Seminar Subsidi BBM

Seminar Subsidi BBM : Kebijakan APBN, Neraca Transaksi Berjalan, Dan Perekonomian

Jakarta (25/04): Melonjaknya impor BBM sangat terkait erat dengan terus meningkatnya konsumsi BBM dalam negeri, di mana pada saat yang sama produksi minyak kita mengalami penurunan. Meningkatnya konsumsi BBM di dalam negeri pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari terus bertumbuhnya aktifitas perekonomian nasional tercermin dari relatif tingginya angka penjualan kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4 pada tahun 2012 yang lalu maupun pada kuartal I tahun 2013 ini. Peningkatan volume konsumsi BBM ini, pada akhirnya berimbas pada semakin besarnya beban subsidi BBM yang harus di tanggung oleh Pemerintah dalam APBN.

Selain faktor meningkatnya volume konsumsi BBM di dalam negeri, tekanan fiskal terkait beban subsidi BBM juga bersumber faktor eksternal yang berada di luar kendali kita, khususnya adanya kecenderungan masih relatif tingginya harga minyak dunia (Indonesian Crude Price, ICP) dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu Kecenderungan terdepresiasinya  nilai tukar Rupiah terhadap US dollar juga turut memberi kontribusi terhadap meningkatnya beban subsidi BBM. Pelemahan nilai tukar Rupiah tersebut terutama akibat turunnya harga komoditas internasional dan tingginya beban impor BBM telah memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan sehingga memicu  pelemahan nilai tukar rupiah. Kombinasi ketiga faktor inilah yang telah menyebabkan beban subsidi BBM yang semakin besar dalam APBN.

Besarnya tekanan pada sisi APBN maupun pada neraca berjalan serta berbagai distorsi yang timbul akibat meningkatnya beban subsidi BBM tersebut menunjukkan betapa krusial dan mendesaknya kebijakan penyesuaian subsidi BBM yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah telah menjajaki berbagai opsi kebijakan agar subsidi BBM menjadi lebih tepat sasaran misalnya melalui penyesuaian harga jual, pembatasan konsumsi, hingga program konversi ke gas, tentunya dengan menimbang berbagai dampaknya terhadap APBN maupun perekonomian secara keseluruhan. Untuk mencoba memberikan pemahaman publik secara lebih luas dan mendalam dampak membengkaknya beban subsidi BBM baik terhadap APBN, neraca transaksi berjalan dan pada gilirannya juga akan mempengaruhi stabilitas perekonomian.

Dalam memenuhi ekspektasi masyarakat luas mengenai subsidi BBM ini diperlukan pemikiran dan masukan-masukan yang konstruktif. Dalam hal ini Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bekerja sama menyelenggarakan seminar yang bertemakan “Subsidi BBM: Kebijakan APBN, Neraca Transaksi Berjalan dan Perekonomian” dengan harapan dapat menjadi forum yang tepat dalam usaha perbaikan kualitas kebijakan kedepan sehingga dapat menghantarkan terwujudnya masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera.

Seminar ini diselenggarakan di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta. Welcoming remarks diberikan oleh Firdaus Djaelani (Pengurus ISEI Pusat), yang dilanjutkan oleh Wakil Menteri Keuangan I, Anny Ratnawati, memberikan keynote speech di awal seminar tersebut. Dalam Keynote speechnya, Anny Ratnawati memberikan penjelasan mengenai perkembangan perekonomian (global & domestik), dampak subsidi BBM terhadap perekonomian, postur APBN 2013, Tantangan kebijakan subsidi BBM dan realisasi belanja negara.

Seminar yang dihadiri oleh ISEI, akademisi, K/L terkait, dan undangan lainnya berlangsung selama dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema Subsidi BBM: Tekanan APBN dan Neraca Berjalan) menghadirkan Purbaya Yudhi Sadewa (Staf Khusus Menko Perekonomian) sebagai moderator dengan tiga pembicara: pertama, Bambang P.S. Brodjonegoro (Kepala BKF) dengan mengangkat topik Subsidi BBM dan Tekanan Fiskal. Dody Budi Waluyo (Direktur Eksekutif Dept. Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, BI) menjadi pembicara kedua dengan topik Subsidi BBM dan Tekanan Defisit Transaksi Berjalan. Pembicara ketiga menghadirkan Tony Prasetiantono (Pengajar FE UGM) yang mengangkat topik Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter.

Melangkah pada sesi kedua, dimoderatori oleh Luky Alfirman (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF) menghadirkan dua pembicara dan mengambil tema Subsidi BBM dan Distorsi Ekonomi). Pembicara pertama, Darmawan Prasodjo (Pengajar Surya University) mengangkat topik mengenai Subsidi dan Pricing Sektor Energi. Arief Anshory Yusuf (Pengajar FE Unpad) sebagai pembicara kedua mengambil topik Subsidi BBM dan Distorsi Ekonomi. Kedua sesi seminar ini diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab disetiap sesinya. (aam/pkn)