Kepala BKF menjadi Keynote Speaker Dalam Acara Konferensi Nasional & Lomba Kreativitas Pendidikan Ekonomi dan Keuangan

Jakarta(18/06): Bertempat di Auditorium Lantai 2 Gedung R.M. Notohamiprodjo, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Selasa pagi, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Brodjonegoro menjadi Keynote Speaker dalam acara Konferensi Nasional & Lomba Kreativitas Pendidikan Ekonomi dan Keuangan yang diselenggarakan oleh Ecofined Indonesia bekerjasama dengan BKF. Acara yang bertemakan “Financial Inclusion dan Peran Penting Pendidik dalam Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Sejahtera” ini dihadiri oleh dekan, dosen, para pengajar, guru, mahasiswa dan siswa dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah di Jakarta.

Pada kesempatan ini Bambang Brodjonegoro memulai sambutan kuncinya dengan menyampaikan bahwa pendidikan ekonomi dan keuangan merupakan hal sangat penting untuk diberikan kepada masyarakat. Melalui acara ini Bambang Brodjonegoro berharap pendidikan ekonomi dan keuangan dapat diberikan kepada masyarakat tidak hanya pada level pendidikan di perguruan tinggi namun dapat diberikan secara dini mulai di tingkat sekolah dasar, pertama, dan menengah. Dengan diberikannya pendidikan ekonomi dan keuangan di semua tingkat pendidikan diharapkan muncul pemahaman yang sama di antara masyarakat terkait dengan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan.

Bambang Brodjonegoro juga menyinggung terkait program nasional pemerintah yaitu strategi keuangan yang inklusif (financial inclusion) yang juga sangat penting. “Kalau kita bicara selalu isu mengenai kesejahteraan masyarakat, kita bicara isu mengenai mengurangi kesenjangan antar kelompok pendapatan, dari sekian banyak program yang ada, saya melihat yang paling mendasar dan yang akan bisa berlangsung permanen, artinya bisa memperbaiki ketimpangan, mengurangi kemiskinan, sekaligus memperkuat wirausaha di Indonesia itu adalah financial inclusion,” kata Bambang Brodjonegoro.

Selanjutnya Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa financial inclusion dan pendidikan ekonomi dan keuangan mempunyai kaitan yang erat. “Saya melihat financial inclusion dan pendidikan di bidang ekonomi dan keuangan ini nyambung. Nyambung dalam pengertian akan lebih mudah kita memperkuat financial inclusion, menambah exposure masyarakat kita terhadap masalah keuangan kalau mereka sudah tahu apa itu keuangan sejak di bangku SD”, katanya.

Di akhir sambutannya, Bambang Brodjonegoro juga menyinggung terkait kesempatan Indonesia untuk menjadi negara maju. Menurutnya, jika ingin menjadi negara maju, Indonesia masih banyak kekurangan entrepreneur atau pengusaha jika dilihat dari ukuran perekonomiannya. Hal ini mengakibatkan banyaknya pengusaha-pengusaha asing yang masuk dan menguasai sebagian besar perekonomian Indonesia. Diharapkan dengan adanya pendidikan ekonomi dan keuangan secara dini, pola pikir masyarakat terhadap pekerjaan bisa dirubah. Selama ini pola pikir masyarakat terhadap pekerjaan yang favorit cenderung mengarah ke bidang-bidang seperti PNS dan Swasta. Dengan adanya pengetahuan tersebut diharapkan pola pikir masyarakat dapat berubah menjadikan profesi pengusaha menjadi pilihan utama. Sehingga ke depan banyak muncul pengusaha-pengusaha di negara ini. (mi/aip)