Kunjungan Mahasiswa STEI Tazkia Dalam Memahami Kebijakan Fiskal dan Implementasinya
Jakarta (19/04): Hot issue mengenai penentuan harga BBM kembali terangkat dalam diskusi tanya jawab dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada kunjungan studi mahasiswa Tazkia Shari’a Economic Department (T-SMART) STEI Tazkia, Sentul Bogor, di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) hari Kamis ini. Namun tidak seperti halnya demo yang memanas tetapi para mahasiswa berdialog interaktif dengan antusias dan menggunakan intelektual yang baik. Hal tersebut ditunjukkan ketika moderator, Evi Subardi (peneliti di BKF), memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan kepada narasumber yang disambut dengan hampir semua mahasiswa mengangkat tangannya keatas. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan juga mencerminkan bahwa mereka memang ingin memahami apa yang menyebabkan munculnya suatu kebijakan dan apa yang diimplementasikan oleh pemerintah, khususnya di Badan Kebijakan Fiskal.
Sebelum sesi diskusi ini, kegiatan kunjungan studi yang bertujuan untuk mengetahui penentuan kebijakan fiskal dan implementasi kebijakan di BKF dibuka oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum Sekretariat BKF dengan memberi sambutan selamat datang dan memperkenalkan BKF secara umum kepada mahasiswa. Selanjutnya Deasi Tri Widyastuti, selaku MC, memberikan kesempatan kepada perwakilan dari STEI Tazkia, Anita Priantina (Kepala Departemen Ekonomi Islam STEI Tazkia) untuk memberikan sambutannya mengenai maksud dan tujuan kunjungan studi mahasiswa tersebut.
Fathul Kamil Tumbriantoro (Kepala Subbidang Utang Dalam Negeri, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF) sebagai narasumber pertama dalam kesempatannya memberikan presentasi mengenai penentuan kebijakan di bidang fiskal dengan menjelaskan mulai dari konsep kebijakan fiskal, proses perencanaan APBN, strategi kebijakan APBN, sampai kepada kendala dan upaya optimalisasinya.
Dilanjutkan oleh Widodo Ramadyanto (Kepala Subbidang Risiko BUMN, Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, BKF) sebagai narasumber kedua, beliau memaparkan implementasi Kebijakan pengelolaan risiko fiskal, meliputi pemahaman antara risiko dan risiko fiskal, dukungan pemerintah terhadap proyek infrastruktur, risiko fiskal atas BUMN, serta risiko ekonomi, keuangan dan sosial.
Sesi diskusi setelah pemaparan kedua narasumber semakin menarik karena mahasiswa juga memberikan respon atas jawaban narasumber. Atas respon terbaik dari mahasiswa, panitia dan narasumber (Fathul) menyediakan door prize dan diakhir acara panitia juga memberikan kenang-kenangan berupa foto bersama peserta dan para pembicara yang telah dilakukan di awal acara tersebut. (aam)



