Memperkuat Kebijakan Ekonomi Kakao Nasional
Jakarta (09/05): Dalam rangka memfasilitasi pembahasan sekaligus menyediakan sarana sosialisasi kebijakan ekonomi dan perkembangan terkini industri kakao di Indonesia, Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal pada hari Rabu, tanggal 9 Mei 2012, bertempat di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, menyelenggarakan workshop dengan tema “Memperkuat Kebijakan Ekonomi Kakao Nasional”. Workshop ini dihadiri kurang lebih 75 peserta dari kementerian lembaga, asosiasi industri, dan lain-lain. Tujuan workshop ini adalah untuk memberikan gambaran langkah-langkah yang dapat ditempuh melalui kebijakan-kebijakan ekonomi untuk memperkuat subsektor perkebunan kakao sebagai komoditas unggulan Indonesia ke arah yang lebih baik.
Workshop ini dibuka oleh Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Astera Prima Bhakti kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Wakil Menteri Keuangan II Mahendra Siregar. Pada workshop ini, Mahendra mengemukakan bahwa Kementerian Keuangan sepenuhnya mendukung program-program yang terbukti dapat meningkatkan produksi dan produktivitas kakao dalam rangka memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Mahendra juga menyinggung keberlanjutan program dan kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian seperti program gerakan nasional (gernas) yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional. Mahendra mengemukakan harapannya agar program-program yang baik untuk masa depan subsektor perkebunan kakao di masa depan dapat ditingkatkan dan dilanjutkan kembali.
Workshop kemudian dilanjutkan pada diskusi panel yang dibagi menjadi 5 pokok bahasan. Diskusi panel yang pertama, dipimpin oleh pembicara dari Kementerian Pertanian, yaitu Azwar Abubakar sebagai Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar. Azwar menyampaikan kajian mengenai revitalisasi program peningkatan kualitas kakao (on farm) dan mutu biji kakao (off farm), termasuk fermentasinya. Azwar menekankan hal-hal yang menjadi perhatian dalam pengembangan subsektor perkebunan kakao ini antara lain: peran pemangku kepentingan dalam peningkatan produksi dan mutu kakao, anomali iklim yang dapat mempengaruhi produktivitas kakao, harga biji kakao, standar mutu produksi biji kakao, belum adanya brand untuk pasar kakao olahan dalam negeri, pemenuhan kebutuhan kakao untuk dalam negeri maupun luar negeri, peningkatan produktivitas kakao hasil olahan, pembentukan wadah para pemangku kepentingan untuk saling berkomunikasi dan lain-lain
Diskusi panel yang kedua dipimpin oleh pembicara dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) yaitu Peneliti utama Dr. John Bako Baon. Dalam diskusi ini Dr. John menyampaikan perlunya program gerakan hilirisasi industri kakao nasional mengingat target ekspor dan porsi dalam negeri yang telah ditentukan untuk produksi kakao, serta insentif dan pembentukan iklim usaha yang sedang dikembangkan seperti kebijakan pajak, kebijakan keuangan, kemudahan perizinan dan lain-lain.
Diskusi panel yang ketiga dipimpin oleh Sindra Wijaya sebagai Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) yang membahas tentang progress industri pengolahan dan perdagangan kakao pasca pengenaan bea keluar. Sindra menyatakan bahwa kebijakan bea keluar kakao menyebabkan kapasitas dan daya beli industri pengolahan kakao di Indoesia meningkat, sehingga memberikan keuntungan bagi petani. Sindra lebih lanjut membahas tentang peluang dan tantangan bagi perkembangan kakao Indonesia saat ini dan di masa mendatang.
Diskusi panel kempat dan terakhir dipimpin oleh Jimmy Wuisan, selaku direktur utama PT. Comextra Majora, yang memaparkan strategi industri kakao dalam rangka menghadapi persaingan global serta Achmad Manggabarani selaku ketua Forum Pengembangan Perkebungan Strategis Berkelanjutan yang memberikan ulasan tentang success story gernas dan tantangan peningkatan mutu hasil perkebunan kakao paska pelaksanaan gernas.
Partisipasi peserta dalam workshop ini cukup antusias. Hal ini terwujud dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber terkait bahan diskusi yang telah disajikan sebelumnya maupun isu-isu terkini mengenai perkembangan industri kakao. Workshop yang berlangsung selama empat jam ini akhirnya ditutup oleh Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal. (ds)