Seminar Perkembangan Ekonomi Terkini Dan APBN 2013 di Bali
Nusa Dua (5/12): Badan Kebijakan Fiskal (BKF) bekerja sama dengan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan kembali menyelenggarakan seminar Perkembangan Ekonomi Terkini dan APBN 2013 sebagaimana telah dilakukan di kota-kota besar lainnya diseluruh Indonesia. Seminar ini sebagai bentuk sosialisasi dan sharing informasi yang tidak hanya memberikan informasi perkembangan ekonomi dan APBN 2013 tetapi juga dilengkapi dengan informasi pertumbuhan perekonomian dan APBD setempat, dalam hal ini khususnya wilayah Bali.
Seminar yang dihadiri oleh peserta dari akademisi, Pemda, Stakeholders terkait ini diawali dengan keynote speech yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ni Wayan Sri Suprapti, Kepala Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Ni Wayan menegaskan bahwa seminar ini penting untuk memberikan pencerahan untuk menyongsong tahun depan. Sebelum sesi presentasi seminar berlangsung, didahului dengan sambutan dari perwakilan Kementerian Keuangan oleh Zulfikar Tahar, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Zulfikar menerangkan bahwa dilatarbelakangi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, Sektor Pariwisata Bali justru bertumbuh naik. Hal ini diakibatkan oleh pengurangan stress yang dialami oleh negara-negara di Eropa.
Dimoderatori oleh I Nyoman Mahendrayasa, Pembantu Dekan I Universitas Udayana, sesi seminar menampilkan tiga orang narasumber. Narasumber pertama membawakan Perkembangan Perekonomian Terkini yang dipresentasikan oleh Bagus Santoso, Pengamat Ekonomi UGM dan sebagai Konsultan BKF. Dalam presentasinya dijelaskan perlambatan yang tejadi pada ekonomi dunia dan perkembangan perekonomian Indonesia. Diakhir presentasinya, Bagus memberikan kesimpulan bahwa ekonomi Indonesia tahun 2013 prospektif dan optimis, confidence yet prudense, dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Luky Alfirman, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF menjadi narasumber kedua dengan mempresentasikan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal dan Postur APBN 2013 yang didalamnya mengulas dua bahasan penting mengenai Potensi dan Tantangan dalam pencapaian sasaran pembangunan dan Pokok-pokok APBN tahun 2013. Pada Pokok-pokok APBN 2013, dijelaskan arah kebijakan fiskal 2013 sesuai dengan tema RKP 2013 yaitu Memperkuat Perekonomian Domestik bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat dan didasari oleh empat pilar pembangunan: Pro Growth, Pro Job, Pro Poor, dan Pro Environment, pemerintah menentukan arah kebijakan fiskalnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui upaya penyehatan fiskal kedalam empat hal utama yaitu Optimalisasi Pendapatan Negara, Meningkatkan Kualitas Belanja Negara, Pengendalian Defisit APBN dan Mengurangi Ratio Utang terhadap APBN. Beliau juga menjelaskan mengenai asumsi dasar ekonomi makro 2013, langkah-langkah strategis dalam APBN 2013 untuk mendukung penyehatan fiskal, Pokok-pokok kebijakan dibidang perpajakan, PNBP, belanja negara, subsidi serta mengulas tentang transfer ke daerah dan pembiayaan anggaran 2013. Disamping penjelasan mengenai kebijakan juga menerangkan mengenai upaya pencegahan dan mitigasi krisis.
Prof. Dr. Made Suyana Utama, S.E., M.Si., Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana menjadi narasumber ketiga pada kesempatan ini. Presentasinya yang bertemakan Kinerja Keuangan Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat selama Otonomi Daerah di Provinsi Bali menyimpulkan bahwa selama otonomi daerah kinerja keuangan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali belum menunjukkan peningkatan yang signifikan tetapi tingkat kesejahteraan masyarakat menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kedua, adanya perbedaan sumber daya pada Kab/Kota berpengaruh terhadap penerimaan PAD, dan selanjutnya terhadap ketimpangan kinerja keuangan. Selanjutnya, terdapat hubungan searah antara ketimpangan kinerja keuangan dengan kinerja pembangunan Kab/Kota di Provinsi Bali. Terakhir, Ketimpangan kinerja keuangan daerah dan ketimpangan kesejahteraan masyarakat selama tahun 2001 – 2010 mengalami penurunan. Untuk itu beliau memberikan rekomendasi terhadap kinerja tersebut dengan membangun dan menyebarkan infrastruktur dengan lebih merata, memperbaiki/memelihara infrastruktur yang telah ada dengan porsi alokasi anggaran yang jelas, menyebarkan pusat-pusat pertumbuhan dan investasi, dan membatasi investasi pada daerah yang pertumbuhannya sudah tinggi dan yang telah terjadi kongesti.
Sebelum menutup rangkaian acara seminar ini, moderator memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi tanya jawab kepada para narasumber.(aam)