Seminar ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO)

Jakarta (12/04): Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan bekerja sama dengan (ASEAN+3 Macroeconomic Research Office) AMRO menyelenggarakan seminar yang bertemakan “Strengthening AMRO for Regional Surveillance and Regional Financial Arrangement” di hotel Borobudur, Jakarta.

Seminar yang dibuka oleh Mahendra Siregar, Wakil Menteri Keuangan RI,  bertujuan untuk lebih memperkuat stabilitas ekonomi dan keuangan di kawasan ASEAN+3 semenjak AMRO terbentuk pada bulan Mei 2011 di Singapura. AMRO yang merupakan salah satu unit Surveillance dari CMIM berfungsi sebagai unit yang memonitor, menilai dan memberikan laporan pada status makro ekonomi serta kondisi keuangan di kawasan ASEAN+3. Dalam kesempatan ini Wei Benhua selaku Direktur AMRO memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai latar belakang, fungsi AMRO lainnya berikut progress yang telah terbentuk serta oportunitas dan tantangan yang dihadapi ke depan sebagai pengantar dalam mengawali seminar ini.

Sesi utama dalam seminar yang dimoderatori oleh Decy Arifinsjah (Kepala Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral, BKF) ini mengundang empat pembicara yang merupakan ekonom senior di AMRO, ADB dan IMF. Kesempatan pertama diberikan kepada Dr. Reza Siregar, Senior Economist of AMRO. Dalam presentasinya  beliau memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai Surveillance terhadap makro ekonomi pada negara-negara ASEAN+3. Surveillance ini tidak hanya dilakukan secara Bilateral, namun akan lebih efektif apabila di link dengan multilateral surveillance (global dan regional). Kerjasama AMRO tidak hanya terbatas pada Negara-negara anggotanya, kolaborasi kerjasama dengan organisasi multilateral lainnya di bidang keuangan, Market, Lembaga penelitian/universitas dan pendekatan publik juga dilakukan. Pertanggung jawaban AMRO dalam bidang Surveillance dititikberatkan pada laporan per kuartal dan analisis pada situasi ekonomi dan keuangan negara-negara anggotanya.

Dr. Lee Jae Young, senior Economist of AMRO, memberikan pandangannya terhadap perkembangan ekonomi terkini di Indonesia. Beliau memaparkan presentasinya diantaranya mengenai pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, inflasi dan sektor eksternal. Menurutnya, Kebijakan fiskal di Indonesia terus melanjutkan  manajemen fiskalnya ke arah yang sangat baik setelah krisis finansial tahun 1997.

Pembicara selanjutnya diberikan kepada perwakilan dari Asian Development Bank (ADB), Edimon Ginting, Senior Country Economist ADB. Tantangan dan Outlook Ekonomi Indonesia menjadi bahasan yang dipresentasikannya. Ketidak seimbangan ekonomi dalam kawasan asia & global menjadi sorotan dalam kondisi perekonomian saat in, hal ini dijelaskan melalui grafik dan data perekonomian dikawasan asia. Ketidakseimbangan ekonomi global dan regional merupakan tantangan tersendiri untuk Indonesia yang cukup kuat sampai saat ini dalam menghadapinya. Tantangan yang perlu dihadapi oleh  kebijakan pemerintah yaitu peningkatan infrastruktur yang dapat membantu menurunkan dimensi kemiskinan secara regional.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada Milan Zavadjil, Senior Resident Representative of IMF in Indonesia, yang mempresentasikan mengenai peningkatan pengaruh AMRO dalam mengamankan keuangan global.

Sebagai pembicara terakhir, presentasi mengenai Indonesia Economic Outlook & Crisis Management Protokol Mechanism di paparkan oleh Dr. Luky Alfirman (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF). Beliau menjelaskan tentang perkembangan ekonomi Indonesia, APBN-P 2012 dan mekanisme Protokol manajemen krisis di Indonesia. (aam)