G-20 Sepakat Perangi Krisis
LONDON (SI) - Kelompok 20 (G-20) sepakat menyiapkan dana siaga USD1 triliun demi menyelamatkan perekonomian global dari ancaman krisis terbesar sejak 1930-an.
G-20 juga menyepakati rencana komisi daftar hitam (blacklist) melakukan tindakan tegas atas praktik kebijakan bebas pajak (tax haven) yang melindungi spekulan, serta memperketat regulasi institusi keuangan,seperti hedge fund, perbankan, dan lembaga pemeringkat. Ini adalah hari di mana dunia menjadi bersatu, melawan resesi global.
Tidak dengan kata-kata, tapi melalui rencana pemulihan global dan reformasi dengan jadwal yang jelas,kata Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown saat memberikan keterangan pers seusai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di London, kemarin. Brown menjelaskan, para pemimpin negara-negara anggota G-20 sepakat dana siaga USD1 triliun itu disalurkan melalui Dana Moneter Internasional (IMF) dan institusi lainnya. Dana ini termasuk USD250 miliar yang saat ini dipegang IMF,berupa dana siaga di unit Special Drawing Rights.
Dana ini bisa diakses semua anggota IMF, ucap Brown. Dana lainnya berupa penambahan modal bagi IMF sebesar USD500 miliar.Kemudian,negaranegara G-20 juga setuju atas paket pembiayaan perdagangan global senilai USD250 miliar selama dua tahun. Dana ini untuk meningkatkan aliran perdagangan global. Pasar saham dunia bereaksi positif pascakesepakatan G-20. Indeks saham-saham unggulan Eropa naik 5%. Sedangkan di Wall Street,New York, AS, pada sesi pagi, indeks Nasdaq menguat 4% dan Dow Jones Industrial Average 3,6%.
Kendati demikian, menurut Brown, tidak ada perbaikan cepat dalam penanganan krisis. Namun, kita bisa memperpendek waktu resesi dan kita bisa menyelamatkan pekerjaan, papar dia. Presiden Prancis Nicholas Sarkozy gembira atas kesepakatan G-20. Dia menilai kesepakatan tersebut di atas ekspektasi. Para pemimpin G-20 menyetujui usulan Prancis dan Jerman untuk memperketat regulasi pasar keuangan dan memberikan tindakan tegas atas praktik tax haven.
Kebijakan tax haven akan berakhir. Prinsip-prinsip kerahasiaan bank di masa lalu juga harus berakhir,tegas Brown. KTT G-20 kemarin juga menyepakati peningkatan output global sebesar 4% sampai akhir 2010. Kami akan menjalankan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memperluas kebijakan fiskal terpadu, demikian komunike bersama konferensi G-20 di London kemarin. Kami berkomitmen menopang kebijakan fiskal yang diperlukan guna memperbaiki pertumbuhan, ujar pernyataan itu.
Kesepakatan para pimpinan G-20 tersebut juga menyebutkan bahwa bank sentral harus berjanji menjaga kebijakan ekspansif selama dibutuhkan.Demi menindaklanjuti hasil kesepakatan di London kemarin, negara-negara G-20 akan menggelar kembali pertemuan serupa untuk ketiga kalinya pada akhir musim gugur mendatang di Jepang. Jepang menyatakan siap menjadi tuan rumah, dan Presiden AS juga mendukung pertemuan ketiga itu di Jepang, kata Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi tadi malam.
Analis dari Princeton University Julian Zelizer menyatakan putusan G-20 merupakan awal yang baik. Dia menilai para pemimpin dunia telah menunjukkan bahwa mereka memerlukan solusi bersama untuk menyelesaikan krisis dan memperbaiki pasar domestik. Tekanan ini akan menghasilkan dukungan pada regulasi sistem keuangan untuk mencegah kerusakan pada masa datang. Meski hanya tiga jam tetapi merupakan fondasi yang bagus, kata Zelizer.
Unjuk Rasa Terus Berlangsung
KTT G-20 di London diwarnai aksi unjuk rasa besar-besaran oleh ribuan aktivis antiperang, antiglobalisasi, dan aktivis lingkungan. Aksi unjuk rasa terus mengalir kemarin, setelah pada Rabu (1/4) seorang demonstran tewas saat berunjuk rasa.
