Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Bengkulu
Bengkulu (20/05): Direktorat Jenderal Perbendaharaan bekerjasama dengan Badan Kebijakan Fiskal dan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan menyelenggarakan seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Hotel Grage Horizon Bengkulu pada hari Selasa tanggal 20 Mei 2014. Seminar ini merupakan kegiatan ke-12 Regional Economist yang rencanaya akan dilakukan di ibukota provinsi seluruh Indonesia dan sebelumnya dilakukan di Padang, Sumatera Barat. Peserta seminar berjumlah 141 orang berasal dari instansi pengawas pemerintah seperti BPK, BPKP, para pejabat pemda Provinsi Bengkulu, Bank Indonesia, perwakilan perbankan di Bengkulu, BPS Provinsi Bengkulu, akademisi, para pegawai dan pejabat Kementerian Keuangan di Provinsi Bengkulu, dan pers Bengkulu.
Acara dibuka dengan welcome remarks oleh Muhamad Munawar, Plt. Kepala Kanwil Perbendaharaan Provinsi Bengkulu. Muhamad Munawar mengatakan bahwa seminar ini merupakan bentuk komunikasi antara Kementerian Keuangan sebagai pengelola regulator dan perumus kebijakan keuangan dengan para stakeholder di daerah. Tujuan dilaksanakannya seminar ini adalah untuk menyebarluaskan informasi tentang kebijakan keuangan yang diambil pemerintah kepada masyarakat luas. Harapan lain juga dikatakan bahwa dengan seminar ini muncul gagasan-gagasan inovatif yang dapat menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang timbul serta seminar ini mampu menjadi jembatan komunikasi yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, serta para stakeholder di daerah. Di akhir sambutan Muhamad Munawar berharap ada rekomendasi riil kepada Kementerian Keuangan mengenai hal-hal apa yang harus dilakukan baik dalam hal perbaikan regulasi, organisasi, dan standar operasi prosedur untuk meningkatkan koordinasi, kualitas tata kelola, dan kinerja.
Sebelum acara utama dimulai, terlebih dahulu peserta seminar menyanyikan lagu Bagimu Negeri yang dipimpin oleh salah satu pegawai di Kanwil Perbendaharaan Provinsi Bengkulu dilanjutkan dengan pembacaan do’a oleh Ust. Bambang.
Seminar dipandu oleh moderator Purmini, M.Sc. sebagai perwakilan Regional Economist dari Universitas Negeri Bengkulu. Sebagai pembicara adalah DR. Hidayat Amir, S.S.T, Ak., M.Si. dari Badan Kebijakan Fiskal, Drs. Mateus Agus Kristanto, M.A. dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, dan Azhar, S.H., M.Kes. dari Bappeda Provinsi Bengkulu.
Sebagai pembicara pertama, Hidayat Amir mejelaskan tentang update dinamika ekonomi dan kebijakan Fiskal Indonesia. Sebagai prolog beliau menjelaskan perkembangan perekonomian global 2014 yang diperkirakan oleh IMF tumbuh baik meskipun masih mempunyai beberapa down risk yang akan muncul. Seperti potensi gejolak likuiditas global dan gejolak harga komoditas pasar global yang ditandai oleh harga minyak dan komoditas yang masih fluktuatif dan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global serta faktor geo politik. Dilanjutkan dengan pemaparan update kondisi perekonomian Indonesia yang dilihat dari beberapa indikator utama, seperti nilai tukar, IHSG, inflasi, harga minyak mentah, arus modal masuk, Yield SUN, pertumbuhan PDB, investasi langsung, perdagangan internasional, dan neraca pembayaran. Secara keseluruhan perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang relatif baik yang di tandai dengan penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG mengalami penguatan tertinggi di kawasan, bahkan mengalami apresiasi terbaik sejak November 2013. Pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih stabil dibandingkan peer countries G20 seperti Turkey, India, dan Brasil yang masih berada di bawah Indonesia. Diterangkan juga mengenai respon kebijakan pemerintah yang kontinyu dilakukan sejak tahun 2013 yang meliputi reformasi struktural, bauran kebijakan moneter, dan kebijakan fiskal dalam bentuk paket kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Pembicara kedua, Mateus Agus Kristanto memaparkan penguatan fiskal daerah yang meliputi pembagian kewenangan dan pendanaannya, kebijakan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, dan kebijakan transfer ke daerah. Mateus Agus Kristanto mengatakan bahwa kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah telah meningkatkan fiskal daerah, namun masih terbatas pada daerah-daerah urban yang mempunyai kemajuan infrastruktur dan kegiatan ekonomi yang relatif maju. Sehingga secara umum ketergantungan pendanaan APBD dari APBN (melalui dana tranfer ke daerah) masih relatif tinggi. Kebijakan transfer ke daerah telah memberikan efek pemerataan kemampuan keuangan daerah, meskipun dirasakan masih belum optimal. Seiring dengan proses desentralisasi, terjadi akselerasi pembangunan dan peningkatan kualitas layanan publik di wilayah-wilayah yang sebelumnya cukup tertinggal. Masih diperlukan reformulasi dan implementasi kebijakan PDRD dan transfer ke daerah.
Azhar sebagai pembicara terakhir memaparkan tentang kondisi umum Provinsi Bengkulu yang diawali dengan kondisi geografi dan demografi, potensi, serta struktur perekonomian Provinsi Bengkulu. Terkait dengan kebijakan dana transfer ke daerah, Azhar mengatakan 3 (tiga) arah kebijakan tranfer ke daerah Provinsi Bengkulu, yaitu : meningkatkan kapasitas fiskal daerah, mendukung kesinambungan fiskal nasional, dan dalam rangka meningkatkan perhatian terhadap pembangunan di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan.
Antusiasme peserta sangat tinggi sekali, dibuktikan dengan banyaknya peserta yang bertanya dalam sesi diskusi dan jumlah peserta yang tidak berkurang sampai acara seminar berakhir. Acara seminar berakhir pukul 12.45 WIB dan ditutup dengan foto bersama serta door stop oleh wartawan lokal kepada Peneliti Madya Badan Kebijakan Fiskal, Hidayat Amir. (AR/AP)






