukup kuat meski dilanda krisis keuangan global. Ini terjadi berkat dukungan kinerja sektor riil di dalam negeri. "Kekuatan ekonomi kita didukung oleh perekonomian domestik," kata Adi Sasono.
Menurut dia, masyarakat Indonesia hendaknya jangan terjebak dalam pesimisme akibat krisis finansial global yang terjadi. Dalam hal ini, Indonesia relatif tangguh untuk meredam dampak krisis tersebut, karena kekuatan ekonomi Tanah Air didukung sepenuhnya oleh sektor riil yang saat ini masih terus bergerak. "Kita memang terkena dampak. Tapi, saya yakin tidak separah negara-negara lain," ujarnya.
Meskipun nilai ekspor turun, lanjutnya, tapi Indonesia masih memiliki peluang pasar yang demikian terbuka. Produk-produk ekspor yang tidak dapat terserap di pasar dunia dapat dikembalikan lagi ke pasar lokal dengan modifikasi yang disesuaikan. Selain itu, menurut Adi, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat dikelola dalam berbagai sektor, seperti perikanan, pertanian, kelautan, hingga bioenergi. "Jadi jangan pesimistis, kita memiliki basis ekonomi yang memadai," tutur Adi Sasono.
Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, upaya mempertahankan kinerja sektor industri, khususnya yang berorientasi ekspor, memerlukan dukungan nyata pemerintah berupa promosi dan pembebasan pajak produk ekspor. "Kita mau kirim produk sample (contoh) saja bisa kena pajak mahal sekali. Jadi, bagaimana kita bisa sukses promosi," katanya.
Ambar Tjahyono juga mengatakan stimulus yang hingga kini belum dirasakan oleh sektor riil, kemungkinan besar tidak akan tepat sasaran. "Pemerintah seharusnya bertanya langsung pada pengusaha apa yang bisa dibantu," tuturnya.
Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua Asmindo yang juga Ketua Divisi Pemasaran Furniture Rotan Asmindo, Rudy T Luwia. Menurut dia, dukungan pemerintah untuk promosi produk mebel dan kerajinan belum optimal. (Bayu/Antara/Andrian)