Konferensi Pers Perkembangan Ekonomi Terkini

Jakarta (30/7): Dalam rangka publikasi update mengenai kondisi perekonomian di Indonesia dan menjawab beberapa isu-isu yang berkembang di media, Kementerian Keuangan menggelar press conference tentang “Perkembangan Ekonomi Terkini” di Aula Serbaguna, Lantai Mezanine, Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan. Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Keuangan, Wakil Menteri Keuangan I dan II serta beberapa para eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan.

Menteri Keuangan, Chatib Basri masih optimis dengan kondisi perekonomian domestik saat ini. Situasi ekonomi masih baik meskipun masih ada gejala-gejala yang mengganggu indikator makro perekonomian yang berasal dari faktor eksternal (pertumbuhan ekonomi global dan the fad tapering) . Dari sisi sektor keuangan Indonesia masih peringkat ke-2 tertinggi diantara anggota G-20. Sementara itu, nilai tukar regional dan bilateral Indonesia adalah -4,84 lebih rendah dari Malaysia, tetapi kita masih lebih tinggi dari Philipina, Vietnam dan India. Nilai tukar rupiah kita mengalami penguatan sampai saat ini pada posisi Rp. 9.300.

Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi kondisi tersebut adalah: Pertama, Melakukan koordinasi lebih intensif antar negara G-20 supaya masing-masing negara tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mengganggu kondisi perekonomian domestik. Kedua, melalui kebijakan mitigasi market volatility yang mencakup short run policy dan mid/long term policy. Secara lebih spesifik, langkah-langkah pemerintah dalam memperbaiki current account deficit adalah melalui Mendorong peningkatan ekspor, mengelola impor, serta perbaikan iklim investasi melalui instrumen fiskal dan Implementasi penerapan kebijakan macroprudential untuk mengurangi volatilitas serta kerentanan perkonomian nasional dari shock yang berasal dari eksternal.

Selanjutnya, Mahendra Siregar melaporkan hasil pertemuan G-20 dan progress Dwelling Time di pelabuhan Tanjung Priok. Beberapa isu yang dibahas dalam pertemuan G-20 yaitu tentang Risiko pertumbuhan global yang masih akan dihadapi, sehingga dengan kondisi pertumbuhan ekonomi global dibawah 4% maka harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, tidak hanya mengandalkan domestik demand. Terkait isu perdagangan, semua negara anggota G-20 diminta untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang menghambat perdagangan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Bambang Brodjonegoro menjelaskan tentang insentif fiskal yang digulirkan oleh pemerintah dalam rangka mendorong perekonomian Indonesia. Pertama adalah Revisi tax holiday dengan penambahan sektor, relaksasi jangka waktu, dan minimum investasi. Kedua, Revisi tax allowance melalui penyederhanaan prosedur. Ketiga, Insentif Kawasan Ekonomi Khusus berdasarkan zona industri atau pariwisata. Yang terakhir adalah insentif dalam bidang pendidikan dan penelitian. Dalam bidang pendidikan adalah dengan disusunnya PMK tentang pembebasan PPh dan PPN atas buku non fiksi. (aanridha-GH)