Penelitian Usaha Pembibitan Sapi di Daerah Istimewa Yogyakarta
Jakarta (17/11): Dalam dua pemerintahannya (2004-2009 dan 2009-2014), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan untuk berswasembada daging, namun hingga akhir periode pemerintahannya, target swasembada tersebut belum tercapai. Fakta tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa yang terjadi di lapangan justru semakin jauh dari sasaran. Populasi ternak sapi menyusut hingga 15,30%, sementara itu harga daging sapi meningkat hingga 29,4%, padahal impor daging dan sapi meningkat lebih dari dua kali lipat. Kondisi ini mendorong beberapa peneliti di Pusat Kebijakan Pendapatan Negara (Purwoko, Triyono Utomo, Jusuf Munandar) dan peneliti di Pusat Kebijakan APBN (Sri Lestari Rahayu) berinisiatif untuk melakukan penelitian, yang difokuskan untuk melihat potret peternakan sapi di Indonesia, mengkaji permasalahan yang dihadapi, serta mengembangkan alternatif solusi yang mungkin dapat ditempuh oleh pemerintah agar swasembada daging dapat tercapai.
Dengan dukungan pendanaan dari Sekretariat Badan, tim kajian ini telah melakukan focus group discussion (FGD) dengan narasumber pakar sapi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Prof (Riset) Dr.Ir. Kusuma Diwiyanto MS) dan praktisi peternakan (Bp. Rochadi Tawaf) pada tanggal 8 Oktober 2014 di BKF. Ada beberapa catatan penting diperoleh dari hasil diskusi ini. Pertama,Sebagian besar populasi ternak sapi justru berada yang selalu mengalami kesulitan pakan di musim kemarau, utamanya di pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Sementara itu, dikawasan yang memiliki biomasa melimpah, seperti Kalimantan dan Sumatera relatif kosong ternak. Kedua, peternakan sapi, khususnya dibidang pembibitan, umumnya diusahakan oleh masyarakat hanya sebagai usaha sampingan. Pengelolaan usaha dilakukan seadanya (tidak profesional), sehingga menghasilkan ternak yang cenderung kurus, dan kurang produktif. Belum ada investor yang secara komersial menekuni usaha pembibitan sapi, karena untungnya relatif kecil, perputaran modal lambat, dan risiko tinggi. Investor lebih banyak menggeluti usaha penggemukan sapi, yang tingkat keuntungannya lebih tinggi, perputaran modal cepat, dan risiko rendah. Ketiga, karena banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang penggemukan, saat ini terjadi kelangkaan bibit sapi. Harga sapi bakalan meningkat tajam. Sapi usia lima bulan, yang pada tahun 2011 dijual dengan harga empat hingga lima juta rupiah, pada tahun 2014 laku dijual dengan harga sembilan hingga dua belas juta rupiah.
Untuk melihat lebih dekat permasalahan yang dihadapi pada usaha pembibitan sapi, pada tanggal 10-12 November 2014 tim peneliti melakukan penelitian lapang ke Jogyakarta, untuk melakukan in depth inverview dengan beberapa stakeholder terkait. Pada tanggal 10 November 2014 pagi, tim peneliti melakukan wawancara dengan Kepada Dinas Peternakan DIY, untuk mendiskusikan kebijakan pemerintah di sektor peternakan sapi. Pada siang hingga malam hari, wawancara dilanjutkan dengan menemui pakar, praktisi, dan sekaligus pembina kelompok ternak (drh. Agung Budiyanto, MP.,Ph.D), mengunjungi kelompok peternak Ngudi Makmur di Ngaglik Sleman, serta mengikuti diskusi antara mahasiswa kedokteran hewan UGM dengan kelompok peternak Karanglo di Ngaglik, Sleman, yang memaparkan hasil analisis tentang kondisi sapi milik para peternak yang diamati oleh mahasiswa yang sedang melakukan praktek lapangan. Diskusi berakhir jam 23.00.
Pada tanggal 11 November 2014, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan wawancara dengan kelompok peternak Lembu Anggoro, di Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, serta kelompok peternak Tri Manunggal di kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, yang merupakan sentra pembibitan ternak sapi potong peranakan brahman/Ongole. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui pola pengelolaan ternak di Kabupaten Gunung Kidul, terutama di musim kemarau.
Tanggal 12 November 2014, kunjungan dilanjutkan ke Unit Pengembangan Bibit dan Pakan Ternak DIY, untuk mengetahui proses pembuatan dan kualitas semen (sperma) untuk inseminasi buatan, dan diakhiri dengan kunjungan ke kelompok tani Mergi Andhini Makmur di desa Bolu, Margokaton, Seyegan, Sleman, untuk melihat potret kelompok peternak yang dinilai berhasil mengembangkan usaha pembibitan sapi.
Berdasarkan hasil diskusi dengan berbagai stakeholder dapat diperoleh beberapa gambaran tentang potret usaha pembibitan sapi yang dilakukan oleh masyarakat di DIY antara lain sebagai berikut. Pertama, Temuan hasil FGD yang menyatakan bahwa usaha pembibitan sapi umumnya diusahakan oleh masyarakat sebagai usaha sampingan ternyata memang betul adanya. Beternak sapi dilakukan hanya mengandalkan tenaga, tanpa mengeluarkan uang tunai. Para peternak rata-rata hanya memiliki 2-3 ekor sapi per keluarga. Anak sapi yang dihasilkan umumnya dijual untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga. Kedua, keberadaan kelompok peternak memiliki peran strategis. Di samping untuk kebersamaan dalam usaha, melalui kelompok para peternak bisa sharing pengalaman, menimba ilmu dari para ahli peternakan, dan pemerintah dapat memanfaatkan kelompok ternak sarana komunikasi dan sarana untuk menyampaikan berbagai kebijakan pemerintah, termasuk diantaranya untuk pemberian hibah dan kredit usaha. Selain itu, kelompok peternak juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk pengembangan usaha bersama, seperti usaha pengadaan pakan, usaha pengolahan pupuk organik,usaha pengembangan pertanian organik, dll. Ketiga, Sarana dan prasarana pendukung peternakan cukup memadai, termasuk diantaranya Pusat Kesehatan Hewan, dokter hewan, tenaga inseminator, ketersediaan straw / semen untuk inseminasi buatan. Keempat, fasilitas dari pemerintah cukup memadai, antara lain fasilitasi dalam hal bimbingan dan penyuluhan, subsidi untuk pengadaan straw / semen beku, insentif untuk sapi bunting, dan hibah induk sapi dalam rangka peningkatan populasi sapi dan usaha pengembangan pupuk organik. Kelima, Adanya hubungan yang dekat antara peternak dengan para akademisi, di mana para peternak mendapat bimbingan teknis berbasis sains, di sisi lain para mahasiswa mendapatkan tempat untuk praktek dengan kasus-kasus riil yang terjadi di lapangan. Keenam, Kendala yang jadi penghambat usaha pembibitan sapi potong di Propinsi DIY antara lain keterbatasan daya dukung wilayah untuk menghasilkan pakan ternak, keterbatasan kemampuan keluarga untuk mengelola jumlah sapi yang dipelihara, serta sulitnya membangun karakter peternak yang tangguh, yang mau melakukan budidaya pembibitan sapi dengan serius.


