Transformasi Ekonomi Asia dalam Menghadapi Kelesuan Ekonomi Dunia
![]()
Jakarta (05/02): Pertumbuhan ekonomi Asia harus ditingkatkan melalui peningkatan kemitraan dan pendanaan untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah gejolak harga pangan. Hal tersebut menjadi perhatian Kementerian Keuangan RI dan Asian development Bank (ADB), serta ADB Institute dalam seminar yang bertajuk “How Asia Responds to Global economic Crisis Transformation and Food Price Volatility?” yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta. Seminar ini membahas bagaimana peran serta upaya Asia dalam menentukan arah perekonomian dunia dan melakukan transformasi ekonomi untuk menghadapi kesulitan ekonomi global.
Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2011 mencapai 6,5%, sedangkan pada saat krisis melanda dunia pada tahun 2008/2009 lalu, pertumbuhan yang dicapai adalah 4,5%. Agus juga mengharapkan pasca diselenggarakannya seminar ini, Indonesia mendapatkan masukan untuk lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.
Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB, Iwan Jaya Azis, pada sesi pertama mengemukakan bahwa Asia harus mendorong konsumsi dalam negeri agar pertumbuhan ekonomi terus berkelanjutan dan suara Asia dapat ikut menentukan penataan kembali perekonomian global. “Asia juga harus memastikan bahwa seluruh penduduknya mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut” tambahnya.
Krisis keuangan telah meningkatkan gejolak harga pangan dan komoditi lain di dunia. Ketatnya dana untuk penelitian, terjadinya perubahan iklim dan isu lainnya menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan di negara-negara ASEAN. Hal tersebut diungkapkan Ekonom Kepala ADB, Changyong Rhee, dalam pemaparannya “Food Security and Food Price Volatility: Key Issues in Asia and ASEAN”.
Sebelum seminar dimulai, Kementerian Keuangan, ADB dan ADB Institute juga menyelenggarakan Preparatory Workshop yang dihadiri para pejabat di Kementerian Keuangan, ekonom senior Indonesia seperti Mari Elka Pangestu, Anny Ratnawati, Chatib Basri dan ekonom senior dari ADB.