Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada Kunjungan Shariah Economics Forum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Jakarta (02/06): Dalam rangka mensosialisasikan kebijakan-kebijakan terkini terhadap dunia akademisi, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan kembali mengadakan sosialisasi kebijakan fiskal bertempat di Ruang Rapat Gazebo Lantai 4 Gedung R.M. Notohamiprodjo, Senin pagi. Sosialisasi kali ini dilaksanakan pada Kunjungan Shariah Economics Forum (SEF) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ke BKF.
Sosialisasi dimulai dengan sambutan oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum, Sekretariat BKF, yang mewakili Sekretaris BKF. Dalam sambutannya, Lukas Lantip Ciptadi mengawali dengan mengenalkan struktur organisasi Kementerian Keuangan secara garis besar. Kemudian Lukas menjelaskan secara lebih rinci mengenai visi dan misi, tugas pokok dan fungsi, struktur organisasi, dan karakteristik BKF sebagai salah satu unit eselon I di Kementerian Keuangan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan SEF UGM Yogyakarta, Eka. Dalam sambutannya, Eka menyampaikan bahwa SEF merupakan bagian atau lembaga kemahasiswaan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Agenda dan program kerjanya adalah mempelajari kajian-kajian yang berkaitan dengan ekonomi syariah. SEF beranggotakan mahasiswa-mahasiswa FEB UGM yang mempunyai background keilmuan antara lain akuntansi, manajemen, dan ilmu ekonomi. Eka juga menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan yang diberikan oleh BKF dalam kegiatan kunjungan kali ini.
Sosialisasi kali ini menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu Dalyono, Kepala Bidang ASEAN, Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) BKF yang menyampaikan materi dengan judul Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 Dalam Perspektif Kerja Sama Keuangan ASEAN; dan Noor Iskandarsyah, Kepala Bidang Kebijakan Subsidi, Pusat Kebijakan APBN (PKAPBN) yang menyampaikan materi dengan judul Kebijakan Fiskal Tahun 2014; serta dimoderatori oleh Hendro Ratnanto Joni, Kepala Subbidang Pengelolaan Data Risiko Fiskal, Pusat Kebijakan Pengelolaan Risiko Fiskal (PPRF) BKF.
Narasumber pertama, Dalyono mengawali pemaparannya dengan menyampaikan penjelasan mengenai MEA. MEA adalah bentuk integrasi Ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Intisari dan karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara; dan Kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dalyono menekankan terkait isu dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 yaitu MEA dipandang akan membawa dampak positif bagi peningkatan ekspor dan aliran investasi ke Indonesia. Banyak pihak yang memperkirakan Indonesia hanya akan menjadi target pasar dari Negara anggota ASEAN lainnya. Indonesia dipandang belum mampu untuk menghadapi persaingan dengan Negara-negara anggota ASEAN lainnya utamanya Singapura, Malaysia, dan Thailand. Namun Dalyono sangat optimis Indonesia dapat berperan lebih baik dan bersaing dalam MEA 2015 mendatang. Dalyono juga menekankan masalah kesiapan daya saing nasional dalam menghadapi MEA 2015.
Narasumber kedua, Noor Iskandarsyah mengawali presentasinya dengan menyampaikan perkembangan ekonomi domestik. Kinerja indikator perekonomian Indonesia seperti nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi masih cukup baik. Noor Iskandarsyah kemudian menyampaikan tantangan dan arah kebijakan fiskal 2014. Kebijakan fiskal harus mampu merespon dinamika perekonomian, menjawab tantangan dan mendukung pencapaian sasaran pembangunan secara optimal melalui 3 fungsi pokok yaitu alokasi, distribusi, dan stabilisasi untuk mencapai fiskal yang sehat. Noor Inskandarsyah kemudian melanjutkan dengan menyampaikan risiko fiskal 2014 dan upaya mitigasi. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian nasional diantaranya perlambatan pertumbuhan ekonomi, dinamika nilai tukar rupiah, dinamika pasar saham, tekanan inflasi, defisit transaksi berjalan, dan dinamika pasar SBN yang dapat mengakibatkan risiko pada pengelolaan fiskal. Pemerintah telah memitigasi dengan menerapkan paket kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian. Terakhir, Noor Iskandarsyah menjelaskan mengenai kebijakan subsidi BBM tahun 2014.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang merupakan bagian akhir dari sosialisasi ini. Antusiasme para peserta sosialisasi sangat baik pada sesi ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan kepada para narasumber terutama terkait masalah kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015 dan kebijakan subsidi BBM yang diterapkan oleh pemerintah di tahun 2014. Sosialisasi akhirnya ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian doorprize kepada para peserta yang dapat menjawab pertanyaan seputar materi yang disampaikan serta tukar-menukar cindera mata antara perwakilan BKF dengan perwakilan SEF UGM.(mi/ip)






