Gejolak Keuangan Global
Jakarta (28/09): Pertumbuhan ekonomi AS yang belum pulih memicu kekhawatiran para pelaku bisnis dan konsumen. Seperti diungkapkan kepala BKF, Bambang Brodjonegoro, dalam jumpa wartawan di gedung Juanda, bahwa pada Q2 2011 pertumbuhan AS turun menjadi 1,5% disbanding Q1 sebesar 2,2%. Angka pengangguran di AS juga mengalami peningkatan sebesar 9,1% atau sekitar 14 juta orang. Oleh karenanya, pemerintah AS berencana untuk member stimulus berupa potongan pajak, bantuan pembangunan infrastruktur dan bantuan langsung untuk masing-masing negara bagian sebesar US$ 447 miliar.
Kondisi keuangan Eropa tidak lebih baik karena potensi gagal bayar Yunani kembali meningkat. Peluang default sudah mencapai 98%, bahkan kini mulai bersiap untuk menghadapi keputusan default hingga 100%. Tingkat pengangguran di kawasan Eropa masih sekitar 10% meskipun di Irlandia, Portugal dan Spanyol khususnya masih tinggi hingga 21,2%.
Meskipun sedikit terpengaruh, wilayah Asia tidak mengalami masalah yang fundamental. Inflasi yang terjadi di China dan India mendorong negara-negara lainnya untuk menaikkan tingkat suku bunga. Arus modal yang masuk ke negara berkembang di Asia mulai melambat pada kuartal pertama 2011 namun masih terkendali. Harga komoditas pangan termasuk jagung dan gandum mengalami penurunan selain akibat meningkatnya pasokan ghlobal juga karena sentiment negatif mengenai memburuknya ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS. Penurunan harga juga dialami komoditas industri seperti emas yang menyentuh US$1612/troy ounce. (dw)