Kematian pria pengunjuk rasa itu menyulut bentrok antara demonstran dan aparat keamanan di distrik keuangan London. Pria itu tewas di rumah sakit setelah jatuh pingsan dalam kepungan polisi dekat kantor pusat Bank of England. Kami telah menyiagakan aparat keamanan dan mencoba menyadarkan pria itu.Namun di sisi lain, para pengunjuk rasa melempari kami dengan botol-botol.Namun, dia meninggal di rumah sakit, papar aparat polisi dan Layanan Ambulans London.
Tidak jelas bagaimana pria itu tewas. Namun, beberapa orang awalnya terluka saat pengunjuk rasa antikapitalis yang dikepung polisi menerobos dinding penghalang hingga mengakibatkan bentrok. Para pengunjuk rasa kemudian menyerbu bank hingga 63 orang demonstran ditangkap aparat keamanan. Sementara itu, aktivis antiperang menggelar demonstrasi damai di luar Kedutaan Besar Amerika Serikat yang terletak di bagian lain London. Ada sekitar 4.000 pengunjuk rasa, termasuk aktivis antiglobalisasi,antiperang, dan aktivis lingkungan.
Mereka berkumpul di distrik keuangan untuk menuntut lebih banyak bantuan bagi warga miskin dan menghukum para bankir yang dianggap menciptakan krisis, papar polisi. Sebagian besar pengunjuk rasa terus berdesakan menuju kantorkantor milik Royal Bank of Scotland dekat Bank of England. Mereka menghancurkan jendela dan mengeluarkan perabotan kantor melalui jendela, termasuk komputer. Polisi antihuru-hara yang berupaya mengamankan pintu utama gedung, mendapatkan serangan lemparan botol-botol gelas, kaleng bir, dan telur.
Para aparat lainnya memasuki bank untuk memukuli siapa saja yang berada di dalamnya. Pengunjuk rasa juga mencoretcoret kata-kata Sampah dan Kurangi inflasi-habisi orang kaya di jendela kantor-kantor yang ditutup karena peringatan sehari sebelumnya. Di luar gedung Bank of England, para aktivis terus bergerak menyerang polisi dengan bom cat, petasan, dan botol-botol kaca. Sementara polisi yang bersenjata tongkat membalas serangan pengunjuk rasa sehingga para demonstran tidak memasuki kompleks Bank of England.
Para demonstran berteriak, Nyalakan api unggun, letakkan para bankir di atasnya. Pengunjuk rasa meneriaki para karyawan bank yang melihat aksi itu dari balkon. Mereka meminta para pegawai untuk melompat. Dinding-dinding bank tidak luput sedikit pun dari grafiti. Kekerasan sempat mereda beberapa saat, tetapi meledak lagi menjelang malam. Para pengunjuk rasa terus berusaha menerobos dinding kawat berduri yang dipasang polisi. Mereka yang berhasil menerobos dinding kawat itu pun dikejar-kejar polisi untuk ditangkap.
Beberapa orang terluka dalam bentrok itu, termasuk seorang perempuan yang rambutnya berlumuran darah saat paramedis memasang perban di kepalanya. Perempuan yang terluka itu, Neil Caffrey, 45, merupakan pengangguran dari London.Polisi yang menyebabkan luka-luka saya. Saya berdiri di tanah dengan tenang, tetapi mereka menyerang saya dengan pentungan besi yang sangat besar,katanya.
Polisi mengerahkan hingga 5.000 polisi untuk melindungi para pemimpin negara yang hadir dalam KTT G-20, termasuk Presiden AS Barack Obama dan PM Inggris Gordon Brown. Kemarin polisi terus membuat dinding keamanan lebih ketat di lokasi KTT G-20. Polisi juga menambah pos pemeriksaan di sekitar kompleks ExCel yang menjadi lokasi pertemuan pemimpin G-20. Pengamanan itu mampu mendeteksi siapa saja yang berada dalam radius 800 meter.
Pengunjuk rasa berencana berkumpul di timur London, Docklands. Mereka berkumpul dengan para aktivis antiglobalisasi, antiperang, dan aktivis lingkungan. Hingga kemarin, polisi mengaku menahan 86 orang di London. (AFP/Rtr/ahmad senoadi/yanto kusdiantono/syarifudin)