Seminar Nasional Penguatan Sektor Keuangan melalui Financial Inclusion dan Financial Deepening
Bukittinggi (04/11): Sebagai langkah dalam sosialisasi kebijakan yang sudah dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), serta di bantu oleh perwakilan kantor Kementerian Keuangan di daerah Bukittinggi menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Penguatan Sektor Keuangan melalui Financial Inclusion dan Financial Deepening” di Hotel The Hills Bukittinggi, Sumatera Barat. Melalui seminar ini, diharapkan tercapainya symmetry information antara otoritas fiskal, otoritas moneter, maupun pelaku pasar mengenai financial inclusion seperti yang harus dilakukan oleh pelaku pasar maupun otoritas, sehingga sekaligus dengan financial deepening, tercapai kondisi financial depth di pasar keuangan dalam negeri. Secara garis besar tujuan dilaksanakan seminar ini adalah pertama, tercapainya komunikasi timbal balik antara otoritas fiskal, otoritas moneter, dan pelaku pasar di sektor keuangan dalam negeri; kedua, diseminasi informasi mengenai kebijakan seperti apa yang sudah dilaksanakan maupun arah kebijakan yang akan dilaksanakan oleh otoritas, kebijakan; ketiga, perkiraan dampak arah kebijakan terhadap industri dan mengharapkan adanya masukan dari industri terhadap arah kebijakan otoritas; serta keempat, sarana memperluas wawasan anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia mengenai kondisi ekonomi terkini.
Seminar kali ini berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, nuansa lain mewarnai pelaksanaan seminar yang dimulai dengan lantunan lagu Indonesia Raya dan pembacaan do’a. Secara resmi seminar dibuka oleh Aviliani sebagai Sekretaris Umum Pengurus Pusat ISEI yang mengatakan bahwa seminar ini relevan dengan sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) sebelumnya yang berangkat dari kondisi rill saat ini 60% sektor ekonomi masih tergantung pada sektor informal, sehingga pemerintah dan BI harus melakukan sosialisasi bagaimana mereka bisa dengan mudah mendapat akses terhadap lembaga keuangan baik bank maupun lembaga bukan bank. Secara spesifik tentang financial deepening aviliani mengharapkan ORI yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah, pembelinya adalah masyarakat industri. Acara dilanjutkan dengan pembacaan sambutan Wakil Menteri Keuangan II oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.
Mengawali seminar, sesi pertama membahas tentang financial inclusion yang dipandu oleh moderator Isa Rachmatarwata dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. Hadir sebagai pembicara adalah Prof. Dr. Suahasil Nazara (TNP2K) yang membahas tentang dukungan regulasi dan infrastruktur dari pemerintah pusat untuk mendorong masyarakat bawah menggunakan jasa lembaga keuangan sebagai bagian dari program pengentasan kemiskinan. Pembicara kedua adalah Ricky Satria (Asisten Direktur Eksekutif Departemen Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM Bank Indonesia) membahas tentang Dukungan regulasi sektor moneter untuk mendorong perbankan membuka akses yang lebih besar bagi golongan masyarakat menengah ke bawah. Pembicara ketiga Edimon Ginting (Asian Development Bank) menjelaskan Penguatan Financial Inclusion, Pengalaman Internasional. Pembicara terakhir dalam sesi ini adalah Destry Damayanti (Chief Economist Bank Mandiri) yang membahas daya tarik dan hambatan yang dihadapi industri perbankan dalam pengembangan akses bagi masyarakat golongan bawah.
Sebelum sesi kedua dimulai Gubernur Sumatera Barat berkenan hadir dan memberikan sambutan. Secara singkat dan jelas Irwan Prayitno mengharapkan pelaksanaan seminar ini mampu mendorong sektor keuangan di Bukittinggi khususnya dan di provinsi Sumatera Barat pada umumnya. Seminar kali ini juga menjadikan inspirasi bagi Pemerintah Daerah untuk turut serta dalam mendorong sektor informal supaya lebih kenal dan gampang masuk dalam dunia lembaga pembiayaan baik bank maupun bukan bank.
Setelah makan siang dan istirahat, seminar dilanjutkan dengan pokok bahasan financial deepening dan menghadirkan pembicara Loto Srinaita Ginting (Direktur Surat Utang Negara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan) dengan topik perluasan akses pasar obligasi negara kepada Investor Domestik, Ngalim Sawega (Deputi Komisioner Pengawasan Industri Keuangan Non Bank I, Otoritas Jasa Keuangan) dengan topik Daya tarik dan hambatan yang dihadapi industri lembaga keuangan non bank dalam pengembangan akses bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, Prof. Dr. H. Syafrudin Karimi (Regional Economist, Universitas Andalas) dengan topik pendekatan teori dan empiris di dalam dan luar negeri tentang financial inclusion, dan dari kalangan perbankan hadir Anton Gunawan (Chief Economist, Bank Danamon) yang menjelaskan tentang peran sektor perbankan dalam penguatan Financial Deepening. Sesi kedua berlangsung sangat proaktif dipandu oleh moderator Luky Alfirman (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, badan Kebijakan Fiskal).
Seminar yang dihadiri oleh 225 orang peserta ini selesai tepat pukul 16.00 WIB dan di tutup dengan closing remarks oleh Kepala Kanwil Ditjen Pajak Sumatera Barat dan Jambi. (aanridha)







