Kenaikan TDL Bisa di Atas 15%
JAKARTA (SI), 22 April 2010 – Tarif dasar listrik (TDL) berpeluang naik lebih dari 15%.Estimasi ini berdasarkan kemungkinan tambahan subsidi akibat kurangnya pasokan gas ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) J Purwono menuturkan, ada dua hal yang bisa menyebabkan kenaikan TDL lebih besar dari skenario semula yakni defisit gas ke pembangkit listrik milik PLN sebesar 100 juta kaki kubik (MMSCFD) serta penundaan kenaikan. �Mungkin separuhnya (tambahan subsidi) bisa kita tutupi. Separuhnya lagi hanya ada dua alternatif. Kita tutup lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau persentase (TDL) dinaikkan sedikit,� ujar Purwono di sela-sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII di Jakarta kemarin.
Menurut Purwono,skenario kenaikan TDL rata-rata 15% belum memasukan perhitungan tambahan subsidi sebesar Rp5,7 triliun akibat defisit gas PLN. Defisit gas 100 MMSCFD di PLTGU Muara Tawar itu membuat PLN harus menggunakan lebih banyak bahan bakar minyak (BBM). �Karena kekurangan yang di Muara Tawar itu,PLN memakai lebih banyak minyak sehingga butuh tambahan Rp5,7 triliun. Bagaimana kita menutupnya? Saya sudah bicara dengan Pak Anggito (Abimanyu) nanti apakah ditutupi dari sisi fiskal,�papar Purwono. Purwono mengungkapkan, pemerintah tidak akan menutupi seluruh tambahan subsidi sebesar Rp5,7 triliun tadi. PLN juga harus berupaya keras mengatasi masalah kekurangan gas tersebut.
�Harus ada upaya-upaya penghematan oleh PLN,�pesannya. Selain masalah tadi, penundaan waktu kenaikan TDL juga bisa menyebabkan besaran kenaikan berubah. Pemerintah berencana menaikkan TDL per Juli 2010.Berdasarkan perhitungan pemerintah, penundaan kenaikan TDL per bulan bisa menyebabkan tambahan subsidi Rp1,2 triliun. �Kalau dua bulan berarti Rp2,4 triliun. Ini ditutup dari mana? Ada dua,melalui tambahan subsidi dari APBN atau TDL naik lebih dari 15%.Semakin diundur kebutuhan akan lebih besar.Ini baru hitung-hitungan, keputusan ada di DPR,apakah jadi naik di bulan Juli, berapa persen dan bagaimana menutupi tambahan subsidi,�tutur Purwono.
Purwono berpendapat,kenaikan TDL tidak akan memberatkan industri rumah tangga apabila mereka bisa melakukan penghematan sebesar kenaikan tarif. Adapun dalam skenario kenaikan TDL, industri rumah tangga kecil atau berdaya 450 volt ampere (VA) hanya dikenakan kenaikan 10%. Sementara industri rumah tangga dengan daya 14 KVA dikenakan kenaikan 15%. Untuk industri besar, pemerintah berharap mereka bisa melakukan penghematan sebesar 15-30%. Dari hasil audit energi yang dilakukan Kementerian ESDM terhadap 294 perusahaan, mereka bisa menghemat listrik hingga 30%.Dengan gerakan penghematan 15% ini, PLN diperkirakan bisa menghemat Rp2 triliun dari penurunan biaya pokok produksi (BPP).
Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin membenarkan subsidi bertambah Rp5,7 triliun apabila pasokan gas sebesar 100 MMSCFD tidak dipenuhi tahun ini. �Skenario sesuai subsidi APBN-P Rp54,5 triliun. Jadi kalau gas kurang, subsidi naik menjadi Rp60,2 triliun. Tambahan subsidi ini mau dapat dari mana?�lontarnya. Dia menambahkan, sulit bagi PLN memperoleh pasokan 100 MMSCFD untuk PLTGU Muara Tawar.� Yang existing saja dikurangi, bagaimana dapat tambahan,� ucapnya. Dalam RDP dengan Komisi VII DPR yang berlangsung Rabu (21/4) malam,PLN memaparkan tiga skenario kenaikan TDL.
Pertama, berdasarkan asumsi APBN-P 2010.Kedua, berdasarkan asumsi gas 100 MMSCFD terpenuhi. Ketiga, berdasarkan asumsi gas belum terpenuhi. Saat itu Direktur Energi Primer PLN Nur Pamudji menuturkan, skenario yang paling realistis adalah skenario yang ketiga. �Yang realistis itu skenario tiga. Kalau dikasih BP Migas tambahan gas kami akan ambil.Tapi, yang ada malah jatah PLN dikurangi,� tandasnya. (maya sofia)