Peluang di Tengah Krisis (Catatan Hasil Pertemuan Komite Kerja Pengembangan Pasar Modal ASEAN, Singapura, 13 Januari 2010)

Pengembangan pasar modal ASEAN merupakan salah satu tujuan yang tersebut dalam ASEAN Vision 2020* dan tertuang dalam Roadmap for Financial and Monetary Integration of ASEAN (RIA-Fin). Tujuan utama pengembangan pasar modal ASEAN adalah untuk memperdalam pasar finansial (deepening of financial markets) dan pencapaian kolaborasi lintas batas pasar modal di antara negara-negara anggota ASEAN. Untuk memfasilitasi upaya pencapaian tujuan tersebut, telah dibentuk Working Committee on Capital Market Development (WC CMD) yang saat ini diketuai oleh Singapura.

Perkembangan pasar modal di ASEAN tak luput dari tekanan krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008-2009. Meskipun demikian, obligasi dengan mata uang lokal (LCY bond) menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dan atraktif. Berdasarkan data dari Asian Development Bank (ADB), proporsi sumber pembiayaan domestik dari penerbitan obligasi di negara-negara ASEAN-5** meningkat menjadi sekitar 33% pada tahun 2008 dari sebesar sekitar 9% pada tahun 1995. Pada sisi lain, sampai dengan kuartal ketiga 2009, total outstanding bond mencapai US$667 milyar yang mana 70,4% adalah obligasi pemerintah dan 29,6% merupakan obligasi swasta. Perkembangan ini menunjukkan bahwa telah terjadi upaya diversikasi atas sumber-sumber pembiayaan.

Sejalan dengan ADB, Standard Chartered Bank (SCB) juga menyampaikan bahwa pada tahun 2009, outstanding obligasi bermata uang lokal di pasar Asia mencapai US$338 milyar atau meningkat tajam dari sekitar US$57 milyar pada tahun 2004 dengan pertumbuhan tertinggi dicapai pada tahun 2009 (138%). Nilai ini lima kali lebih besar bila dibandingkan dengan obligasi bermata uang US$ yang hanya sekitar US$64.2 milyar.

Meskipun terjadi perkembangan yang signifikan, namun ditengarai adanya masalah-masalah struktural dalam perkembangan pasar obligasi di emerging East Asia, antara lain beragamnya jenis/type investor dan pedagang, terbatasnya akses pasar, ketatnya regulasi nilai tukar mata uang asing, tingginya biaya transaksi, perlakuan pajak, penjaminan dan penyelesaian pembayaran, dan transparansi. Di samping itu, data SCB menunjukkan bahwa permintaan utama LCY bond berasal dari Asia sendiri, sementara sebagian kecil datang dari US dan Eropa. Untuk itu, perlu dilakukan pembenahan antara lain pada perlakuan perpajakaan, keterbukaan pasar, dan capital management/control.

Pada sisi yang berbeda, untuk meningkatkan daya saing pasar modal ASEAN, perlu ditekankan kembali komitmen untuk mempromosikan ASEAN as an asset class. Saat ini, ASEAN masih terdefragmentasi ke dalam 10 entitas yang berbeda. Forum seperti ASEAN Roadshow (ASEAN Finance Ministers’ Investors Seminar/AFMIS) hendaknya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan image dan profile ASEAN sebagai kawasan yang menguntungkan untuk tujuan investasi. (par-dal)

* ASEAN Vision 2020 dipercepat implementasinya 5 tahun lebih awal melalui ASEAN Economic Community Blueprint 2015 (AEC) ** Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand