Pertumbuhan Ekonomi Dunia Minus 0,5-1,5 Persen
Jakarta (Suara Karya): Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Departemen Keuangan (Depkeu) Anggito Abimanyu mengatakan, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2009 diperkirakan minus 0,5-1,5 persen.
"Kondisi ekonomi dunia sudah parah sekali. Bahkan pertumbuhan ekonomi dunia sudah masuk zona negatif, yakni minus 0,5-1,5 persen," kata Anggito di Jakarta, Senin (16/3).
Hasil pertemuan Menteri-menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G-20 di London, pekan lalu, memperlihatkan kondisi ekonomi dunia yang semakin parah. Dipekirakan pemulihannya baru bisa dimulai pada 2010. Namun, pemulihan ini bisa dicapai bila upaya pembersihan aset-aset bermasalah (toxic assets) dari perbankan di AS bisa berlangsung dengan cepat.
Langkah yang paling mendesak untuk memulihkan kondisi ekonomi dunia saat ini adalah membersihkan neraca dari sektor keuangan di AS. Saat ini banyak pinjaman macet yang harus dibersihkan supaya perbankan bisa kembali berfungsi.
Selain itu, kebijakan moneter yang lebih longgar dengan menurunkan tingkat suku bunga setiap negara serta penambahan stimulus fiskal. Setelah itu, baru perbankan diberi tambahan modal sehingga dapat kembali memberikan kredit yang saat ini tersendat.
"Kerugian yang dialami berbagai pihak semakin besar. Sektor keuangan tidak bisa memberikan kredit karena masih menghadapi kredit macet. Dari sisi perdagangan juga ada penurunan. Karena itu, solusi yang bisa dilakukan adalah memperkuat daya beli masyarakat domestik, antara lain melalui stimulus fiskal," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini bisa mencapai 4,5 persen atau sesuai target pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009.
"Semua negara memang mengoreksi ke bawah pertumbuhannya, termasuk pertumbuhan ekonomi global yang dikoreksi menjadi minus. Kita memang akan menyesuaikan diri dari bulan ke bulan, tapi sejauh ini pemerintah dan DPR belum akan merevisi sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen," kata Presiden.
Menurut Presiden, langkah-langkah total akan dilakukan pemerintah, seperti pemberian stimulus Rp 73,3 triliun dan mendorong konsumsi masyarakat.
"Kita juga akan memantau terus hasil pertemuan G-20 yang sedang berlangsung untuk tingkat menteri. Kita akan lakukan apa yang bisa dilakukan secara domestik serta mendukung langkah yang dilakukan secara regional dan global," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan/Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Indonesia ikut aktif membahas pengaturan kembali sistem keuangan regional dan global. Ini dilakukan agar krisis keuangan tidak terjadi lagi. (Indra)